Viral, GERD Pemicu Sakit Jantung Ashraf Sinclair?

Penyebab kematian Ashraf Sinclair itu, penyakit jantung, dikabarkan oleh akun Twitter @Billboard_INA, Ashraf meninggal pada usia 40 tahun karena serangan jantung.
Nancy Junita
Nancy Junita - Bisnis.com 21 Februari 2020  |  09:18 WIB
Viral, GERD Pemicu Sakit Jantung Ashraf Sinclair?
Ashraf Sinclair - Instagram @ashrafsinclair

Bisnis.com, JAKARTA – Suami penyanyi Bunga Citra Lestari (BCL), Ashraf Sinclair, meninggal pada Selasa (18/2/2020) karena sakit jantung.

Penyebab kematian Ashraf Sinclair itu, penyakit jantung, dikabarkan oleh akun Twitter @Billboard_INA, Ashraf meninggal pada usia 40 tahun karena serangan jantung.

Namun, di media sosial beredar pesan berantai bahwa Ashraf Sinclair kemungkinan meninggal karena GERD atau asam lambung yang menekan jantungnya hingga tak berfungsi.

Apakah GERD?

Dikutip dari Wikipedia, gastroesophageal reflux disease GERD adalah penyakit pencernaan karena asam lambung atau empedu mengiritasi lapisan dalam saluran makanan.

Mengutip Hellosehat.com, GERD adalah kondisi ketika asam lambung naik kembali ke kerongkongan (esofagus). Kerongkongan bisa dikatakan sebagai sebuah saluran khusus berbentuk tabung, yang menghubungkan mulut dengan perut dan organ pencernaan lain.

Akibatnya, timbul rasa seolah terbakar di dada dan kerongkongan, karena lapisan kerongkongan tersebut mengalami iritasi. Sebenarnya, asam lambung normalnya bisa naik setelah makan, dan hanya terjadi dalam waktu yang cukup singkat alias tidak akan lama.

Kenaikan asam lambung yang sebenarnya normal ini dapat berubah menjadi GERD ketika gejalanya sering muncul. 

Misalnya sekitar 2-3 kali atau saat timbul luka pada kerongkongan. Seseorang dinyatakan mengalami GERD adalah ketika mengalami kenaikan asam lambung ringan selama 2 kali seminggu, atau kenaikan asam lambung berat hingga minimal seminggu sekali.

Di Indonesia, kasus GERD lebih dari 2 juta kasus per tahun. GERD dapat ditangani oleh tenaga medis profesional, dan dapat didiagnosis sendiri.

Penyakit GERD adalah kondisi umum yang bisa dialami oleh siapa saja, baik pria maupun wanita. Namun, risiko untuk mengalami penyakit GERD ini cenderung lebih tinggi pada orang yang:

obesitas
gangguan jaringan ikat (scleroderma)
sedang hamil
perokok aktif
sering minum alcohol

Gejala penyakit GERD

Gejala utama dari GERD adalah ketika asam lambung yang seharusnya tetap berada di sistem pencernaan, justru naik kembali ke atas. Alhasil, asam lambung tersebut akan melewati katup kerongkongan yang terbuka.

Kondisi tersebutlah yang kemudian akan membuat kebanyakan orang merasakan sensasi terbakar di dada (heartburn). Sensasi seperti terbakar atau heartburn akibat GERD adalah munculnya rasa panas atau tidak nyaman di bagian belakang tulang dada.

Hal ini biasanya bisa semakin memburuk ketika Anda selesai makan, sedang berbaring atau membungkuk. Secara garis besarnya, gejala penyakit GERD adalah:

Merasa seperti ada makanan yang tersangkut di dalam kerongkongan, sulit menelan, serta cegukan.
Mengalami sensasi panas seolah terbakar di dada (heartburn), yang bisa menyebar sampai ke leher.
Sakit atau nyeri pada dada.
Timbul rasa asam atau pahit di mulut.
Ada cairan atau makanan yang naik dari dalam perut ke bagian mulut.
Masalah pernapasan, seperti batuk kronis dan asma.
Suara serak.
Sakit tenggorokan.

Apa penyebab penyakit GERD?

Penyebab utama penyakit GERD yakni karena katup kerongkongan bagian bawah (sfringter) melemah, sehingga membuatnya terbuka pada kondisi tertentu. Katup atau sfringter kerongkongan adalah otot di bagian bawah kerongkongan, sebagai pemisah antara bagian tersebut dengan lambung.

