Milenial, Bekerja dan Wirausaha?

Sebagian anak muda atau milenial menempuh jalan sebagai entreupreneur atau wirausahawan. Meski sebenarnya bekerja dan menjalani profesi tertentu juga bukan pilihan yang buruk.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 18 Juni 2019  |  15:22 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Jumlah entrepreneur atau wirausahawan di Indonesia masih tergolong rendah. Berdasarkan catatan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia, jumlah wirausahawan di negeri ini hanya berkisar antara 2% hingga 3% saja dari total penduduk. Jumlah ini masih di bawah beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

Hal ini mungkin menjadi pertimbangan bagi sebagian anak muda atau milenial untuk menempuh jalan sebagai entreupreneur atau wirausahawan. Meski sebenarnya bekerja dan menjalani profesi tertentu juga bukan pilihan yang buruk.

Pendiri dan Direktur Jagartha Advisor FX Iwan mengatakan, di luar dua pilihan tersebut yang utama harus dicari tahu oleh milenial adalah passion-nya terlebih dahulu.

"Saya percaya setiap individu mempunyai sesuatu yang berbeda. Ada yang memang sukanya bekerja, dalam arti profesi. Seorang dokter misalnya, harus memulai dari bekerja dulu sebelum mereka memulai sendiri. Juga ada tipikalnya yang memang tidak suka kerja pada orang lain," kata Iwan.

Menurut Iwan tidak ada prinsip dan aturan baku pada saat usia muda lebih baik bekerja datau berbisnis. Namun yang dia cermati dari kebiasaan dan pola bekerja pada milenial saat ini adalah kencenderungan untuk mencari fleksibilitas. Misalnya, banyak anak muda yang tidak suka bekerja terikat waktu, pukul 9 pagi hingga pukul 5 sore. Sebaliknya, kultur kerja yang lebih disukai anak muda saat ini adalah yang menawarkan fleksibilitas waktu dan tempat selama tanggungjawab diselesaikan dengan baik.

Jika unsur fleksibilitas yang dicari dengan alasan dapat meluangkan lebih banyak waktu untuk hobi atau traveling, misalnya, maka pilihlah perusahaan atau pekerjaan yang memungkinkan kultur kerja seperti itu. Pilihan lain, tentu saja dengan membuka bisnis yang menekuni dunia wirausaha.

Namun menjadi entrepreneur pun bukan sesuatu yang mudah dijalani. Shinta Dhanuwardoyo, CEO dan pendiri agensi digital bubu.com mengatakan, seorang entrepreneur harus memiliki "DNA" tertentu untuk berhasil, antara lain dengan menjadi pribadi yang tahan banting, berani mengambil keputusan, tidak mudah putus asa, dan kreatif serta inovatif. Sikap mental tersebut yang akan menolong seorang wirausaha ketika menghadapi berbagai situasi sulit.

"Saya sendiri 23 tahun menjalankan bisnis di dunia digital, yang waktu awal itu orang tidak tahu saya ngapain sih bikin bisnis ini, terus juga mencari client susah banget. Jadi kalau saya gampang putus asa, saya mngkin sudah ganti bisnis sejak dulu," kata Shinta.

Shinta mengatakan, pada masa-masa awal dia mendirikan bubu.com pada 1996, belum banyak orang yang mengenal internet dan meliriknya sebagai sarana berbisnis. Saat itu Shinta sudah memiliki visi bahwa masa depan bisnis dan ekonomi terletak pad dunia digital melalui internet. Maka dari itu, terlepas dari segala rintangan yang dihadapi saat itu, Shinta tetap bersikeras menjalankan bisnis ini hingga bertahan dan menjadi salah satu perusahaan digital paling berhasil di Indonesia saat ini.

Menurut Shinta seorang entrepreneur akan banyak mengalami jatuh-bangun dalam mendirikan usahanya. Namun justru dari kegagalan itulah dia akanbelajar untuk berhasil.

"Menurut saya seorang entrepreneur kalau tidak gagal itu tidak akan bisa sukses juga, karena dia akan belajar banyak dari kegagalan itu dan kegagalan itu justru yang membuat dia menjadi entreupreneur yang lebih baik ke depan," ujarnya.

Mental Keuangan Milenial

Iwan menambahkan, baik memutukan menjadi wirausaha atau bekerja dan menekuni karir tertentu, seorang milenial tetap harus memiliki prinsip dalam mengelola keuangan. Salah satu yang paling penting dalam pengelolaan keuangan yang harus dipastikan adalah dana darurat.

Jika milenial yang bekerja menyisihkan dana darurat sebesar 3 hingga 6 kali gaji bulanannya, maka mereka yang berwirausaha harus lebih dari itu. Logikanya dengan dana darurat tersebut, jika sewaktu-waktu seseorang mengundurkan diri atau dipecat, maka membutuhkan waktu 3 hingga 6 bulan untuk mendapatkan pekerjaan baru.

Sedangkan bagi mereka yang berwirausaha, saat usaha yang dibangunnya gagal, maka dia memasuki kondisi ketidakpastian yang tak bisa dipastikan kapan berakhir. Dalam kondisi seperti itu, persediaan dana darurat harus lebih besar.

"Dana daruratnya harus ready dan tenornya harus lebih panjang dibandingkan dengan masyarakat pada umumnya. Supaya ketika mereka masuk ke fase kegagalan itu, mereka siap," kata Iwan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
generasi milenial

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top