Pasangan Sering Bertengkar Cenderung Lakukan Kekerasan pada Anak

Selama ini banyak orang yang berpikir bahwa kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) hanya terjadi pada level suami istri saja.
Tika Anggreni Purba
Tika Anggreni Purba - Bisnis.com 24 April 2019  |  13:58 WIB
Pasangan Sering Bertengkar Cenderung Lakukan Kekerasan pada Anak
Ilustrasi kekerasan seksual pada anak - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Selama ini banyak orang yang berpikir bahwa kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) hanya terjadi pada level suami istri saja.

Padahal, penelitian membuktikan bahwa orang tua yang sering terlibat dalam pertengkaran dan kekerasan pada pasangannya cenderung agresif pula pada anak-anaknya.

Dalam penelitian dari Penn State University Amerika Serikat yang telah dipublikasikan dalam Journal of Family Psychology 2019, terlihat bahwa kekerasan atau sikap kejam dalam keluarga berdampak jangka panjang pada anak.

Anak menjadi ketakutan tetapi sekaligus juga dapat membentuk sikap agresif di masa depan ketika dia dewasa.

"Penelitian ini untuk mengetahui bagaimana sikap agresif atau kekerasan terhadap anak dan terhadap pasangan ternyata dapat terjadi pada saat yang sama," kata Amy Marshall, profesor psikologi di Penn State University.

Studi ini juga menemukan bahwa anak-anak yang sering melihat KDRT pada orang tuanya lebih mungkin terlibat dalam konflik dengan orangtua. 

Konsekuensi

Konsekuensinya lebih parah lagi apabila mereka mencoba menyelesaikan masalah atau mencoba mendamaikan orang tua.

“Sebelumnya, para peneliti berpikir bahwa anak-anak bereaksi negatif terhadap KDRT  karena mengancam keamanan mereka dalam keluarga misalnya anak-anak takut orang tua mereka akan bercerai,” katanya lagi.

Tetapi penelitian terbaru ini ternyata menunjukkan bahwa anak-anak juga sebetulnya takut kalau orangtuanya melakukan kekerasan terhadap dia.

Penelitian dilakukan dengan 4 kali wawancara telepon terhadap 203 orang tua yaitu 109 ibu dan 94 ayah. Berdasarkan tanggapan mereka, para peneliti menganalisis kejadian KDRT yang mungkin sedang terjadi dalam keluarga.

Studi ini mendefinisikan agresi sebagai perilaku kekerasan fisik mencakup mencubit, menampar, memukul, dan menendang. Sementara itu kekerasan psikologis merupakan perilaku seperti menghina, berteriak, dan mengancam.

Di antara semua peserta, para peneliti menemukan 463 insiden KDRT yang relatif parah pada 73 keluarga. Peneliti juga menemukan bahwa dari 463 insiden ada 163 kejadian di mana ada anak-anak yang menyaksikan KDRT tersebut. Dari 163 insiden ini, 40 di antaranya terjadi pula kekerasan orang tua terhadap anak.

"Kita tahu bahwa ada orang tua yang melakukan kekerasan satu sama lain, dan ternyata juga sangat mungkin melakukan hal yang sama terhadap anak-anak mereka, dan temuan kami menunjukkan hal itu bisa terjadi bersamaan," kata Marshall.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat meredam kekerasan dalam keluarga. Setidaknya orang tua harus memikirkan kondisi dan keadan anaknya ketika ingin melakukan tindakan kekerasan. Setop KDRT sekarang juga!  

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
anak, psikologi, kdrt, kekerasan anak

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top