Mengenang Karl Lagerfeld, Desainer Jenius yang Tak Suka Merokok

Kabar wafatnya desainer kawakan Karl Lagerfeld dalam sekejap menjalarkan duka. Ia adalah cerminan kekuatan alami, dengan kepribadian yang penuh teka-teki dan perspektif orisinal tentang mode.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 20 Februari 2019  |  08:38 WIB
Mengenang Karl Lagerfeld, Desainer Jenius yang Tak Suka Merokok
Karl Lagerfeld - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Kabar wafatnya desainer kawakan Karl Lagerfeld di usia 85 tahun dalam sekejap menjalarkan duka khususnya di panggung mode internasional.

Legenda fesyen ini dikenal karena pendekatannya yang penuh aspirasi, relevan, dan mutakhir. Dia adalah cerminan kekuatan alami, dengan kepribadian kuat yang penuh teka-teki dan perspektif orisinal tentang mode dan budaya pop.

Perancang busana kelahiran Jerman, yang pernah berlaku sebagai direktur kreatif untuk rumah mode Chanel dan Chloe, tersebut diketahui menjadi salah satu tokoh industri paling produktif hingga masa-masa akhirnya.

Gaya rambut berbuntut kuda dan kacamata hitamnya yang khas menjadikan pribadinya sebuah trademark, sosok unik tiada duanya yang langsung bisa dikenali di seluruh dunia.

Sederet pesohor mulai dari desainer Italia Donatella Versace hingga First Lady Amerika Serikat (AS) Melania Trump serentak menumpahkan ungkapan duka cita masing-masing.

Pier Paolo Righi, CEO rumah mode House of Karl Lagerfeld, menggambarkannya sebagai seorang "jenius kreatif".

“Dia meninggalkan warisan yang luar biasa sebagai salah satu desainer terhebat di era kita,” ungkap pernyataan yang dirilis House of Karl Lagerfeld, seperti diberitakan BBC.

Berkat Ibu

Karl Otto Lagerfeldt lahir di Jerman sekitar tahun 1930-an. Meski banyak beredar spekulasi soal tanggal kelahirannya, sebagian meyakini ia dilahirkan pada 10 September 1933.

Dilansir Vogue, Lagerfeld lahir di tengah keluarga berstrata sosial tinggi berdarah Jerman dan Swedia. Ia memiliki kakak perempuan bernama Martha Christiane dan kakak tiri, Thea, dari pernikahan pertama sang Ayah.

Lagerfeld terkesan memiliki hubungan yang sangat dekat dengan sang Ibu. Karena Ibunya pula ia tidak pernah menyentuh puntung rokok.

“Ibuku berkata “Jika kamu merokok, tanganmu selalu ditampakkan dan terlihat tidak terlalu bagus”. Aku tidak pernah merokok. Aku ingin menyenangkan Ibuku karena dia membenci sesuatu yang tidak terlihat bagus,” terang Lagerfeld.

Lagerfeldt kemudian sedikit mengubah nama aslinya menjadi Lagerfeld karena diyakini terdengar lebih komersial. Ia beremigrasi ke Paris di usia 14 tahun dan bekerja di rumah mode Fendi dan Chloe pada tahun 1960-an.

Sebelumnya, pada 1954, Lagerfeld berhasil memenangkan hadiah pertama dalam kontes yang diselenggarakan oleh asosiasi wol internasional, Secrétariat International de la Laine, untuk sketsa mantel.

Sketsa mantel rancangan Lagerfeld menarik perhatian Pierre Balmain, pendiri rumah mode fesyen asal Prancis Balmain, yang lalu menawarkan Lagerfeld untuk bekerja sebagai asistennya. Saat itu Lagerfeld baru berusia 17 tahun.

Nama sang desainer kemudian lebih dikenal karena asosiasinya dengan label asal Prancis, Chanel. Dia memulai karier panjangnya dengan rumah mode ini pada tahun 1983, satu dekade setelah sang pendiri, Coco Chanel, tutup usia.

Desainer Jenius

Segala goresan yang ditelurkan Lagerfeld membawa nafas baru untuk label tersebut. Ia menambah esensi kemewahan ke dalam desain setelan ciri khas Chanel.

Pada 1984, ia meluncurkan label dengan namanya sendiri 'Karl Lagerfeld' yang dikatakannya bakal menyalurkan “keseksian yang cerdas”.

