Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kodak Kembali Bersinar dengan Popularitas Rol Film 35 mm dan 65 mm

Sebagian pecinta rol film membutuhkan tampilan gambar yang lebih lembut, lebih hangat, lebih berbutir (grain) yang membuat adegan di luar ruangan lebih cerah dan bisa lebih menyanjung tampilan para aktor.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 10 Februari 2020  |  14:54 WIB
kodak - istimewa
kodak - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Eastman Kodak Co., produsen film fotografi yang pernah bangkrut, mencatatkan peningkatan penjualan rol film ke Hollywood selama lima tahun berturut-turut dengan semakin banyaknya sutradara yang mempertahankan media klasik tersebut.

Eksistensi rol film 35 mm dan 65 mm masih terjaga hingga saat ini, apalagi empat dari sembilan film dalam nominasi 'best picture' pada ajang penghargaan Academy Awards 2020 diproduksi dengan rol film Kodak.

Quentin Tarantino, sutradara dari film “Once Upon a Time...in Hollywood,” memproduksi sebagian besar karyanya dengan medium tradisional. Jarang sekali dia menggunakan media digital.

Once Upon a Time...in Hollywood (2019) dan The Hateful Eight (2015) dibuat dengan rol film 65 mm, sementara film terdahulunya seperti Kill Bill: Volume 1 and Volume 2 (2003), Inglourious Basterds (2009) and Django Unchained (2012) dibuat dengan rol film 35 mm.

"Saya ingin berterima kasih kepada orang-orang di Kodak karena sudah ada di sini, dan untuk membuat [rol] film, serta untuk memberi saya sebuah bentuk seni yang sangat saya cintai," kata Tarantino, seperti dikutip melalui Bloomberg, Senin (10/2).

Selain Once Upon a Time...in Hollywood, film produksi Netflix dan sutradara Martin Scorsese, The Irishman (2019), juga menggunakan Kodachrome untuk sebagian proses produksi film guna menghasilkan gambar dengan nuansa 1960-an.

Little Women (2019), Marriage Story (2019), dan The Lighthouse (2019), yang juga masuk ke dalam nominasi Oscar untuk Best Picture turut memanfaatkan rol film produksi Kodak.

Sebagian besar pecinta rol film mengatakan bahwa media ini memberikan tampilan gambar yang lebih lembut, lebih hangat, lebih berbutir (grain) yang membuat adegan di luar ruangan lebih cerah dan bisa lebih menyanjung tampilan para aktor.

Menurut Steve Bellamy, President of Kodak Motion Picture and Enterainment Unit, dalam sebuah tren yang mengingatkannya pada kebangktian piringan hitam (vinyl), Kodak kini melakukan investasi dalam kapasitas baru untuk industri film pada pabrik Kodak di Rochester, New York.

Menjual film ke Hollywood hanyalah sebagian kecil dari bisnis Kodak, dan tidak akan mengembalikan kekayaan perusahaan sebelumnya, tetapi itu memberikan sedikit kemewahan pada ikon fotografi tersebut.

"Jika dibandingkan dengan sebelumnya, kami telah menjual lebih banyak film 65 milimeter, format terbesar yang kami produksi, sepanjang tahun lalu," kata Bellamy.

Pembuatan film digital telah melonjak sejak tahun 2002. Menurut data dari Stephen Follows, persentase film terlaris di industri yang dibuat film secara digital pada tahun 2012.

Pada 2018, 91% dari film paling sukses dibuat dalam format itu.

Kodak, yang menemukan fotografi digital tetapi tidak mampu mengatasi kemunduran bisnis film tradisionalnya, menyatakan bangkrut pada tahun 2012. Saat itulah Teater Kodak Hollywood, rumah dari para pemenang Oscar, menjadi Dolby.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Film
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top