Inclusivity, Bumikan Desain dan Arsitektur Ke Ranah Publik

seorang desainer dan arsitek harus peka terhadap lingkungan sekitarnya, mampu membuka mata masyarakat bahwa sentuhan arsitektur dan desainer dapat membuat hidup menjadi lebih baik.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 03 Desember 2019  |  03:44 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Sebuah taman hutan kota yang terletak di salah satu sudut kawasan Bintaro, seketika berubah menjadi lebih hidup dengan hadirnya dua karya seni instalasi berjudul Genang dan Komposisi String Seri 6.

Karya tersebut merupakan hasil kreasi dari peserta pameran kreatif berbasis arsitektur dan desain, Bintaro Design District 2019 yang digelar selama 10 hari sejak 28 November hingga 7 Desember 2019.

Genang merupakan sebuah seni instalasi berbahan stainless yang membentuk kolam berisi genangan air karya Adria Yurike Architects. Melalui karyanya tersebut, sang arsitek, Adriano Ricardo ingin menunjukkan karakter air sebagai elemen netral yang tergenang dalam wadah, mampu merefleksikan keadaan di sekitarnya tanpa pretensi.

“Air sebagai elemen utamanya merupakan tempat berhenti dan menyadari kembali arti besar dari inklusivitas.Genang seolah merespon lingkungan sekitarnya, menghadirkan suasana netral yang membawa kita ke dalam sebuah interaksi sosial yang jujur,” ujarnya memberi makna dari karya instalasi tersebut.

Sedikit bergeser dari Genang, kita akan mendapati sebuah karya instalasi yang tak kalah kuat makna dan karakternya berjudul String Komposisi Seri 6 hasil karya Biroe Architecture. Karya seni ini cukup menarik perhatian, karena terbuat dari tali temali yang yang berdiri tegak sejajar dengan tingginya pepohonan.

Arsitek dari Biroe Architecture, Rubi Roesli mengatakan pihaknya sengaja bermain dengan tali dan garis sebagai media yang berinteraksi langsung dengan ruang nyata. Sebab, ketika berada dalam sebuah bentuk, komposisi garis biasanya hanya menjadi symbol atau representasi, dia kehilangan identitasnya.

Dalam karya instalasi ini, Rubi ingin menghidupkan karakter garis sebagai objek utama yang solid dengan menghilangkan semua bahasa dan langgam yang selama ini membatasinya.

“Garis ini kita susun berjarak dan transparan sehingga tidak menganggu ruang dan alam di sekitarnya. Tetapi di malam hari, ketika alam sekitarnya tidak terlihat, string ini yang muncul dan menarik perhatian dengan permainan lampu yang kita pasang. Pesan inklusivitas yang ingin kita angkat bahwa meski string ini memiliki karakter yang kuat, tetapi dia tetap tidak sombong dan tidak mengganggu sekitarnya,” terang Rubi.

Budi Pradono, salah satu kurator Bintaro Design District mengatakan seorang desainer dan arsitek harus peka terhadap lingkungan sekitarnya, mampu membuka mata masyarakat bahwa sentuhan arsitektur dan desainer dapat membuat hidup menjadi lebih baik.

Salah satu caranya dengan mengenalkan atau membuat formula desain yang bisa menjadi solusi bagi masalah di sekelilingnya sehingga memberi nilai tambah bagi berbagai hal. Untuk itulah, tahun ini pihak penyelenggara BDD sepakat mengangkat tema inclusivity sehingga seni desain dan arsitektur dapat dinikmati oleh semua orang, tidak hanya terbatas atau bersifat eksklusive.

“Tema ini diangkat karena kami ingin mengajak para peserta BDD membumikan arsitektur dan desain, menengok sekitar dan menghasilkan sebuah karya yag mampu memberi arti dan dampak bagi lingkungan, memecahkan persoalan ruang yang mungkin selama ini tak terpikirkan,” tuturnya.

Budi merespons positif hasil karya dua desainer yang mampu menghidupkan kembali sebuah areal taman kota yang terbengkalai. Selain itu, inclusivity juga terlihat saat desainer dan arsitek mampu mengkreasikan sebuah lorong yang “terbuang” di salah satu area M Blok Space menjadi lebih menarik.

Inclusivity juga tampak dari hasil karya kolaborasi desainer dan arsitektur yang mampu menyediakan fasilitas umum yang aman dan nyaman bagi para disabilitas. Atau saat membantu pedagang kaki lima yang dagangannya kurang laku, untuk memperindah desain gerobak atau kemasannya sehingga menarik minat para pembeli.

Rupanya, tema inclusivity ini sangat menarik bagi para desainer, arsitek, maupun seniman yang merasa tertantang untuk dapat membawa sentuhan mereka ke tengah-tengah masyarakat.

Tak heran bila jumlah peserta di tahun keduanya ini meningkat signifikan. Indah Ariani, Ketua Panitia BDD 2019 mengatakan setidaknya terdapat lebih dari160 peserta yang mendaftar menjadi peserta BDD 2019, mulai dari biro arsitektur, desainer, dan kolaborator. Jumlah tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat dari jumlah peserta pada penyelenggaraan perdana yang diikuti 49 peserta.

Menurutnya, hasil karya tersebut dapat disaksikan pada sekitar 70 hingga 80 titik, sebagian berada di area publik sebagian lainnya di dalam ruangan. Lokasinya pun tidak hanya di kawasan Bintaro saja tetapi juga bisa dijumpai di Galeri Nasional, M Bloc Space, Dia.Lo.Gue Artspace, hingga Museum Macan.

Peningkatan jumlah peserta ini memperlihatkan antusiasme yang besar terhadap ajang yang diprakarsai oleh empat oleh empat curator yaitu Andra Matin, Budi Pradono, Danny Wicaksono, dan Hermawan Tanzil.

Tak hanya berasal dari Bintaro, peserta BDD 2019 pun berdatangan dari kota dan bahkan negara lain seperti Bandung, Surabaya, Bali, dan Praha. Perusahaan film Miles Production yang juga berada di Bintaro, tahun ini ikut pula ambil bagian sebagai peserta BDD dan memberi warna baru yang mengesahkan aktivitas ini. Sekaligus menjadi sebuah landasan kreatif yang dapat menampung berbagai kolaborasi.

“Antusiasme ini menunjukkan begitu kuatnya keinginan para arsitek dan desainer untuk membawa desain ke bidang yang lebih luas dalam hidup melalui berbagai kerja kolaborasi dengan lingkungannya,” ujarnya.

Pihak panitia menargetkan akan ada sekitar 7.000 pengunjung yang menyaksikan pameran Bintaro Design District ini. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun pertama dengan 5000 pengunjung.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
arsitektur

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top