Saking jeniusnya Lagerfeld soal mewujudkan ide, majalah fesyen mendunia Vogue sampai memahkotainya sebagai “interpreter tak tertandingi” pada 1997.

Kombinasi keunikan dan cita rasa fesyennya mengundang takjub banyak tokoh dunia seperti penyanyi Rihanna, Putri Caroline dari Monako, Managing Director Dana Moneter Internasiona (IMF) Christine Lagarde, dan aktris Julianne Moore.

Pada 2005, Lagerfeld menjual mereknya sendiri, yakni Lagerfeld Gallery dan Lagerfeld, kepada Tommy Hilfiger, meskipun tetap mempertahankan penuh keterlibatannya dalam hal desain.

Dia juga pernah berkolaborasi dengan peritel H&M, sebelum kemudian lebih mendalami kolaborasi dengan berskala lebih tinggi. Bakat visionernya kian berkembang di luar fesyen termasuk ilustrasi, fotografi, styling, dan penerbitan.

Pada Juni 2011, perusahaan asal Swedia, Orrefors, memperkenalkan koleksi barang pecah belah yang dirancang khusus oleh Lagerfeld. Berwujud dalam kaca yang bening berwarna hitam dan putih susu, koleksi tersebut merefleksikan estetika Lagerfeld.

“Yang paling aku nikmati adalah melakukan sesuatu yang belum pernah aku lakukan sebelumnya,” ucap Lagerfeld tentang koleksi gelas, vas, dan mangkuknya.

Namun ternyata ada juga yang tak disukainya. Pada suatu waktu, ia mengakui tidak suka menggunakan ponsel dan tidak ingin terganggu olehnya.

“Aku tidak menggunakan ponsel. Aku membaca, aku menulis, aku suka faks, aku suka menuliskan catatan. Aku tak suka berteleponan, aku pikir ini mengganggu. Ketika sedang membaca atau membuat sketsa, aku tidak ingin diganggu,” ungkapnya.

Pada 3 Juni 2011, ia dianugerahi penghargaan dari Gordon Parks Foundation, sebuah pengakuan atas karyanya sebagai desainer, fotografer, dan pembuat film.

“Saya sangat bangga, dan sangat berterima kasih, tetapi saya tidak pernah selesai berkarya,” kata Lagerfeld tentang kehormatan itu.

Masa-masa Akhir

Dasar memang tukang kerja, hanya terhitung satu bulan setelahnya yakni pada Juli 2011, Lagerfeld tahu-tahu dinyatakan akan merancang koleksi untuk department store Amerika Serikat, Macy's.

“Kolaborasi ini adalah semacam ujian bagaimana membuat pakaian semacam ini dengan kisaran harga tersebut [terjangkau]. Seperti yang Anda tahu, saya suka sekali co-branding,” jelas Lagerfeld dalam suatu kesempatan.

“Macy's adalah department store yang sempurna di AS, di mana semua orang dapat menemukan apa yang mereka cari tanpa menekan anggaran mereka.”

Pada 2017, ia merancang dua suite spektakuler di Hôtel de Crillon, Paris. Di antara penghargaan bergengsi yang pernah diraihnya adalah "Outstanding Achievement Award" dalam ajang British Fashion Awards dan John B. Fairchild Award oleh WWD.

Ia pula yang menjadi otak di balik desain hotel bintang 6 di Macau pada 2018.

Memasuki usia 80 tahun, ketika sebagian besar rekannya telah menarik diri dan pensiun dari apa pun yang mereka lakukan, Lagerfeld masih merancang rata-rata 14 koleksi baru setiap tahunnya, mulai dari gaun couture hingga busana umum.

“Gagasan selalu datang saat kau bekerja,” katanya di belakang panggung sebelum pertunjukan Fendi. Waktu itu Lagerfeld berusia 83 tahun.

Lagerfeld tanpa lelah mencurahkan segala kreativitasnya untuk koleksi-koleksi rumah mode milik LVMH, Fendi, dan labelnya sendiri di saat yang bersamaan, sampai ajal menjemputnya pada Selasa, 19 Februari 2019 di Paris, karena kanker pankreas.

“Lebih dari siapa pun yang saya kenal, ia mewakili jiwa mode, selalu bergerak, berwawasan ke depan dan penuh perhatian terhadap budaya kita yang terus berubah,” ujar pemimpin redaksi majalah Vogue Anna Wintour.

Auf Wiedersehen, Karl Lagerfeld.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
desainer

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top