Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Virus Corona: 6 Langkah ini Bisa Menjaga Higienitas Fasilitas di Rumah Sakit

Kini, virus yang awalnya berasal dari Wuhan, China, sudah menyebar ke puluhan negara termasuk Indonesia.
Andhika Anggoro Wening
Andhika Anggoro Wening - Bisnis.com 06 Maret 2020  |  21:41 WIB
Ilustrasi - ANTARA FOTO/Umarul Faruq
Ilustrasi - ANTARA FOTO/Umarul Faruq

Bisnis.com, JAKARTA - Merebaknya wabah virus corona sejak awal tahun 2020 ini, cukup membuat situasi global terganggu. Kini, virus yang awalnya berasal dari Wuhan, China, sudah menyebar ke puluhan negara termasuk Indonesia.

World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa penyebaran SARS-CoV-2 (virus yang menyebabkan COVID-19) terjadi dari orang ke orang melalui tetesan pernapasan yang disebabkan oleh batuk atau bersin dan kontak jarak dekat, atau dengan menyentuh permukaan yang terinfeksi lalu menyentuh mata, hidung atau mulut.

Permukaan ini diperkirakan dapat tetap terkontaminasi hingga beberapa hari bergantung pada tekstur permukaan, suhu udara dan tingkat kelembaban dari lingkungan di sekitarnya, sehingga prosedur pembersihan dan disinfeksi lingkungan harus dilakukan secara konsisten dan tepat.

Kesiapan rumah sakit dan tenaga medis menjadi tonggak utama dalam mengobati dan merawat pasien positif maupun suspect corona. Tidak hanya itu, rumah sakit juga memiliki peran sangat penting dalam mencegah risiko penyebaran virus corona di lingkungan rumah sakit.

Pencegahan penularan dari penyakit menular seperti virus corona adalah aspek penting bagi lembaga kesehatan seperti rumah sakit dalam memberikan pelayanan kesehatan yang aman. Mengingat tingkat kerentanan yang tinggi penularan terjadi antara anggota keluarga atau antara pasien dan pekerja rumah sakit.

Sebagaimana panduan yang diberikan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) bahwa petugas kesehatan harus segera mengisolasi pasien dengan gejala COVID-19 atau infeksi pernapasan lainnya dan pasien harus diberikan masker bedah sampai ditempatkan di Ruang Isolasi Infeksi (Airborne Infection Isolation Room atau AIIR).

Ruang Isolasi Infeksi dirancang dan dioperasikan untuk memastikan tekanan ruangan dijaga pada tekanan negatif untuk melindungi staf klinis, pasien lain dan pengunjung rumah sakit dari paparan patogen seperti COVID-19 melalui jalur udara.

Oleh karena itu sangat penting bagi manajemen untuk menerapkan prosedur yang ketat dalam memastikan higienitas fasilitas kesehatannya dan memanfaatkan teknologi untuk mengantisipasi kelalaian manusia (human error) yang berisiko terhadap kesehatan banyak orang.

Dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis, Jumat (6/3/2020), Schneider Electric, berbagi tips menjaga higienitas lingkungan rumah sakit untuk mencegah risiko penyebaran wabah virus corona yang belakangan ini menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat global.

Pihak manajemen rumah sakit dapat menerapkan enam (6) langkah ini untuk memastikan higienitas fasilitas kesehatannya:

1. Menjaga sirkulasi udara berjalan dengan baik

Meskipun virus ini sebagian besar dianggap ditularkan melalui tetesan (pernapasan), namun masih belum jelas tentang berapa lama COVID-19 dapat bertahan di udara atau di permukaan yang terkontaminasi.

Menurut The American Society of Heating, Refrigerating and Air-Conditioning Engineers (ASHRAE), tindakan pencegahan harus dilakukan untuk memastikan volume yang tinggi dari laju aliran udara dapat tetap dipertahankan. Saat tetesan dari batuk atau bersin menguap dan mengering, mereka memiliki potensi untuk tetap berada di udara dan akan diangkut melalui sirkulasi udara. Peningkatan sirkulasi udara besih akan membantu mengurangi infeksi silang dari partikel-partikel ini.

Sangat penting bahwa laju sirkulasi udara ini dikontrol secara regular. Tidak hanya laju sirkulasi udara di Ruang Isolasi Infeksi, ruang rawat inap umum dan ruang rawat jalan juga perlu untuk dipastikan sistem sirkulasi udaranya untuk memastikan tersedianya udara bersih. Pemanfaatan teknologi seperti EcoStruxure Building Operation dalam pengoperasian sistem ventilasi yang benar dengan sistem otomasi dapat membantu mencapai perubahan udara dan tekanan yang dibutuhkan.

2. Pertahankan tekanan ruangan dalam skala negatif

Sangat penting untuk memastikan aliran udara dalam vektor yang benar. Ruang Isolasi Infeksi harus dipertahankan pada tekanan negatif terhadap area sekitarnya dan perlu dilakukan pemantauan dan pencatatan secara intensif. Beberapa kasus infeksi telah terjadi ketika tekanan ruangan menjadi terbalik akibat dari durasi dan frekuensi terbukanya pintu ruangan.

