Begini Caranya Menstimulasi Anak Agar Sehat, dan Cerdas sejak Dini

Setiap orang tua ingin anaknya menjadi sehat dan pintar. Karena itu banyak orang tua dewasa ini yang sengaja memasukkan anaknya ke dalam segala macam les agar tumbuh menjadi pintar.
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 23 Juli 2019  |  10:35 WIB
Begini Caranya Menstimulasi Anak Agar Sehat, dan Cerdas sejak Dini
Psikolog anak Anna Surti -

Bisnis.com, JAKARTA - Setiap orang tua ingin anaknya menjadi sehat dan pintar. Karena itu banyak orang tua dewasa ini yang sengaja memasukkan anaknya ke dalam segala macam les agar tumbuh menjadi pintar.

Sebenarnya, mendidik anak menjadi sehat dan cerdas harus dimulai sedini mungkin bahkan di masa golden age anak yakni di 1.000 hari pertama.

Psikolog Anak Anna Surti mengatakan hal itu karena berdasarkan penelitian, golden ages masa penting pertumbuhan anak karena otaknya sedang berkembang sangat pesat.

Apalagi, menurutnya, di usia tertentu ada tahapan-tahapan penting untuk menstimulasi otak anak, selain memberikannya nutrisi yang cukup.

"Kalau melewatkan usia tersebut, agak terlambat. Misalnya, ketika anak berusia 6 tahun baru stimulasi bicara dan kreatif akan lebih lama prosesnya dibandingkan dengan ketika masih usia 2 tahun," ujarnya dalam kegiatan edukasi di Taman Prestasi Sahabat Generasi Maju di Kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta yang digelar SGM Eksplor.

Dia mengatakan stimulasi kemampuan anak sebaiknya dilakukan oleh orang tua. Namun jika orang tua bekerja, maka harus memastikan pendampingnya bisa menerapkan kegiatan-kegiatan yang bisa menstimulasi otak anak.

Anna menjelaskan tiap usia bayi memiliki tumbuh kembang dan target yang berbeda-beda. Misalnya, usia satu tahun target anak sudah harus bisa bicara dan berjalan. Duduk harus ajeg, bisa berdiri dan melangkah sendiri.

Sementara itu, untuk anak dua tahun ditargetkan sudah bisa melompat kecil dan menaiki anak tangga. 

Anna menjelaskan ada dua jenis stimulasi penting untuk anak, yakni untuk tumbuh kembang motorik kasar seperti berjalan atau berlari, melompat, dab memanjat

Sedangkan stimulasi motorik halus bisa dilakukan dengan menumbuhkan kemampuan mengatur strateginya dan kreatifitasnya. Seperti membuat menara, dan bermain lilin malam.

Selain itu, katanya ada juga jenis stimulasi lainnya. Pertama stimulasi berpikir kreatif dengan mengajak mengamatu, membacakan buku, ajak mengobrol, membuat karya seni, mewarnai, dan melakukan hal berbeda setiap harinya.

Kedua, stimulasi supel untuk meningkatkan kemampuannya bersosialisasi. Caranya dengan saling tatap mata saat bicara, main dengan teman sebaya, lebih tua atau lebih kecil, dan tenangkan anak saat takut.

Ketiga stimulasi mandiri dengan mengajarkannya makan sendiri, pipis di toilet, dan melepas dan pakai baju sendiri. 

Terakhir yakni stimulasi percaya diri dengan memberikan hal-hal yang meningkatkan sensifitas dan responsifnya. Menyiapkan ruangan ramah anak, dan memberikan pujian jika dia berbuat baik.

"Yang perlu diingat adalah jangan sampai over stimulasi bisa bikin stres dan tdk menangkap stimulasi sehingga hilang apa yang diajarkan," tutupnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
parenting

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top