Karyawan menghitung uang di salah satu gerai penukaran uang di Jakarta, Senin (3/2/2020). Bisnis/Arief Hermawan P
Fashion

Ini Pertimbangan Investor Menanam Modal

Krizia Putri Kinanti
Jumat, 13 Maret 2020 - 09:42
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Di tengah ketidakpastien ekonomi global saat ini, maka sektor ekonomi kreatif menjadi sorotan pemerintah untuk mendongkrak pertumbuhan perekonomian Indonesia.

Beberapa sektor ekonomi kreatif yang menjadi sorotan dari pemerintah khususnya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif guna mendorong pertumbuhan ekonomi adalah arsitektur, desain interior, desain-komunikasi-visual (DKV), desain produk, fashion, film-animasi-video, fotografi periklanan, kerajinan, kuliner, musik, aplikasi, pengembangan permainan, penerbitan, periklanan, TV dan radio, seni pertunjukkan, dan seni rupa.

Pertumbuhan positif ekonomi kreatif dan sorotan pemerintah ini pun sejalan dengan proyeksi investasi para investor. Sebagai informasi, kontribusi ekonomi kreatif menurut data dari OPUS Ekonomi Kreatif 2019, yang mencapai Rp1.105 triliun terhadap PDB Nasional. Tahun ini pun, kontribusi ekonomi kreatif terhadap perekonomian nasional diperkirakan meningkat di angka 7,44 persen.

Devina Halim, Investment Associate East Ventures, berbagi pengalaman dan insight terkait perubahan tren investasi bagi para pelaku usaha rintisan (startup) di event Jurnal Entrepreneur bertajuk Strategi Menyusun Laporan Keuangan untuk Memikat Hati Investor yang berlangsung di GoWork Menara Rajawali, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Lima tahun lalu, saat ekonomi digital Indonesia sedang bertumbuh, investor fokus melakukan penanaman modal pada startup yang mengedepankan pemanfaatan teknologi canggih dalam menjual jasa yang diberikan, seperti e-commerce, ride hailing, dan lainnya.

Kini, investor mulai mengeksplor sektor bisnis lainnya yang diproyeksi dapat memberikan kontribusi besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia, misalnya F & B, kesehatan, ritel, perfilman maupun animasi.

Namun dengan kondisi perekonomian yang sedang bergejolak ini, investor pun sangat berhati-hati dalam menanamkan modal kepada para pemilik usaha.

Sebagai perusahaan penanam modal pada bisnis di fase awal, East Ventures, memiliki beberapa pertimbangan sebelum melakukan investasi, tahapan awal seleksi adalah memastikan status usaha yang sudah perusahaan terbatas (PT) guna memitigasi penipuan secara legal dan kepemilikan Laporan Keuangan dengan matriks tepat yang bisa ‘dijual’ kepada investor.

Misalnya, bagi perusahaan ritel atau makanan dan minuman, pelaku usaha tak bisa hanya memamerkan jumlah pengikut (followers) di akun media sosial dan mengklaimnya sebagai basis konsumen. Mereka perlu menunjukkan matriks lain yang berkaitan langsung dengan volume penjualan yang akhirnya berujung pada laba bersih perusahaan.

Beberapa komponen lain yang menjadi pertimbangan utama investor untuk menanam modal antara lain:

1.Target pasar

Pemilik usaha harus memetakan serta memiliki target pasar yang jelas dan peminat yang sesuai dengan produk.

2.Skalabilitas

Memetakan strategi skalabilitas yang tepat guna memastikan pemilik usaha dapat meraup profit dengan usaha dan biaya yang efisien. Misal di sektor F&B, salah satu tantangan terbesarnya adalah menentukan lokasi yang tepat untuk menyasar target pasar produk tersebut.

3.Rasio pengembalian investasi (RoI)

Hal yang perlu dijalankan pelaku usaha adalah melakukan efisiensi di berbagai lini tanpa menghambat perkembangan usaha, misalnya menekan biaya produksi, atau gaji karyawan. Selain itu, pebisnis juga perlu menemukan solusi agar pola distribusi bisa lebih efisien dan tepat sasaran. Pada akhirnya, beban usaha akan menyusut dan bisa menghasilkan laba yang maksimal serta dengan rasio RoI yang tinggi.

4.Tim perusahaan yang produktif

Investor akan sangat tertarik dengan tim manajemen yang saling melengkapi dalam berbagai lini kerja. Misalnya, ada yang berjiwa pemimpin dan mampu membawa perusahaan dalam visi jangka panjang, ada anggota tim yang cakap menjalankan marketing, dan anggota tim yang mahir dengan perkembangan teknologi.

5.Mampu menghadapi persaingan

Perusahaan harus memiliki strategi untuk tetap bertahan di sektor industri yang digeluti dan memenangkan persaingan dengan kompetitor lain.

6.Adaptasi dengan tren yang berkembang

Saat ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia didorong oleh konsumsi dengan perubahan dari satu tren ke tren lain yang sangat cepat. Baik dari sektor industri maupun perubahan teknologi yang membuat semua hal mengarah pada efisiensi. Untuk itu, perusahaan harus mampu beradaptasi dengan tren yang terus berkembang.

Menurut Devina, kecanggihan teknologi saat ini dapat mengambil peran dalam pertumbuhan usaha. Bertumbuhnya startup penunjang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) serta software as a service (SaaS) juga hadir sebagai solusi bagi para pemilik usaha dalam menunjang produktivitas bisnis mereka.

"Misalnya, untuk mengelola laporan keuangan usaha yang rapi dan baik, bisa menggunakan software akuntansi berbasis cloud seperti Jurnal. Dengan teknologi terdepan dan fitur yang telah terintegrasi dengan POS dan beberapa bank besar di Indonesia, jurnal memberikan kemudahan bagi pemilik usaha untuk mengelola pembukuan dengan akurat dan efisien melalui automasi," ujarnya melalui siaran resmi, Jumat (13/3/2020).

Hal ini bisa meminimalisir risiko kesalahan pencatatan dan membantu pemilik usaha mengetahui status keuangan perusahaan secara real time, menolong mereka dalam mengambil keputusan strategis guna mendorong pertumbuhan usaha, juga membuka akses finansial untuk mendukung pertumbuhan bisnis.

 

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro