Anggota Asosiasi Premier Profesional Finansial yang juga Co-Founder Langkah Kemenangan Group, Esra Manurung. JIB/Bisnis/Akbar Evandio
Relationship

Tujuh Pilar Manusia Unggul

Akbar Evandio
Senin, 24 Juni 2019 - 11:27
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Membentuk manusia unggul merupakan proses untuk membuat sebuah negara yang kuat dan beradidaya, dengan memiliki individu-individu unggul dan mandiri di baliknya.

Setiap individu dibentuk untuk menjadi pribadi unggul dimulai sejak dari rumah dengan diajarkan tujuh pilar manusia unggul menurut Esra Manurung, Co-Founder Pendiri Langkah Kemenangan Group Manulife.

Pertama; adalah kehidupan spiritual, kedua; adalah kesehatan, ketiga; keterampilan membangun keluarga juga dipelajari dari orangtua di rumah, karena bangsa yang kuat dibangun dari keluarga yang kuat, negara yang sejahtera berlandaskan dari kesejahteraan penduduk di mana unit terkecil adalah keluarga.

Keempat; pendidikan entrepreneurship, Indonesia adalah menciptakan lapangan pekerjaan, karena tanpa sadar orangtua telah mendoktrin negara yang terendah di Asia Pasifik dalam pola pikir untuk melalui bekerja di perusahaan-perusahaan sukses dengan memiliki pendapatan melimpah

“Anak tanpa sadar dibentuk oleh orangtua menjadi pencari kerja yang handal bukan sebagai pembuat lapangan pekerjaan. Padahal, sebenarnya output dari pendidikan sendiri adalah mencetak generasi yang mampu menciptakaan lapangan kerja untuk generasinya. Hal ini yang belum banyak diajarkan di rumah, karena sejak dulu kita terdidik untuk menjadi pegawai,” jelasnya.

Namun, Esra optimistis bahwa melihat perkembangan anak muda saat ini mulai banyak yang beralih untuk membuka peluang kerja bagi generasinya dengan membuat beragam start-up. Hal ini, menurutnya perlu dikembangkan dengan mendorong orangtua untuk menghasilkan anak-anak yang bertekad baja untuk masuk ke dunia usaha.

Kelima; adalah manusia yang unggul adalah manusia seutuhnya yang bisa menjadi teladan bagi pendidikan anak adalah manusia yang mampu mengelola keuangan atau memiliki keterampilan finansial. Rumah tangga yang baik kedepannya juga berasal dari keterampilan dalam mengelola keuangan.

“Penting sekali bagi orangtua untuk mengajarkan kepada anak mereka sejak dini bagaimana mengelola keuangan pribadi. Salah satunya dengan mendidik melalui pemberian uang saku, dimana anak diajarkan untuk mengelola keuangannya secara taktis dan efisien untuk bertahan di setiap bulannya,” ungkapnya.

Tujuh Pilar Manusia Unggul

Tak Mampu Menabung

Esra menceritakan pengalamannya selama 26 tahun berada di dunia keuangan bahwa masalah utama yang biasa dihadapi masyarakat Indonesia adalah ketidakmampuan menabung secara teratur.

Kecenderungan memiliki sifat konsumtif membuat masyarakat juga masih minim dengan literasi keuangan, sehingga produk asuransi justru hadir untuk mendorong terjadinya keterampilan finansial.

“Keluarga diharapkan mampu menabung secara teratur melalui produk asuransi, dimana produk tersebut membentuk kewajiban bagi setiap keluarga untuk menyisihkan pendapatannya untuk keuntungan kedepannya,” jelasnya.

Keenam; adalah pendidikan berkualitas yang terbagi atas pendidikan rumah dan pendidikan formal serta informal,  dilakukan oleh pihak ketiga seperti sekolah, tempat les, dan lainnya menjadi penyedia layanan pendidikan bagi anak. Sedangkan, pendidikan di rumah bersumber dari orangtua.

“Saya melihat banyak orang tua yang kurang percaya diri untuk melakukan pendidikan di dalam rumah karena terbatasnya ilmu yang dimiliki, namun sebenarnya pendidikan rumah tidak bersifat edukasi secara akademik saja. Seperti, salah satunya adalah penerapan teladan hidup bagi anak,” tutur Esra.

Ketujuh; adalah memiliki mimpi tinggi dimana orangtua harus mengajarkan anaknya bahwa pendidikan bukan tentang menggapai ijazah dan gelar, melainkan tentang mimpi yang ingin dicapai setelahnya.

“Ijazah hanyalah pembuka gerbang, sedangkan karakter manusia adalah motor penggerak yang dibangun tidak instan melalui pendidikan yang dilatih sejak dini dirumah. Saya percaya bahwa pendidikan rumah lebih efektif dan berpengaruh dibanding pendidikan formal dan informal,” paparnya.

Dari ketujuh pilar manusia unggul ini juga akan menciptakan rasa empati dan simpati yang tinggi yang mendorong jiwa menolongnya semakin berkembang.

“Manusia unggul adalah manusia yang mampu untuk berpengaruh dan bermanfaat bagi orang banyak, sehingga memberikan tanpa pamrih untuk kesejahteraan orang banyak,” pungkas Esra.

 

 

Penulis : Akbar Evandio
Editor : Nancy Junita
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro