Ciputra Artpreneur Fokus Sajikan Teater Bertema Kedaerahan, I La Galigo yang Terdekat

Ciputra Artpreneur memfokuskan suguhan teater bertema kedaerahan selama 2019 dengan salah satunya menghadirkan pertunjukan kelas dunia I La Galigo yang ditargetkan mendatangkan 4.000 penonton.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 05 April 2019  |  07:10 WIB
Ciputra Artpreneur Fokus Sajikan Teater Bertema Kedaerahan, I La Galigo yang Terdekat
Salah satu pementasan I La Galigo yang pernah tersaji di Taman Ismail Marzuki pada 2016. - Antara/Dodo Karundeng

Bisnis.com, JAKARTA – Ciputra Artpreneur memfokuskan suguhan teater bertema kedaerahan selama 2019 dengan salah satunya menghadirkan pertunjukan kelas dunia I La Galigo yang ditargetkan mendatangkan 4.000 penonton.

Pertunjukan teater I La Galigo merupakan hasil kerja sama dengan Yayasan Bali Purnati yang digelar selama 4 hari yakni pada 4 - 7 April 2019. Tiket pertunjukan dibanderol mulai Rp475.000 hingga Rp1,8 juta dan mulai dijual ke publik.

Head of Operations Ciputra Artpreneur Rika Octaviany mengatakan sejak pusat seni ini hadir pada 2014, pertunjukan teater yang kerap diangkat adalah tema broadway sekelas teater di New York, Amerika Serikat, seperti Beauty and The Beast dan Shrek.

Rika menilai masyarakat Indonesia lazim dengan tema-tema tersebut. Pengunjung pun didominasi oleh rombongan keluarga.

Pada tahun ini, Ciputra Artpreneur berupaya untuk memperluas segmen pasar, selain juga mendorong agar konten lokal lebih diterima publik.

Menurutnya, konten lokal selama ini lebih cenderung diapresiasi orang asing. Salah satu contohnya pertunjukan I La Galigo yang sudah biasa dipertontonkan ke luar negeri dan juga menjadi suguhan apik selama IMF-WB 2018 di Denpasar, Bali.

"Tahun ini kita mau beralih ke [pertunjukan dengan tema] lokal, bahwa lokal itu bagus dan tidak kalah dengan luar, tetapi ini memang tantangan buat kita," katanya kepada Bisnis pada Kamis (4/4/2019).

Menurutnya, pertunjukan teater I La Galigo tidak hanya kuat dari segi budaya dan cerita. Namun, I La Galigo menjadi pertunjukan kategori kelas dunia dengan lighting dan tata panggung yang mumpuni.

I La Galigo merupakan pementasan yang naskahnya diadaptasi dari Sureq Galigo. Sureq Galigo adalah mitos penciptaan suku Bugis yang terabadikan lewat tradisi lisan dan naskah-naskah berupa puisi berbahasa Bugis Kuno. Puisi ini terdiri atas lima sajak yang menceritakan kisah asal-usul manusia.

Dalam versi adaptasi pertunjukan teater, Sureq  Galigo akan menggambarkan petualangan, peperangan, kisah cinta terlarang, upacara pernikahan rumit, dan pengkhianatan.

Dalam pertunjukan biasanya, I La Galigo dipentaskan dalam 6 jam. Namun, khusus pada pementasan di Ciputra Artpreneur, akan dibawakan selama 2 jam tanpa menghilangkan makna cerita Sureq Galigo.

"Padahal I La Galigo merupakan warisan budaya tetapi belum banyak orang yang tahu," sebutnya.

Rika optimistis jumlah pengunjung sesuai dengan target yakni 4.000 penonton selama gelaran 4 hari. Penonton akan disuguhkan cerita menarik, dinamis, dan masih memiliki relevansi dengan kehidupan modern.

Dia berencana setelah gelaran ini, akan ada pertunjukan konten lokal lain yang tampil di Ciputra Artpreneur. Sudah ada beberapa pertunjukan konten lokal yang berkesempatan tampil di Ciputra Artpreneur seperti Teater Koma dan Opera Danau Toba.

"Ini saatnya kita angkat konten lokal tetapi masih bertaraf internasional," kata Rika.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
teater, Hotel Serela Lagaligo

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top