Rihanna Guncang Pasar Pakaian Dalam Victoria's Secret

Peritel pakaian dalam terbesar AS, Victoria's Secret, memutuskan tidak menggelar pagelaran busana tahunan beberapa waktu lalu, sementara merek pakaian milik Rihanna, Savage x Fenty makin besar dan populer.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 02 Desember 2019  |  05:19 WIB
Rihanna Guncang Pasar Pakaian Dalam Victoria's Secret
Penyanyi Rihanna tiba di red carpet Grammy Awards ke-59, Minggu (12/2/2017). - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA  - Peritel pakaian dalam terbesar AS, Victoria's Secret, memutuskan tidak menggelar pagelaran busana tahunan beberapa waktu lalu, sementara merek pakaian milik Rihanna, Savage x Fenty makin besar dan populer.

Anak perusahaan L Brands yang dikenal karena "malaikat"-nya berjalan di atas catwalk dengan sayap dan logo pakaian dalam PINK telah berjuang untuk tetap relevan secara budaya.

Sementara merek pakaian dalam Rihanna berada tepat di pusat bisnis dan budaya di sektor pakaian dalam wanita AS yang bernilai US$13,1 miliar membuat Victoria's Secret sulit sekali untuk meniru model ini.

Pada bulan September lalu Savage x Fenty mengumpulkan US$50 juta dolar melanjutkan misi pendanaan untuk pakaian dalam yang inklusif melalui produk-produk hebat dan peragaan busana.

Peringkat acara Victoria's Secret terus turun dengan acara Desember 2018 hanya ditonton 3,3 juta pemirsa. Itu turun dari lebih dari 5 juta pada 2017, dan jauh dari pertunjukan 2011 yang menarik 10,3 juta penonton, mengutip Forbes, Minggu.

Seperti acara Victoria's Secret yang sudah dihentikan, merek Savage x Fenty milik Rihanna kini tayang di Amazon Prime Video. Acara lingerie keren dan hip ini tersedia untuk 100 juta pelanggan Prime di lebih dari 200 negara.

Wanita dari Segala Ras

Acara itu menampilkan wanita dari segala bentuk dan ukuran, dengan model dari beragam ras yang mewakili hampir semua warna yang ditawarkan oleh garis rias Fenty Rihanna.

Merek kecantikan Rihanna itu menghasilkan US$558 juta dalam setahun pertama operasi.

Mantan CMO Victoria's Secret, Ed Razek mengatakan kepada Vogue tahun lalu "pertunjukan itu adalah fantasi" dan pada dasarnya orang tidak tertarik pada (pertunjukan) TV.

Sebaliknya, ikon pop internasional mengatakan pada publikasi yang sama pada bulan Mei 2018 "wanita harus mengenakan pakaian dalam untuk diri mereka sendiri."

Dia juga menambahkan, "Saya hanya bisa berharap untuk mendorong kepercayaan diri dan kekuatan dengan menunjukkan pakaian dalam cahaya lain."

Savage x Fenty bahkan telah menunjuk penyanyi Normani sebagai duta merek dan telah menambahkan Tinashe dan Dreezy ke dalam rangkaian melanin mereka yang kaya.

Victoria's Secret menyatakan mereka memutuskan untuk mengurangi "metode pemasaran yang luar biasa." Penjualan merek ini turun 6 persen tahun ini, dan mendorong perusahaan untuk memberhentikan 15 persen karyawannya.

Victoria's Secret memang masih merupakan merek pakaian dalam terbesar di AS. Mereka menguasai pangsa pasar 24 persen, meskipun itu turun dari sekitar 32 persen pada 2013, menurut Coresight Research.

Saham L Brands turun lebih dari 25 persen tahun ini. Namun, mereka memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk menangkis pengambilalihan pasar lingerie oleh merek pakaian  milik Rihanna.


 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
rihanna, victoria's secret

Sumber : Antara

Editor : Nancy Junita
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top