Saat Bayi Tak Merespons Suara

Tuli yang sangat berat bisa terjadi sejak lahir. Inilah yang disebut dengan tuli kongenital, yaitu gangguan pendengaran berat yang terjadi karena faktor bawaan lahir dan juga infeksi.
Tika Anggreni Purba
Tika Anggreni Purba - Bisnis.com 25 April 2019  |  15:07 WIB
Saat Bayi Tak Merespons Suara
Iustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Tuli yang sangat berat bisa terjadi sejak lahir. Inilah yang disebut dengan tuli kongenital, yaitu gangguan pendengaran berat yang terjadi karena faktor bawaan lahir dan juga infeksi. 

Faktanya sebanyak 466 juta orang di dunia mengalami gangguan pendengaran. Dari jumlah tersebut, 34 juta orang di antaranya dialami oleh anak-anak. Tingginya angka kejadian gangguan pendengaran anak ini perlu diperhatikan lebih serius oleh orang tua.

Hal ini terkait dengan ketidakmampuan anak-anak untuk memberitahu keluhan yang dialaminya.  Gangguan pendengaran pada anak akan lebih mudah dipahami apabila kita mengenal anatomi telinga.

Dokter spesialis THT-KL Zainal Adhim menjelaskan bahwa telinga manusia terdiri dari telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam. Telinga manusia berhubungan langsung dengan hidung yang dihubungkan oleh tuba eustachius.

Bagian telinga luar terdiri dari daun telinga, liang telinga, hingga membran timpani atau gendang telinga. Pada bagian telinga dalam terdapat rumah siput dan saraf-saraf pendengaran.

Jenis gangguan tuli kongenital terjadi di telinga bagian dalam. Pada kejadian tuli kongenital, bayi sudah tidak bisa mendengar atau pendengarannya menurun sejak dia dilahirkan.

“Gejalanya kadang baru terlihat saat anak belum dapat berbicara sesuai usianya alias mengalami delayed speech,” kata dokter spesialis THT-KL Hably Warganegara dari Rumah Sakit Pondok Indah-Bintaro Jaya Jakarta. 

Karena gejala tidak terlihat sejak lahir, orangtua banyak kecolongan di sini. Mereka cenderung menunggu hingga anak berusia lebih 1 tahun untuk memeriksakan kesehatan telinga anak-anaknya. 

Atau, mereka mulai curiga ketika anak sudah berusia 2 tahun tetapi belum bisa juga berbicara. Mendapati keadaan itu baru orang tua datang ke dokter. “Kalau sudah begitu biasanya sudah terlambat,” kata Hably. 

Hambat Tumbuh Kembang

Tuli sejak lahir tidak hanya menghambat pendengaran anak, tetapi juga tumbuh kembangnya. Anak mengalami problem dalam berbicara dan juga gangguan sentral pada otaknya.

Hably menganjurkan kepada orang tua yang memiliki anak terlambat berbicara, sebaiknya juga mencurigai masalahnya pada gangguan telinga. Selama ini banyak orang tua yang tidak menyadari hal ini karena menganggap gangguan bicara adalah masalah psikis.

Angka audiogram pendengaran normal adalah angka 0-25, sedangkan lebih dari angka itu berarti seseorang mengalami gangguan pendengaran. Biasanya tuli kongenital berada pada angka audiogram 70-120.

 “Pada kondisi ini, suara pesawat, ledakan keras, bahkan suara bom sekalipun dia tidak mendengarnya, kalaupun mendengar suaranya kecil sekali,” kata dokter berkacamata itu. 

Secara kognitif anak akan mengalami terkendala dalam tumbuh kembang. Psikologis anak juga dapat terganggu ketika dia mulai besar dan mendapati dirinya berbeda dengan orang lain. 

Faktor risiko tuli kongenital cukup beragam. Pertama, ada riwayat keluarga yang mengalami gangguan pendengaran bawaan seperti gangguan saraf pendengaran dari lahir. Kedua, anak bisa mengalami tuli kongenital karena infeksi TORCH pada saat kehamilan. “Rubella misalnya, waktu ibunya hamil terserang virus ini, virus dapat menyebabkan perkembangan telinga janin terganggu,” kata Hably lagi. 

Pada ibu hamil yang menggunakan obat-obatan ototoksik seperti TBC dan malaria, juga dapat menyebabkan saraf pendengaran janin kurang baik. Anak yang memiliki riwayat kelahiran prematur dan berat badannya rendah (< 1.500 gram), sesak napas, dan tidak menangis saat lahir, umumnya bisa mengalami tuli kongenital ini. 

Ada juga anak yang mengalami tuli tidak sejak lahir, tetapi usia dini seperti umur 2 tahun misalnya, gara-gara mengalami malaria. Ternyata pengobatan malaria itu bisa merusak pendengarannya juga. 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kesehatan, bayi

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup