GKBRAy Adipati Paku Alam X dan Misi Memperkenalkan Wastra Nusantara

Istri dari Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam X, malam itu masih mengenakan busana batik tradisional setelah menghadiri acara pembukaan Gelar Batik Nusantara di Jakarta Convention Centre (JCC).
Stefanus Arief Setiaji
Stefanus Arief Setiaji - Bisnis.com 13 Mei 2019  |  10:04 WIB
GKBRAy Adipati Paku Alam X dan Misi Memperkenalkan Wastra Nusantara
Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu (GKBRAy) Adipati Paku Alam X

Bisnis.com, JAKARTA — “Kami ingin maju, agar tidak di klaim bangsa lain.” Ungkapan itu muncul dari Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu (GKBRAy) Adipati Paku Alam X saat menggelar obrolan santai di salah satu pusat belanja kawasan Senayan, Jakarta, Rabu (8/5/2019) malam.

Istri dari Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam X, malam itu masih mengenakan busana batik tradisional setelah menghadiri acara pembukaan Gelar Batik Nusantara di Jakarta Convention Centre (JCC).

Busana batik memang tidak sehari-hari dipakainya. Dia menggunakannya kala tertentu saja, saat acara-acara formal.

“Kalau di rumah kadang malah pakai celana pendek,” katanya sambil tertawa.

Malam itu, GKBRAy Adipati Paku Alam tidak banyak bercerita soal acara gelaran batik yang sedang berlangsung itu.

Dia lebih banyak bercerita soal rencana Kota Yogyakarta yang akan menggelar acara 7th Asean Traditional Textile Symposium yang akan berlangsung pada 5—8 November 2019 di Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta.

Kebetulan, GKBRAy Adipati Paku Alam saat ini menjabat sebagai President The Traditional Textile Arts Society of South East Asia (TTASSEA) sejak 2017.

Menurutnya, simposium itu menjadi ajang pertemuan bagi para pecinta kain tradisional atau wastra dari berbagai negara di kawasan Asia Tenggara.

“Setiap negara punya wastra sendiri-sendiri. Kita punya batik, itu pun batik yang cap dan batik tulis. Punya kain songket, punya tenun,” kata istri Wakil Gubernur DI Yogyakarta itu.

Dia mencontohkan Yogyakarta memiliki wastra yang sangat kaya dan sudah cukup dikenal di sejumlah negara salah satunya Jepang.

“Di Jepang kain batik yang kami miliki sudah bisa dikembangkan untuk ragam kerajinan. Ini yang juga menjadi keinginan kami agar kreativitas wastra terus muncul,” jelasnya.

Ajang simposium itu nantinya dapat dimanfaatkan untuk menunggulkan kekayaan wastra nusantara sebagai bagian dari kekayaan bangsa.

Acara itu rencananya dihadiri oleh anggota dari 10 negara Asean temasuk negara-negara mitra Asean, seperti Amerika Serikat, Australia, dan Jepang.

Selain digelar peragaan busana dengan corak dan bahan dasar wastra dari setiap negara, panitia juga menggelar kegiatan seminar dengan menghadirkan pembicara dari sejumlah negara untuk mengupas mengenai wastra.

Pihaknya juga mengundang para peneliti dan pemerhati wastra di Tanah Air untuk berpartisipasi dalam kegiatan seminar untuk menyajikan hasil kajian atu risetnya mengenai kekayaan wastra nusantara.

“Kami buka call paper nasional dan internasional. Intinya kami juga ingin tahu bagaimana sebenarnya riset-riset terkait wastra ini berkembang,” katanya.

Pada 2017, saat perhelatan serupa di Brunei Darussalam, setidaknya terdapa 10 paper dari para peneliti dan pecinta wastra wilayah Asia Tenggara.

Dia berharap dengan ajang tersebut, kekayaan wastra nusantara semakin dikenal dan mampu meningkatkan kebanggaan terhadap budaya bangsa.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
yogyakarta, wastra, Paku Alam X

Editor : Stefanus Arief Setiaji
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top