Jam Kerja Terlalu Panjang Bikin Perempuan Rentan Depresi

Bekerja selama lebih dari sembilan jam sehari dapat membuat perempuan berisiko depresi. Sementara pada pria risiko ini lebih kecil.
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 28 Februari 2019  |  14:36 WIB
Jam Kerja Terlalu Panjang Bikin Perempuan Rentan Depresi
Ilustrasi - Digitaltrends

Bisnis.com, JAKARTA - Bekerja selama lebih dari sembilan jam sehari dapat membuat perempuan berisiko depresi. Sementara pada pria risiko ini lebih kecil.

Perempuan yang bekerja dengan jam kerja ekstra panjang, lebih dari 55 jam seminggu, memiliki gejala depresi 7,3% lebih banyak daripada wanita yang bekerja dengan standar 35-40 jam seminggu.

Namun, hal yang sama tidak terjadi pada pria, demikian sebuah studi mengungkapkan.

"Ini adalah penelitian observasional. Meskipun kami tidak dapat menentukan penyebab pastinya, kami tahu banyak wanita menghadapi beban tambahan melakukan bagian yang lebih besar dari pekerjaan rumah tangga daripada pria, yang mengarah pada total jam kerja yang luas, menambah tekanan waktu dan tanggung jawab yang luar biasa," kata ketua peneliti Gill Weston, mahasiswa pascadoktoral di University College London seperti dilansir Timesofindia.com.

"Selain itu, wanita yang bekerja di akhir pekan dan bergaji rendah, memiliki tingkat depresi yang lebih tinggi," kata Weston.

Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Epidemiologi dan Kesehatan Masyarakat ini melibatkan 11.215 pria yang bekerja dan 12.188 wanita yang bekerja.

Studi ini juga menunjukkan bahwa bekerja di akhir pekan dikaitkan dengan risiko depresi yang lebih tinggi di antara laki-laki (3,4 persen) dan perempuan (4,6 persen).

Dua pertiga pria bekerja pada akhir pekan dibandingkan dengan separuh wanita. Mereka yang bekerja di semua atau sebagian besar akhir pekan lebih cenderung berada di pekerjaan dengan keterampilan rendah dan kurang puas dengan pekerjaan dan penghasilan mereka daripada mereka yang hanya bekerja pada hari kerja atau akhir pekan.

 "Kami berharap temuan kami akan mendorong pengusaha dan pembuat kebijakan untuk berpikir tentang cara mengurangi beban dan meningkatkan dukungan bagi perempuan yang bekerja berjam-jam atau tidak teratur - tanpa membatasi kemampuan mereka untuk bekerja ketika mereka menginginkannya," kata Weston.

 

 

"Praktik kerja yang lebih simpatik dapat membawa manfaat baik bagi pekerja maupun bagi pengusaha dari kedua jenis kelamin," sarannya.
 
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Depresi

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top