Faisal Habibur, Filosofi tentang Modal, Pembangkitan 3 T, & Konsep Kiss Me

Dalam kehidupan ini selayaknya kita memberi nilai, bukan meminta nilai, apalagi mencuri nilai. “Menciptakan nilai itu sulit, tetapi penting mengubah yang semula tidak berharga menjadi "berharga.
M. Syahran W. Lubis
M. Syahran W. Lubis - Bisnis.com 15 Oktober 2019  |  00:52 WIB
Faisal Habibur, Filosofi tentang Modal, Pembangkitan 3 T, & Konsep Kiss Me
Faisal Habibur - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Nama Faisal Habibur sudah lama dikenal di Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, salah satu kabupaten di Provinsi Sumatra Selatan. Itu lantaran dia memang pengusaha yang terhitung kondang di Sumsel, khususnya di OKU Timur yang merupakan daerah asalnya.

Namanya belakangan mencuat lagi. Bukan hanya disebabkan oleh pencalonannya untuk bersaing dalam Pilkada OKU Timur tahun depan, melainkan juga karena sejumlah gagasan yang diapungkannya untuk memajukan kabupaten yang beribu kota di Martapura tersebut.

Dia memandang perlu OKU Timur yang mandiri, tidak bergantung pada dana pemerintah pusat. Untuk itu, dia mengusulkan pembentukan dua BUMD yaitu pusat perberasan dan pengelola pembangkit tenaga air (PLTA).

Namun, ternyata, yang menjadi pemikirannya bukan melulu urusan bisnis dan ekonomi. Faktanya, dia telah menghibahkan lahan dengan total luas 2 hektare yang lokasinya sangat strategis, dekat dengan pusat pemerintahan OKU Timur, kepada Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Langkah-langkah Faisal, yang berusia 39 tahun, yang menunjukkan kematangan dan keberimbangan antara urusan bisnis dan nonbisnis—bahkan bisa disebut urusan akhirat—agaknya dilatarbelakangi oleh berbagai konsep filosofi yang dia yakini kebenarannya.

Dia menegaskan bahwa dalam kehidupan ini selayaknya kita memberi nilai, bukan meminta nilai, apalagi mencuri nilai. “Menciptakan nilai itu sulit, tetapi penting mengubah yang semula tidak berharga menjadi berharga. Yang dulu tak berguna, menjadi berguna. Kalau perlu sampah kita ubah menjadi emas,” tuturnya.

Filosofi lain yang menjadi latar belakang setiap aktivitasnya ialah keyakinan bahwa yang namanya modal, bukan hanya berwujud uang, tetapi usaha itu sendiri.

“Kalau punya pemikiran yang jelas, sistem yang jelas, jangan berpikir modal uang dulu. Usaha itu sudah menjadi modal. Kalau ada uang modal tapi tak ada usaha, modal ini akan mati. Ketika kita punya usaha, itu akan menjadi modal. Jadi, yang penting ada usaha, itu sudah masuk kategori modal,” papar Faisal.

Dia pun berpandangan bahwa kita mesti membangkitkan 3 T yaitu dana tidur, lahan tidur, dan orang tidur.

Melatarbelakangi itu semua, dia pun mengusung filosofi “KISS ME”. Yang masuk dalam K adalah keyakinan, dalam usaha harus ada keyakinan, juga harus ada kekuatan, kegigihan, keuletan, dan kecerdasan.

Adapun di unsur I, kita harus memainkan insting, ilmu, inovasi, inspirasi, inisiatif, dan imajinasi.

Sementara itu, di unsur S, kita harus mampu membaca suasana, juga mesti mempunyai strategi dan sarana.

Yang termasuk unsur M ialah kehadiran modal yang dibarengi dengan motivasi dan manajemen.

Sedangkan E adalah evaluasi terhadap semua unsur-unsur di K, I, S, dan M di samping mewaspadai unsur ego yang justru tidak kita kehendaki.

Faisal menyatakan konsep ini berlaku di semua hal lehidupan seperti bergaul, usaha, ataupun politik.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
OKU Timur, sumatra selatan

Editor : M. Syahran W. Lubis
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top