Rumah Mikro, Solusi Punya Rumah untuk Orang Kota

Setidaknya ada dua alasan mengapa orang di perkotaan sulit mempunyai rumah. Pertama, lahan perkotaan yang makin sempit menyulitkan masyarakat untuk membangun hunian yang sesuai dengan keinginan. Kedua, tren gaya hidup masa kini yang lebih mengedepankan jalan-jalan atau traveling ketimbang menabung untuk kebutuhan papan tersebut.
Tika Anggreni Purba
Tika Anggreni Purba - Bisnis.com 20 Februari 2019  |  06:41 WIB
Rumah Mikro, Solusi Punya Rumah untuk Orang Kota
Perumahan Harvest City

Bisnis.com, JAKARTA - Setidaknya ada dua alasan mengapa orang di perkotaan sulit mempunyai rumah. Pertama, lahan perkotaan yang makin sempit menyulitkan masyarakat untuk membangun hunian yang sesuai dengan keinginan. Kedua, tren gaya hidup masa kini yang lebih mengedepankan jalan-jalan atau traveling ketimbang menabung untuk kebutuhan papan tersebut.

Hal ini menunjukkan bahwa pada sebagian besar orang, memiliki rumah yang besar dan luas tidak lagi menjadi prioritas. Akan tetapi bukan berarti dapat mengabaikan kebutuhan akan tempat tinggal.

Arsitek Akanoma Studio Yu Sing mengatakan ada alternatif kepemilikan rumah untuk menjawab kebutuhan masyarakat yaitu rumah mikro.

Konsep rumah mikro merupakan rumah yang dibangun di atas tanah yang ukurannya tidak luas, tetapi didesain sedemikian rupa sehingga memenuhi kebutuhan penghuninya.

“Tidak hanya menghemat dana pembangunan, biaya perawatan rumah juga semakin murah karena rumahnya kecil,” katanya

Manfaat lain, rumah yang dibangun dengan ukuran mini juga membuka kesempatan lebih besar untuk membuat ruang hijau di sekitar rumah.

Menurut Yu Sing ruang hijau di area rumah tentu lebih bermanfaat pada penghuninya ketimbang membuat area lain yang tidak terlalu perlu.

“Semakin banyak ruang hijau di rumah kita, rumah akan semakin nyaman dan ramah lingkungan,” kata Yu Sing.

Dia menilai saat ini banyak orang yang membangun rumah yang besar dan luas tetapi mengorbankan ruang hijau, taman, atau alam.

“Tetapi intinya rumah mikro itu lebih hemat lahan, tapak yang kita pakai sekecil mungkin tetapi tetap dapat menyediakan semua ruang layaknya rumah biasa,” kata alumnus teknik arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

Yu Sing mengatakan di Indonesia sudah dilakukan beberapa pembangunan rumah mikro.

“Di studio kami juga sudah dibuat rumah contoh, ukurannya hanya 1,2 x 1,8 meter, tetapi sudah ada ruang tidur, ruang kerja, dapur, dan ruang tamu,” katanya.

Dalam risetnya, Yu Sing menemukan bahwa pada tanah ukuran kecil sekitar 6x12 cm, dapat didesain menjadi tujuh rumah.

“Jadi ditumpuk ke atas, ada yang 2 lantai atau 3 lantai. Rumahnya bukan rumah kaveling, tetapi rumah bersama seperti rumah susun mini,” tuturnya. Rumah mikro dapat dibangun layaknya rumah biasa dengan beton, baja, atau kayu.

Saat ini rumah mikro memang belum menjadi tren karena masyarakat belum teredukasi mengenai alternatif baru ini. Apalagi, kata Yu Sing, pada masa kini generasi millenial lebih memilih untuk menyewa. Padahal sebenarnya dana untuk menyewa tidak jauh berbeda dengan dana membangun rumah mikro.

“Katakanlah uang indekos Rp2juta sebulan, selama 4 tahun sudah terkumpul Rp96 juta dan itu cukup membuat satu rumah mikro,” katanya.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perumahan, kredit rumah

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top