Kain Dakron, Begini Cara Kurangi Dampak Asap di Ruangan

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyarankan agar pengurangan dampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di dalam ruangan bisa dengan menggunakan kain dakron yang dibasahi.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 18 September 2019  |  10:42 WIB
Kain Dakron, Begini Cara Kurangi Dampak Asap di Ruangan
Blok apartemen perumahan umum diselimuti oleh kabut asap di Singapura 13 September 2019. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyarankan agar pengurangan dampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di dalam ruangan bisa dengan menggunakan kain dakron yang dibasahi.

Berdasarkan siaran pers Kementerian Kesehatan yang diterima di Jakarta, Rabu (18/9/2019), Sekretaris Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Pusat Krisi Kesehatan Kemenkes dr Ahmad Yurianto mengatakan dua tahun lalu Kemenkes bekerjasama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) membangun save community pada masyarakat, salah satunya menciptakan teknologi tepat guna sederhana berupa pemasangan kain dakron yang dibasahi.

Setelah diuji coba di beberapa sekolah dan dilakukan pengukuran ISPU di dalam dan di luar kelas, ternyata udara lebih baik di dalam kelas karena terpasang kain dakron, kata Yurianto.

Ahmad Yurianto yang juga akrab disapa Yuri menambahkan pengalaman masalah karhutla pada 2015 telah menyebabkan kematian pada anak.

Menurut dia hal itu disebabkan gastroenteritis dan dehidrasi berat karena kurang tersedianya air bersih.

Saat itu sebenarnya episode yang diawali kekeringan dan sulit dapat air bersih sehingga yang muncul gastroenteritis. Terlambat melakukan rujukan karena memang warga takut asap di luar sehingga kematian ada. Informasi yang ramai meninggal karena asap padahal bukan, ungkapnya.

Menteri Kesehatan Nila Moeloek menambahkan saat musim kemarau yang utama adalah air bersih. Ia mengatakan bahwa Poltekkes sempat menciptakan teknologi tepat guna berupa penjernih air dan berhasil menjernihkan air gambut di Kalimantan.

“Kalau sudah musim kemarau yang utama itu air. Poltekkes sudah bisa menjernihkan air gambut, kecil alatnya,” kata menkes.

Selain itu, Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) Batam empat tahun lalu juga membuat teknologi penjernih air agar bisa langsung minum. Teknologi tersebut dijadikan replika untuk daerah agar bisa mengembangkan sendiri.

Yuri mengatakan teknologi tepat guna lainnya adalah oksigen konsentrator. Tim Pusat Krisis Kesehatan sempat memantau Puskesmas Pulang Pisau, Kalimantan Tengah yang bermasalah karena kabut asap yang begitu pekat.

“Kita datangi, kita beri oksigen konsentrator kemudian Puskesmasnya kita tutup pakai kain dakron. Tim Pusat Krisis Kesehatan akan mengecek lagi ke sana,” tambah Yuri.

Rencananya oksigen konsentrator ini akan digunakan oleh puskesmas apabila hasil yang didapatkan bisa lebih baik.

Menkes mengatakan teknologi tepat guna ini bisa dijadikan contoh untuk mencegah terjadinya masalah kesehatan akibat karhutla.

“Ini bisa kita manfaatkan sebaik-baiknya. Bisa kita gunakan untuk masyarakat. Jangan sampai kita telat lagi dalam pencegahan,” tambahnya.


 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kemenkes, menkes, Karhutla

Sumber : Antara

Editor : Nancy Junita
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top