Di Bawah Robert Wilson, I La Galigo Tampil 4-7 Juli 2019

Sejak 2003, I La Galigo telah dipentaskan di berbagai negara di dunia seperti Singapura, Belanda, Italia, juga Spanyol. Hal tersebut secara sederhana telah membuktikan bahwa seni budaya nusantara eksis di dunia internasional.
Tika Anggreni Purba
Tika Anggreni Purba - Bisnis.com 05 April 2019  |  21:09 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Pertunjukan teater kelas dunia yang diproduksi di Indonesia bertajuk I La Galigo yang pernah ada di bawah arahan salah satu sutradara teater terbaik di dunia yaitu Robert Wilson siap manggung lagi untuk menyapa pencinta seni peran.

Sejak 2003, I La Galigo telah dipentaskan di berbagai negara di dunia seperti Singapura, Belanda, Italia, juga Spanyol. Hal tersebut secara sederhana telah membuktikan bahwa seni budaya nusantara eksis di dunia internasional.

Tahun lalu, I La Galigo sempat dipentaskan di perhelatan IMF-World Bank Group 2018 di Bali. Pementasan di Bali merupakan pertunjukan pertama kembali setelah 8 tahun I La Galigo vakum. Itulah sebabnya pada saat itu pertunjukan ini berjudul Revival I La Galigo.

Kali ini, Ciputra Artpreneur bekerja sama dengan Yayasan Bumi Purnati segera mempersembahkan pertunjukan I La Galigo di teater Ciputra Artpreneur pada 4-7 Juli 2019. Tidak hanya menjanjikan pertunjukan spektakuler, tetapi pentas kali ini diharapkan membangkitkan kembali semangat pertunjukan teater istimewa pada generasi baru.

I La Galigo merupakan adaptasi dari Sureg Galigo yang bercerita tentang mitos penciptaan suku Bugis yang terekam dalam syair bahasa Bugis kuno. Puisi panjang itu kemudian dipilih dan dipilah, kemudian diadaptasi ke dalam naskah pementasan teater. I La Galigo menampilkan kisah perjalanan, petualangan, peperangan, kisah cinta terlarang, upacara pernikahan yang rumit, dan juga pengkhianatan.

Walau kisahnya terjadi pada masa lalu, ternyata ceritanya masih sangat menarik, dinamis, dan relevan dengan kehidupan modern. Inilah kekuatan dari naskah I La Galigo. Rhoda Grauer yang mengadaptasi naskah I La Galigo mengatakan bahwa cerita asal Sulawesi Selatan ini berbeda dengan cerita klasik lainnya.

Menurutnya, banyak versi cerita dari I La Galigo, mulai dari versi panjang dan versi singkat. "Jadi kami memilih satu versi yang khusus untuk dipentaskan," katanya.

Tanri Abeng, pembina Yayasan I La Galigo mengatakan bahwa bakal terjadi pelestarian budaya dan seni Indonesia melalui pertunjukan hebat I La Galigo yang bahkan bertahan hingga kini. Dia mengingat-ingat bahwa pada saat I La Galigo dipentaskan di New York dan sebanyak 2.000 kursi penonton penuh. “Pertunjukan itu mendapatkan standing ovation.”

Dia memuji kepiawaian sutradara Robert Wilson dalam menampilkan karya I La Galigo secara spektakuler. Buktinya, pertunjukan teater ini mendapat sambutan luar biasa dari dunia internasional.

“Saya harap pertunjukan di Jakarta Juli nanti akan sama suksesnya dengan pertunjukan sebelumnya, dan jangan sampai dilewatkan oleh pencinta seni,” ujarnya.

Presiden direktur Ciputra Artpreneur Rina Ciputra Sastrawinata mengatakan bahwa dia memilih I La Galigo untuk dipentaskan lagi karena dia sendiri jatuh cinta pada pertunjukan ini.

“Dari segi cerita menarik, dari segi produksi kelas dunia,” tuturnya.

Dia mengaku bahwa I La Galigo merupakan pementasan yang sangat megah dan luar biasa dengan produksi yang sangat baik. Baginya, suatu kebanggaan bisa menampilkan kembali karya hebat itu di teater skala internasional di Jakarta.

Hasil diskusinya dengan produser Restu Imansari Kusumaningrum membuahkan hasil. Pihaknya dan yayasan yang dibina Restu sepakat menampilkan kembali I La Galigo.

Rina berharap bahwa penonton akan mengalami pengalaman yang berbeda melalui pertunjukan ini. Apalagi target penonton yang diharapkan hadir melihat pertunjukan ini adalah kaum milenial.

Restu mengatakan bahwa setelah perjalanan panjang itu, kini I La Galigo bukan lagi milik orang Sulawesi Selatan, tetapi milik bangsa Indonesia. “I La Galigo harus dilanjutkan terus karena bagian dari kekayaan bangsa kita,” katanya.

Dengan persiapan yang telah dilakukan sejak masa Revival of I La Galigo, maka selanjutnya memudahkan I La Galigo untuk ditampilkan di Jakarta. Latihan dilakukan di beberapa tempat di Jawa Tengah, Jakarta, dan Makassar. “Durasi pertunjukan 2 jam 15 menit, dengan 50 orang tim termasuk pemusik, dan kru semuanya orang Indonesia.”

Menurut dia, dalam proses persiapan juga terjadi alih keterampilan. “Tanpa disadari seluruh tim makin mahir, istilahnya makin pulen sehingga hasilnya makin siap dan mantap.”

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
teater, Ciputra Artpreneur

Sumber : Bisnis Indonesia Weekend

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top