Sfringter kerongkongan seharusnya dalam posisi tertutup sehingga mencegah asam yang ada di lambung agar tidak naik ke atas. Katup di bagian bawah kerongkongan ini baru akan terbuka ketika makanan di mulut akan masuk ke dalam perut. Setelahnya, katup kerongkongan seharusnya tertutup kembali.

Akan tetapi, yang terjadi justru sebaliknya. Katup atau sfringter kerongkongan tersebut malah melemah, sehingga bisa dengan mudah terbuka meski sedang tidak ada makanan di mulut.

Hal ini tentu menyebabkan asam pada lambung berbalik naik ke kerongkongan. Jika kondisi tersebut terjadi terus-menerus, lapisan kerongkongan akan mengalami iritasi hingga peradangan.

Apa yang meningkatkan risiko saya mengalami penyakit GERD?

Berbagai faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan Anda untuk mengalami penyakit GERD adalah sebagai berikut:

Obesitas
Mengalami masalah pada jaringan ikat, contohnya scleroderma
Ada tonjolan di perut bagian atas yang bisa naik sampai ke diafragma
Pengosongan perut yang memakan waktu lama
Selain itu, beberapa hal lainnya yang juga dapat turut memperburuk GERD adalah sebagai berikut:

Merokok
Makan makanan dalam jumlah banyak sekali makan
Waktu makan terlalu dekat dengan waktu tidur
Terlalu banyak makan makanan tertentu (pemicu), seperti makanan berlemak dan gorengan
Minum kopi
Minum teh
Minum alkohol
Mengonsumsi obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), seperti aspirin
Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi penyakit GERD?

Selain dengan mengonsumsi berbagai jenis obat-obatan, biasanya dokter juga menganjurkan Anda untuk melakukan perubahan gaya hidup.

Berikut adalah gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda mengatasi penyakit GERD:

Pilihlah makanan yang tepat dan sehat. Misalnya lebih banyak buah, sayuran, dan kurangi makan makanan yang bisa memicu GERD.
Kurangi makan gorengan, makanan berlemak, dan makanan pedas.
Jangan langsung berbaring setelah makan. Sebaiknya beri jeda minimal 2-3 jam setelah makan dan sebelum Anda tidur.
Gunakan obat yang dianjurkan dan diresepkan oleh dokter. Baik itu obat yang dijual bebas (OTC) maupun obat-obatan resep.
Tinggikan posisi kepala selama tidur menggunakan bantal yang ditumpuk. Posisi kepala yang lebih tinggi daripada tubuh dapat membantu meredakan sakit dada karena kenaikan asam lambung.
Hindari merokok.
Hindari minum minuman beralkohol, kopi, dan teh.
Hindari konsumsi beberapa jenis obat-obatan, seperti aspirin, karena berisiko semakin memperburuk gejala.

Berikut ini adalah saran dari para ahli untuk mengatasi GERD:

Menurunkan berat badan
Makan dengan porsi yang sesuai dengan kebutuhan
Posisikan kepala lebih tinggi 20 sentimeter dari badan ketika berbaring
Apa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah penyakit GERD?

Jika tidak ingin mengalami penyakit GERD, sebaiknya patuhi beberapa aturan pencegahannya, seperti:

Selalu makan dalam porsi secukupnya, atau tidak terlalu berlebihan.
Jaga berat badan tetap dalam rentang normal.
Hindari menggunakan pakaian yang terlalu ketat, terutama di bagian perut, karena berisiko menekan katup kerongkongan bagian bawah.
Jangan biasakan langsung tidur setelah makan.
Jangan makan terlalu dekat dengan waktu tidur.
Hindari beberapa jenis makanan dan minuman yang bisa memicu munculnya GERD. Mulai dari makanan berminyak, berlemak, pedas, cokelat, permen, makanan dengan kandungan tomat, minuman beralkohol, kopi, dan lain sebagainya.
Jika sudah mencoba melakukan berbagai upaya pencegahan tersebut tapi masih kerap mengalami gejala GERD, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter. Sebab ,mungkin saja, ada kondisi medis lainnya yang ternyata menjadi pemicu gejala penyakit GERD tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Bunga Citra Lestari, Ashraf Sinclair

Editor : Nancy Junita
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top