Kebangkitan Sneakers Lokal, Hoki Pakai Nama Asing

Berdasarkan data dari Statista—lembaga survei konsumen asal Jerman—pendapatan industri alas kaki di Indonesia pada tahun ini diproyeksikan mencapai US$438 juta.
Dewi Andriani & Syaiful Millah | 13 April 2019 10:58 WIB
Sepatu Pijak Bumi - pijakbumi.com

Bisnis.com, JAKARTA -- Bagi para penggemar sneakers, sepatu kets ini seperti barang seni dan layak jadi barang koleksi. Sebagian juga dijual dengan harga tinggi. Tidak heran banyak dari mereka yang rela merogoh kocek dalam-dalam hingga puluhan juta hanya untuk sepasang sepatu.

Tren penggemar sneakers ini turut mendorong pertumbuhan di industri alas kaki. Melansir situs SportsOneSource, pasar sneakers internasional tumbuh hingga 4% sejak 2014 dengan nilai US$55 miliar.

Berdasarkan data dari Statista—lembaga survei konsumen asal Jerman—pendapatan industri alas kaki di Indonesia pada tahun ini diproyeksikan mencapai US$438 juta.

Istilah sneakers mulai berkembang dan memiliki banyak nama di dunia. Para kolektor memberikan beragam istilah untuk sepatu yang bersol karet dan berbahan kanvas ini, mulai dari trainer, kicks, runner atau tackies. Tren ini berkembang dan memunculkan subkultur baru utamanya bagi generasi muda di berbagai belahan dunia.

Tren sneakers di Indonesia juga menarik bagi pelaku usaha dengan memunculkan merek lokal, seperti Saint Barkeley dan Nah Projects yang kemudian dipopulerkan oleh Presiden Joko Widodo.

Geliat sneakers lokal ini untuk bertahan di tengah himpitan brand-brand global seperti Nike, Adidas, Puma, Asics dan lainnya menjadi menarik untuk dikupas.

Perjuangan pebisnis sepatu santai merek lokal untuk mendapatkan tempat di hati pencinta sneakers ternyata tak mudah, mengingat konsumen lebih akrab dengan label sepatu asing.

Tidak mengherankan jika pelaku bisnis nasional memilih mematenkan label mereka dengan nama barat, antara lain League, Nah Project, dan Saint Barkley.

Upaya tersebut ternyata turut mendongkrak pamor lebel lokal. Ditambah dengan kualitas sneakers lokal yang tak kalah dibandingkan dengan produk asing.

Bagaimana juga, para produsen sepatu santai lokal ini menyadari bahwa untuk mengambil segmen pasar yang telah dikuasai merek-merek global itu harus menerapkan cara-cara yang tidak biasa.

Munculnya kesadaran untuk memberikan desain sepatu yang elok sebagai kekuatan produk, trik pemasaran yang menarik, hingga pengembangan jaringan yang efektif dan optimalisasi pemasaran dalam jaringan menjadi bekal penting bagi para pebisnis di sektor ini.

Tanpa disadari, hal-hal tersebut berhasil mengangkat produsen sneakers lokal membangun panggung di kalangan pecinta sneakers di Indonesia dan mancanegara.

 Baca liputan lengkapnya di Bisnis Indonesia Weekend edisi Minggu 14 April 2019

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
alas kaki, Sneakers

Sumber : Bisnis Indonesia Weekend

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top