Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Operasi Bariatrik Untuk Tangani Obesitas Ekstrem

Penanganan obesitas dapat dilakukan melalui operasi manipulasi ukuran lambung alias bariatrik.
Tika Anggreni Purba
Tika Anggreni Purba - Bisnis.com 05 April 2019  |  07:47 WIB
Ilustrasi obesitas - Istimewa
Ilustrasi obesitas - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA—Penanganan obesitas dapat dilakukan melalui operasi manipulasi ukuran lambung alias bariatrik.

Operasi bariatrik menawarkan janji penurunan berat badan yang sangat drastis. Akan tetapi, operasi ini tidak diperuntukkan bagi semua orang. Hanya orang-orang dengan obesitas ekstrem yang dianjurkan untuk melakukan operasi.

Handy Wing, dokter spesialis bedah dari Omni Hospitals Alam Sutera Tangerang mengatakan orang yang hanya sedikit kelebihan berat tidak perlu melakukan operasi ini.

“Hanya untuk obesitas ekstrem yang IMT-nya melebihi 37,5,” kata Handy. Syarat lainnya adalah pasien tersebut tidak memiliki masalah jantung dan paru-paru, dan tentu saja lambung masih dalam keadaan sehat.
Dokter spesialis bedah konsultan bedah digestif Peter Ian Limas dari RS Pondok Indah mengatakan sebelum melakukan tindakan, pasien akan diperiksa terlebih dahulu melalui pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan jantung, USG, dan endoskopi untuk melihat kondisi lambung.

“Pemeriksaan ini akan mendukung penentuan jenis bariatrik apa yang perlu dilakukan untuk pasien,” kata Peter. Selain itu, pasien wajib diet rendah kalori, setidaknya 10 hari sebelum operasi. Serangkaian proses bariatrik juga harus dilakukan setelah konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi.

Baik Peter maupun Handy mengatakan bahwa operasi bariatrik dapat dilakukan dengan teknik minimal invansive surgery,yang tidak harus membedah perut pasiien. “Tindakannya juga tidak lama, hanya sekitar satu jam saja. Pasien juga hanya perlu rawat inap 1-2 hari,” ujar Handy.

Dia menjelaskan proses pemotongan lambung dilakukan dengan memasukkan alat laparaskopi ke dalam perut, kemudian lambung dipotong dan bagian yang terbuka langsung dijahit pada saat itu juga. “Metode penjahitannya tidak dengan benang, tetapi berupa stapler,” kata Handy lagi.

Pasca operasi, pasien disarankan untuk tetap tekun dalam memenuhi kebutuhan gizi. Karena, dengan kapasitas lambung yang sedikit, nutrisi yang masuk dalam tubuh juga sedikit.

“Pasien memerlukan suplemen agar tidak kekurangan gizi,” ujar Handy.

Biasanya, apabila pasien tetap tekun mengikuti anjuran dokter khususnya dalam pengaturan makan dan olahraga, berat badan pasien bisa normal setelah 1-2 tahun. Hal ini dapat terjadi karena dalam seminggu, pasien dapat kehilangan berat badan 1-3 kilogram.

Handy mengatakan bahwa penanganan obesitas sejatinya adalah perubahan gaya hidup yang berkelanjutan. Operasi bariatrik hanya sebagai pilihan apabila ternyata obesitas makin tak terkendali

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kegemukan
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top