Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Uji Coba Vaksin HIV di Afrika Selatan Dihentikan

Percobaan vaksin HIV yang sempat memberikan harapan lebih harus terhenti karena ditemukan tidak efektif dalam hal pencegahan virus.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 10 Februari 2020  |  07:25 WIB
Ilustrasi HIV - thewiire.com
Ilustrasi HIV - thewiire.com

Bisnis.com, JAKARTA – Percobaan vaksin HIV yang sempat memberikan harapan lebih harus terhenti, karena ditemukan tidak efektif dalam hal pencegahan virus.

Bagi para peneliti yang mengejar vaksin tersebut, pengumuman ini merupakan kemunduran yang mengecewakan. Namun, hasil ujicoba itu membuahkan data yang signifikan dan penelitian lain tengah dilakukan untuk mengatasi epidemi HIV dan AIDS global.

Dilansir dari Healthline, Senin (9/2/2020) berita tentang penghentian proyek yang disebut HVTN 702 diumumkan langsung oleh promotor penelitian National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID).

“Vaksin HIV sangat penting untuk mengakhiri pandemi global dan kami berharap kandidat vaksin ini dapat bekerja. Sayangnya tidak demikian. Penelitian lain harus lakukan untuk vaksin HIV yang aman dan efektif. Kami yakin hal itu bisa dicapai,” kata Director NIAID Anthony S Fauci.

Uji coba vaksin yang dipromotori oleh NIAID dimulai pada 2016 dengan mendaftarkan 5.407 sukarelawan di 14 lokasi di Afrika Selatan. Mereka dipisahkan menjadi dua kelompok, dengan satu kelompok diberikan percobaan vaksin atau suntikan plasebo.

Seluruh partisipan dimonitor secara ketat dan diberi akses ke perawatan pencegahan HIV. Namun sayang, pada akhirnya analis penelitian menemukan tidak ada perbedaan besar dalam infeksi HIV antara kelompok dengan vaksin dan mereka yang tidak menggunakannya.

Penelitian mencatat, ada 129 infeksi HIV pada orang yang menerima vaksin dan 123 infeksi baru pada kelompok plasebo. Sementara uji itu tidak berhasil, para peneliti masih akan memantau kesehatan para pesertanya.

Director Penn Center for AIDS Research Ronald G Collman mengatakan pembatalan uji coba itu memang mengecewakan, tetapi tidak benar-benar mengejutkan bagi para komunitas peneliti HIV dan AIDS. Ini karena penelitian sebelumnya yang dilakukan juga gagal membawa hasil efektif.

“Saya pikir tidak banyak ilmuwan yang kaget. Kami memang berharap [terhadap uji coba vaksin] tetapi mungkin tidak terkejut juga [dengan hasilnya],” tandasnya.

Hal senada juga diutarakan oleh Alan Taege, seorang spesialis penyakit menular dari Cleveland Clinics. Namun begitu, baginya uji coba tersebut tidak lantas menjadi sia-sia, “Masih banyak pekerjaan yang terjadi di dunia vaksin HIV. Dengan gagalnya uji coba ini, akan ada lebih banyak analisis yang dilakukan terhadap hasil tersebut,” katanya.

Taege melanjutkan bahwa sulit untuk mengetahui kapan perkembangan vaksin HIV menunjukkan hasil yang positif. Menurutnya, bahkan para peneliti masih membutuhkan waktu yang panjang, sekitar 5 hingga 10 tahun karena masih banyak yang harus dipelajari.

Kendati demikian, dia mengatakan bahwa pengembangan vaksin untuk HIV telah menjadi isu kesehatan global dan banyak negara terlibat di dalamnya. Hal tersebut merupakan sebuah harapan yang harus terus diupayakan.

“Dalam upaya saling terhubung antara para peneliti di seluruh dunia, setiap hari seseorang mengerjakan sesuatu yang bermanfaat untuk berkontribusi dalam menemukan vaksin, saya masih sangat berharap,” tandasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hiv aids
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top