Mengapa Anak Bisa Menjadi Pelaku Bully?

Perilaku perundungan jelas merugikan banyak orang, tidak hanya korban, tetapi juga pelaku. Apalagi jika perundungan terjadi pada usia anak dan remaja. Sangat disayangkan jika usia-usia emas dalam pembentukan jati diri dilewati dengan merundung atau dirundung.
Tika Anggreni Purba
Tika Anggreni Purba - Bisnis.com 30 Juli 2019  |  16:00 WIB
Mengapa Anak Bisa Menjadi Pelaku Bully?
Kekerasan verbal di antara anak - richlymiddleclass.com

Bisnis.com, JAKARTA — Kejadian perundungan (bullying) di Indonesia dinilai makin menjadi-jadi. Informasi tentang perundungan yang terjadi di lingkungan rumah, tempat kerja, kampus, dan sekolah menghiasi pemberitaan media. Kemungkinan besar, perundungan terus terjadi karena adanya pembiaran.

Perilaku perundungan jelas merugikan banyak orang, tidak hanya korban, tetapi juga pelaku. Apalagi jika perundungan terjadi pada usia anak dan remaja. Sangat disayangkan jika usia-usia emas dalam pembentukan jati diri dilewati dengan merundung atau dirundung.

Sebelum membahas hal ini lebih jauh, pemahaman mengenai perundungan perlu diluruskan terlebih dahulu. Masih banyak orang salah kaprah dalam mendefinisikan perundungan. Psikolog anak dari RS Pondok Indah Jakarta, Jane Cindy Linardy mengatakan bahwa ada tiga syarat suatu perilaku didefinisikan sebagai perundungan.

Pertama, ada niat dari pelaku untuk menyakiti korban alias perilaku yang disengaja. Kedua, adanya ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku dan korban sehingga korban pasti tertindas. Ketiga, perilaku tersebut terjadi secara berulang atau berkali-kali. “Jadi perundungan itu berbeda dengan konflik, perilakunya berbeda,” ujar Jane belum lama ini.

Pihak yang paling dirugikan tentu adalah korban. Mereka yang biasanya tertindas dan tersiksa. Kerugiannya juga tidak hanya terasa dalam jangka pendek, tetapi juga jangka panjang. Dalam laporan penelitian yang dilakukan di Lancaster University Management School di Inggris, disebutkan bahwa anak korban perundungan terancam mengalami gangguan mental saat dia dewasa.

Para peneliti melakukan analisis terhadap data  pada 7.000 pelajar berusia 14-16 tahun dari Longitudinal Study of Young People di Inggris. Para pelajar itu diwawancarai secara berkala hingga mereka berusia 21 tahun. Kemudian wawancara sekali lagi dilakukan pada usia 25 tahun. Temuan para peneliti menunjukkan bahwa 50% dari responden pernah mengalami perundungan selama di sekolah dan dari jumlah itu ternyata 40% di antaranya mengaku mengalami masalah mental sebelum mereka berusia 25 tahun.

Untuk menghentikan lingkaran setan perilaku perundungan fokusnya bukan saja pada korban, tetapi pelaku. Tentu ada sebab dan alasan mengapa pelaku melakukan hal itu. Jane mengatakan bahwa anak dan remaja yang menjadi pelaku perundungan biasanya memiliki kekurangan dalam regulasi emosi.

Mereka juga cenderung bersifat agresif dan impulsif, serta memiliki keinginan untuk berkuasa dan berempati. “Si perundung pada umumnya sulit untuk berempati, terbiasa dengan kekerasan, dan memiliki konsep diri yang negatif,” tambahnya.

Pembentukan sikap-sikap kurang etis itu paling mungkin terbentuk dalam keluarga. Sangat besar kemungkinan bahwa pelaku sering melihat orang tua atau anggota keluarga melakukan hal yang sama di rumah.

Kekerasan fisik seperti memukul, menampar, dan meninju, begitu juga dengan kekerasan verbal seperti perkataan kasar dan makian adalah hal yang biasa dilihat dan diterimanya sejak kecil. Inilah yang makin memicu perilaku anak sebagai perundung.

Psikolog klinis Kasandra Putranto menilai bahwa latar belakang perundung terkait juga dengan faktor genetik, pola asuh, dan pengalaman menyaksikan kekerasan. Pengalaman tersebut tersimpan dalam memori dan mendorong seseorang untuk melakukan kekerasan juga, terutama jika nilai cinta dan kasih sayang diabaikan.

“Selain keluarga, perilaku merundung juga bisa berkembang di sekolah yang abai mengenai hal ini. Kurangnya ketegasan dan minimnya konsekuensi dari sekolah juga membuat anak makin berani dan tidak jera,” ujar Jane.

Pantas saja kasus perundungan selalu terjadi berulang. Apalagi jika tindakan ini dilakukan secara berkelompok. Anggota pertemanan sebaya juga dapat mendorong anak untuk membuktikan diri sebagai orang yang lebih kuat dan dapat diandalkan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
lingkungan, kekerasan anak

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top