Begini Cara Singapura Menyiapkan Pasien Stadium Akhir Menjalani Sisa Hidupnya

Mengirim orang tua tersayang ke rumah jompo masih menjadi hal tabu di Indonesia. Namun, fakta di Singapura memberikan perspektif lain soal ini. Sejumlah pasien yang telah uzur diajak mempersiapkan momen terakhirnya dengan bahagia.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 13 September 2019  |  13:29 WIB
Begini Cara Singapura Menyiapkan Pasien Stadium Akhir Menjalani Sisa Hidupnya
Salah satu fasilitas Assisi Hospice di Singapura berupa daycare bagi para lansia. Fasilitas ini menawarkan beragam kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan seperti aktivitas olahraga dan hobi dengan biaya yang cukup terjangkau yakni US10 per hari

Bisnis.com, SINGAPURA -- Mengirim orang tua tersayang ke rumah jompo masih menjadi hal tabu di Indonesia. Namun, fakta di Singapura memberikan perspektif lain soal ini. Sejumlah pasien yang telah uzur diajak mempersiapkan momen terakhirnya dengan bahagia. 

Head Communication & Community Engagement Assisi Hospice Juliet Ng mengatakan perawatan paliatif di rumah perawatan khusus bagi pasien dengan penyakit stadium lanjut lebih baik ketimbang merawatnya sendiri di rumah.

Menurut Juliet perawatan khusus menjadi hal yang penting bagi pasien, tidak hanya untuk kesehatannya, tetapi juga membangun kenyamanan dan afirmasi hidup (penegasan hidup) selama menghabiskan masa hidupnya. 

“Tidak benar jika Anda mengirim orang tua Anda ke rumah perawatan ini berarti Anda meninggalkan orang tua Anda. Pasien membutuhkan perawatan khusus. Ini sangat biasa di sini karena ketika orang tua diurus sendiri di rumah, anak juga akan kepikiran terus,” ujar Juliet.

Assisi merupakan rumah perawatan yang memberikan perawatan paliatif. Perawatan ini adalah pelayanan kepada pasien yang penyembuhannya sudah tidak dapat dilakukan melalui pengobatan kuratif, melainkan hanya dapat dikelola karena telah mencapai stadium akhir. Pasien paliatif tidak hanya lansia, tetapi juga anak-anak, remaja, dan dewasa. 

Gedung Assisi Hospice di Thomson Road, Singapura ini merupakan bangunan baru yang dibangun pada 2017. Lanskap bangunannya cukup modern dan jauh dari kesan angker.

Assisi telah melewati histori cukup panjang sejak didirikan oleh biarawati yang tergabung dalam Franciscan Missionaries of the Divine Motherhood (FMDM) pada 1969. 

Pasien kebanyakan orang tua berumur 71--80 tahun yaitu sekitar 27 persen dari total pasien yang dirawat oleh Assisi. Sebanyak 25 persen berumur 81--90, sebanyak 21 persen berumur 61--70 tahun, dan sebanyak 14 persenberumur 51--60 tahun. Juga terdapat sebagian kecil pasien yang berusia di bawah 50 tahun dan di atas 90 tahun. 

Seorang nenek tampak berjalan keluar dari Assisi tanpa ditemani sanak keluarganya. Bagi kita bisa jadi hal itu agak janggal. Tapi, bagi warga di sekitar Assisi Hospice hal itu menjadi pemandangan biasa. Rupanya nenek tersebut hendak pulang ke rumah setelah mengikuti kegiatan daycare di Assisi. 

Maklum, dibandingkan dengan kultur di Indonesia, orang tua di Singapura memang cenderung lebih independen. Banyak orang tua yang tinggal tidak serumah dengan anaknya.  

Juliet mengatakan kebanyakan pasien khawatir jika dirinya akan menjadi beban bagi keluarga. Untuk itu, pasien cenderung lebih memilih agar dirawat inap di rumah sakit paliatif seperti Assisi. 

Sementara dari sudut pandang keluarga pasien, mereka bukanlah orang-orang yang putus asa dalam memberikan perawatan. Justru sebaliknya, keluarga pasien menaruh perhatian besar dalam memilih rumah perawatan paliatif. 

Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan dasar keluarga, di antaranya adalah jarak antara tempat tinggal dan rumah perawatan, kualitas perawatan klinis, dan harga.

“Mereka akan memilih tempat perawatan yang lebih dekat dengan tempat tinggalnya. Adapun bagi pasien yang tidak memiliki biaya cukup, kami dapat memberikan bantuan,” ujar Juliet. 

Rumah perawatan paliatif juga harus didukung oleh perawat profesional. Bahkan sejumlah rumah perawatan paliatif seperti Assisi juga didukung oleh para sukarelawan. Hingga 2018, total perawat Assisi mencapai 1.491 dan 11.021 tenaga kesehatan seperti dokter, suster, dan pekerja sosial telah menyambangi Assisi. 

Fasilitas rumah perawatan paliatif tidak boleh dibuat sembarangan. Pasien harus disuguhi dengan lingkungan yang membangkitkan aktivitas komunal untuk menjaga kesehatan psikologis mereka yang cenderung rentan. 

Misalnya, ruang hijau bagi pasien agar dapat menikmati udara segar di luar ruangan, ruang makan yang luas agar memberikan keleluasaan pasien bercengkrama dengan anggota keluarga ataupun pasien lainnya, dan tempat ibadah.

Soal harga, rumah perawatan paliatif di Singapura menerima jaminan sosial yang diberikan oleh negara, layaknya BPJS Kesehatan. Sementara untuk asuransi memang masih sangat terbatas. 

Kendati demikian, Assisi seringkali memberikan santunan kepada pasiennya. Assisi telah melayani pemakaman bagi 15 pasien rawat inap yang meninggal.

Saat ini anggaran Assisi mencapai US$26 juta per tahun, sekitar dua per tiganya didukung oleh donasi. Sisanya, Assisi mendapat sokongan dari Kementerian Kesehatan setempat.  

Di samping rawat inap, Assisi juga menyediakan fasilitas daycare atau perawatan harian dengan biaya US$10 per hari dan homecare atau perawatan di rumah yang tidak dipungut biaya. 

Lalu, bagaimana dengan di Indonesia?

 Sejatinya, hospice atau rumah perawatan paliatif di Indonesia telah disediakan oleh berbagai rumah sakit dan yayasan nonprofit. Namun, jumlahnya belum banyak.  

Salah seorang relawan Singapore International Foundation (SIF), Ramaswamy Akhileswaran, ahli geriatri, menilai Indonesia sebagai negara yang sangat besar masih dihadapkan pada terbatasnya pemahaman soal perawatan paliatif baik dari tenaga kesehatan maupun masyarakat pada umumnya. 

Padahal, lanjutnya, perawatan paliatif akan sangat berguna bagi masyarakat terutama bagi keluarga dalam kondisi prasejahtera.

Akhiles telah memberikan pelatihan perawatan paliatif kepada tenaga kesehatan sejak 2015 di Jakarta, tepatnya di Rachel House, sebuah yayasan sosial yang memberikan asuhan paliatif kepada anak-anak penderita kanker atau HIV/AIDS. 

“Responnya sangat luar biasa. Setiap orang jadi belajar soal ini, juga secara perlahan banyak yang tahu. Sekarang kami sedang menjalin proyek serupa di Bandung, di Rumah Sakit Hasan Sadikin,” ujarnya.

Proyek yang telah dijalankannya selama ini juga melibatkan para pemimpin layanan kesehatan dan pembuat kebijakan di tingkat provinsi dan nasional untuk lebih lanjut mendukung pengembangan perawatan paliatif di Indonesia.

Program ini dinilai telah memberikan dampak, seperti pembentukan sistem rujukan untuk perawatan paliatif pasien anak, pembentukan unit perawatan paliatif pertama berbasis rumah sakit di salah satu rumah sakit nasional, serta membantu pembentukan sistem rujukan terintegrasi nasional yang diterapkan pada sekitar 12 rumah sakit di Jakarta. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
paliatif, singapura, lansia

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top