Rokokmu Dapat Picu Kanker Paru

Sudah cerita lama bahwa faktor risiko terbesar sebagai penyebab kanker paru adalah merokok. Sayangnya, kenyataan bahwa tingkat kematian akibat kanker paru yang begitu tinggi rupanya tidak menambah minat seorang perokok untuk segera berhenti.
Tika Anggreni Purba | 01 April 2019 12:30 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Sudah cerita lama bahwa faktor risiko terbesar sebagai penyebab kanker paru adalah merokok. Sayangnya, kenyataan bahwa tingkat kematian akibat kanker paru yang begitu tinggi rupanya tidak menambah minat seorang perokok untuk segera berhenti.

Banyak perokok yang yakin bahwa dampak rokok tidak sama pada semua orang. Sebagian orang merasa bahwa tubuhnya cukup kuat untuk menahan dampak rokok yang tidak hanya menyebabkan kanker paru saja, tetapi berbagai kerusakan organ lainnya.

“Angka kejadian kanker paru sangat tinggi di Indonesia, padahal sebenarnya kanker ini dapat dicegah dengan menghilangkan faktor risikonya yakni rokok,” kata dokter spesialis penyakit paru RS Persahabatan Jakarta Sita Laksmi Andarini belum lama ini.

Faktanya kejadian kanker paru 13,6 kali lebih berisiko dialami oleh perokok dibandingkan dengan nonperokok.

Sita mengatakan bahwa tadinya kanker paru sering terjadi pada pria ketimbang perempuan. Hal ini sangat mungkin terkait dengan jumlah perokok laki-laki memang lebih banyak dari perempuan.

Akan tetapi data baru kejadian kanker paru di Amerika Serikat pada 2019, berdasarkan data CA Cancer J Clin 2019, ditemukan bahwa prevalensi kanker paru pada perempuan dan laki-laki ternyata hampir setara. Artinya, penyakit yang menyerang paru ini mesti diwaspadai semua orang.

Dalam catatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), kanker paru bukanlah kanker yang berasal dari penyebaran sel kanker organ lain.

“Kanker paru biasanya berasal dari epitel bronkus,” kata Sita lagi.

Diagnosis Kanker Paru

Diagnosis kanker paru umumnya dibedakan dalam kanker paru jenis karsinoma sel kecil, karsinoma bukan sel kecil, dan adenokarsinoma. Terapi akan disesuaikan dengan jenis kanker paru tersebut.

Kanker paru bergejala cukup kentara yakni batuk berkepanjangan, batuk berdahak, suara serak, nyeri di dada, tidak nafsu makan, terjadinya kelainan pada jari (clubbing of the finger),dan berat badan turun.

Walau gejalanya kentara, diagnosis harus dilakukan dengan pemeriksaan yang serangkai, baik pemeriksaan fisik maupun laboratorium. Pemeriksaan kanker paru biasanya dilakukan dengan pemeriksaan dahak, biopsi paru, brokoskopi, dan pemeriksaan kelenjar.

Sama seperti kanker lainnya, tingkat keparahan kanker paru dapat dilihat dari stadiumnya. Pada penderita kanker paru stadium 1-2A umumnya dapat diterapi dengan pembedahan alias operasi. Akan tetapi, pada kanker paru stadium di atasnya, pengobatan dilakukan dengan terapi yang lebih kompleks.

“Terapi kanker paru umumnya terdiri dari pembedahan, kemoterapi, radioterapi, dan imunoterapi. Tetapi kanker yang sudah menyebar ke organ lain, tidak mungkin dibedah sehingga diberikan terapi target atau imunoterapi,” kata Sita.

 

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kanker, kanker paru-paru

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup