Vape Dianggap Lebih Berbahaya dari Rokok, Sama-sama Perusak Pembuluh Darah

Selama ini orang merasa bahwa merokok lebih berbahaya bagi paru-paru, bukan jantung. Faktanya, salah satu faktor yang merusak paru adalah darah yang sudah teracuni nikotin dan zat berbahaya lainnya dari rokok.
Tika Anggreni Purba
Tika Anggreni Purba - Bisnis.com 06 Mei 2019  |  13:35 WIB
Vape Dianggap Lebih Berbahaya dari Rokok, Sama-sama Perusak Pembuluh Darah
Pekerja menata botol berisi cairan rokok elektrik (vape) di Jakarta, Senin (1/10/2018). - ANTARA/Dhemas Reviyanto

Bisnis.com, JAKARTA – Penerimaan masyarakat terhadap rokok cukup beragam. Buktinya, meskipun telah banyak beredar imbauan yang meminta masyarakat berhenti merokok, kenyataannya rokok tetap laku. Perokok juga tidak berkurang walau ancaman serius terkena penyakit akibat rokok cukup mengerikan.

“Hal ini terkait dengan berkembangnya bentuk rokok itu sendiri. Sekarang, orang bahkan bisa mengisap rokok yang tidak perlu dibakar dan dengan aroma asap yang tidak bau pula,” ujar dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Ario Soeryo Kuncoro dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (Perki).

Menurutnya, banyak orang yang menilai bahaya rokok menjadi lebih sederhana ketika rokok tak lagi menghasilkan asap yang bau dan tidak harus dibakar. Padahal, poin penting dari bahaya rokok adalah kandungan nikotin, bukan saja soal asap atau aromanya.

“Vaping pada kaum muda, misalnya, membuat mereka merasa lebih nyaman dan tidak mengganggu orang sehingga orang juga lebih menerima keberadaan rokok itu,” katanya.

Hal ini juga membuat para perokok pasif menjadi lebih nyaman, tetapi tidak sadar terpapar faktor risiko penyakit.

Bahkan, saat ini dengan berkembangnya rokok elektrik banyak orang muda yang menganggap merokok menjadi lebih keren. Padahal, menurut Ario, jenis rokok yang seperti ini justru lebih tinggi kadar nikotinnya.

Hal ini karena tidak berbau dan molekulnya lebih kecil, racun itu lebih mudah masuk ke dalam saluran pernapasan.

Merusak Pembuluh Darah

Ario bukan sembarangan dalam menganjurkan penghentian kebiasaan merokok. Walau banyak orang tidak takut akan dampak rokok, nyatanya rokok memang berbahaya bagi kesehatan khususnya merusak pembuluh darah yang berujung pada penyakit jantung.

Selama ini orang merasa bahwa merokok lebih berbahaya bagi paru-paru, bukan jantung. Faktanya, salah satu faktor yang merusak paru adalah darah yang sudah teracuni nikotin dan zat berbahaya lainnya dari rokok.

Darah yang teracuni itu pula yang merusak fungsi pembuluh darah dan sel-sel jantung.

Ario mengatakan bahwa nikotin dapat merusak lapisan pembuluh darah manusia. Kerusakan itu dapat memicu strok maupun sakit jantung. Ketika seseorang mengisap 1—4 batang rokok setiap hari risiko mengalami serangan jantung meningkat 2 kali. Pada orang yang candu sekali, misalnya, mengisap lebih 20 batang rokok sehari berisiko mengalami serangan jantung 15 kali.

Racun rokok juga dapat menurunkan kadar kolesterol baik yang melindungi jantung. Penumpukan lemak juga dapat terjadi pada pembuluh darah arteri dan arteri koroner pada tubuh si perokok.

Inilah yang memicu penyakit jantung koroner. Penyempitan, penyumbatan, dan kerusakan pembuluh darah akhirnya memicu penyakit jantung seperti serangan jantung dan gagal jantung.

Bisa Dicegah

Penyakit jantung masuk lima besar penyakit yang paling mematikan di Indonesia. Sayangnya, kesadaran untuk menjaga organ pemompa darah ini belum begitu tinggi. Jelas, terbukti dari penggunaan rokok yang sangat tinggi.

Kepala subdirektorat Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah Kementerian Kesehatan RI Asik Surya mengatakan, kurangnya aktivitas fisik memicu obesitas yang meningkatkan risiko hipertensi dan diabetes melitus juga.

“Belum lagi perilaku sedentari [kurang aktif bergerak] yang dilakukan oleh masyarakat perkotaan karena sudah dimanjakan teknologi,” katanya.

Soal kebiasaan masyarakat, Asik juga menyoroti tingginya konsumsi garam dan gula di Indonesia. Tekanan darah dipengaruhi oleh sodium dan natrium dalam tubuh. Makin tinggi tekanan darah makin mudah pula pembuluh darah rusak, termasuk pembuluh darah di jantung.

Tidak hanya itu makanan dengan kolesterol tinggi juga menjadi kudapan biasa di Tanah Air juga perlu disoroti. Kolesterol yang berlebihan dalam tubuh dapat merusak jantung. Kolesterol itu dapat menempel di dinding pembuluh darah, menumpuk, dan menyumbat aliran darah. Akhirnya? Terkena penyakit jantung.

Jika tidak ingin mengalami itu semua, ubahlah pola hidup sekarang juga. Kedua dokter ini menganjurkan untuk memperbaiki kebiasaan buruk yang selama ini terpelihara. Pola makan misalnya, saatnya mengurangi asupan makanan dengan kandungan gula, garam, dan lemak.

Demi jantung yang sehat sebaiknya mulai meninggalkan kebiasaan mager alias malah gerak. Mulailah berolahraga dan kendalikan stres dengan bijaksana. Satu lagi yang terpenting, sayangi pembuluh darah Anda dengan berhenti merokok.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perokok

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top