Pedoman The American Institute of Architects merekomendasikan tekanan negatif minimal 2,5 Pa. Di Inggris, tekanan koridor luar berada pada tekanan positif 10 Pa.

3. Mengawasi dan memperketat akses ke Ruang Isolasi Infeksi

Akses kontrol pintu juga perlu dikelola dan dikendalikan untuk a) mencatat siapa yang telah memiliki akses ke ruangan (biasanya untuk dokter dan staf perawat (HCP) yang ditugaskan untuk pasien untuk membatasi jumlah staf yang melakukan kontak dengan pasien; dan b) untuk memberikan ruang penyangga udara (airlock) menjalankan fungsinya untuk mempertahankan tekanan.

Kontrol lalu lintas ke Ruang Isolasi Infeksi dapat dilakukan dengan menerapkan sistem akses kontrol pintu yang lebih tinggi/ketat seperti dengan pemanfaatan EcoStruxure Security Expert. Dengan sistem akses kontrol pintu, maka hanya perawat khusus yang berwenang yang dapat mengakses Ruang Isolasi Infeksi sehingga dapat membantu membatasi jumlah petugas kesehatan yang terpapar. Sistem akses kontrol pintu juga perlu ditunjang dengan sistem lokasi real-time, sehingga rekam jejak petugas kesehatan yang memasuki ruangan dan di mana mereka kemudian bepergian akan sangat terlacak secara detil.

Airlock juga penting untuk menyediakan ruang bersih dalam (ante room), di mana petugas kesehatan dapat mengenakan alat pelindung diri (APD) mereka. Petugas kesehatan juga harus memastikan kedua pintu tersebut tidak terbuka pada saat yang bersamaan, maka tekanan ruangan tidak akan terpengaruh.

4. Memantau suhu udara dan kelembaban ruangan

Fungsi HVAC (heating, ventilation, dan air-conditioning) atau sering dikenal dengan istilah sistem tata udara adalah untuk menyediakan kondisi yang nyaman bagi pasien, namun hal ini juga berdampak pada pertumbuhan dan kelangsungan hidup bakteri dan virus.

Saat ini memang belum dapat dipastikan dalam suhu udara dan kelembaban seperti apa COVID-19 ini bertransmisi atau hilang. Namun sebagai contoh Memarzadeh's (2011) ‘Engineering Perspective on The Envrioment of Care and Health Care-Associated Infections’ untuk ASHE menyimpulkan bahwa suhu dan kelembaban relatif mempengaruhi transmisi.

Penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kelembaban relatif rata-rata dari 35 persen menjadi 50 persen dapat mempercepat penghapusan Virus Influenza A yang menular dan membantu mencegah atau mengurangi infeksi.

Ruang Isolasi Infeksi harus dilengkapi dengan pemantauan suhu dan kelembaban relatif. Pemanfaatan sensor Internet of Things (IoT) seperti EcoStruxure Building Advisor dapat menyediakan pemantauan ruangan dari parameter ini dan memberikan analisis yang lebih rinci untuk tim fasilitas dan pengendalian infeksi untuk mengidentifikasi area di mana kelembaban mungkin berdampak pada bertumbuhnya bakteri (kelembaban tinggi) atau virus (kelembaban rendah).

5. Memastikan sistem filtrasi udara berjalan dengan baik dan status udara bersih

Seperti disebutkan, ukuran partikel virus ini sangat kecil dan filtrasi yang sesuai diperlukan untuk memastikan mereka tidak hanya dipindahkan dari satu area ke area lain. Udara dari Ruang Isolasi Infeksi seharusnya tidak diresirkulasi, tetapi langsung dikeluarkan dan disaring di luar ruangan.

Filter High-Efficiency Particle Air (HEPA) diperlukan untuk menghilangkan partikel yang sangat kecil. Untuk layanan kesehatan, mereka perlu mengeluarkan 0,3 μm atau lebih besar dan dimonitor serta dipelihara. Tim fasilitas harus memastikan mereka mengganti filter ini sesuai kebutuhan berdasarkan status kotor dari sensor yang memantau penurunan tekanan pada filter. ASHRAE juga menyediakan panduan untuk menerapkan prosedur keselamatan personel saat mengganti filter. Bergantung pada jenis organisme dan kontaminan lain yang dikumpulkan pada media yang digunakan, penilaian risiko harus dilakukan.

6. Memastikan ketersediaan suplai listrik 24 jam / 7 hari

Memastikan peralatan kesehatan bekerja terus menerus sangat penting untuk keselamatan pasien dan staf. Pemanfaatan teknologi dalam memastikan keandalan listrik di rumah sakit sangat krusial karena berdampak langsung terhadap keselamatan pasien. Teknologi analitik seperti EcoStruxure Power dapat membantu memprediksi adanya anomali sebelum terjadinya gangguan fungsi peralatan listrik sehingga rumah sakit
dapat beroperasi secara optimal.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

schneider electric Virus Corona
Editor : Andhika Anggoro Wening
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top