Menimbang Efek Samping dari Chloroquine dan Avigan

obat Avigan adalah obat Influenza yang dibuat di Jepang, dan sampai sekarang masih fase penelitian klinis untuk pengobatan Covid-19. Sama seperti Chloroquine, belum ditetapkan juga oleh WHO sebagai obat Covid-19.
Krizia Putri Kinanti
Krizia Putri Kinanti - Bisnis.com 24 Maret 2020  |  14:45 WIB
Menimbang Efek Samping dari Chloroquine dan Avigan
Obat Chloroquine - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Setelah Presiden Joko Widodo mengatakan pemerintah Indonesia akan memesan jutaan obat untuk menyembuhkan pasien virus corona baru Covid-19, Jumat (29/3/2020) yang berupa avigan dan chloroquine, banyak masyarakat berbondong-bondong membeli obat ini tanpa resep dokter.

Tidak hanya Presiden Joko Widodo, Presiden Donald Trump juga mengunggah tulisan di Twitter pada 21 Maret 2020, yang berisi "Hydroxychloroquine & Azithromycin diminum bersamaan memiliki potensi besar sebagai terobosan baru di bidang kesehatan."

Pada 25 Februari lalu, Menteri Kesehatan Jepang Katsunobu Kato juga merekomendasikan avigan (faviparavir) untuk mengobati virus corona. Avigan adalah obat antivirus yang dikembangkan oleh Toyama Chemical (kelompok Fujifilm) Jepang dengan aktivitas melawan banyak virus RNA.

Faviparavir adalah obat antivirus eksperimental tertentu lainnya (T-1105 dan T-1106), sekaligus turunan pyrazinecarboxamide.

Sementara, dikutip dari www.cdc.gov, Chloroquine juga dikenal sebagai chloroquine phosphate adalah obat antimalaria. Pemanfaatan obat ini harus berdasarkan resep dokter.

Di pasaran, obat dijual sebagai obat generik maupun obat bermerek. Tersedia dalam tablet dengan dua ukuran: 150 mg dan 300 mg. Chloroquine diresepkan untuk pencegahan atau pengobatan malaria.

Beredar video whatsapp seorang pria menjelaskan kegunaan kedua obat ini, membuat masyarakat berbondong-bondong 'latah' membeli obat ini untuk disimpan bahkan untuk langsung dikonsumsi. Betulkah obat ini aman untuk dikonsumsi tanpa resep dokter?

Direktur Eksekutif Lembaga Kajian dan Konsultasi Pembangunan Kesehatan (LK2PK) dr. Ardiansyah Bahar menuturkan bahwa obat chloroquine dan avigan belum ditetapkan sebagai obat COVID-19, sehingga penggunaannya harus sesuai dengan resep dokter.

"Obat Chloroquine selama ini kita gunakan sebagai obat Malaria. Memang sudah ada penelitian terkait efektivitasnya sebagai obat Covid-19, tapi masih berjalan. WHO juga belum menetapkannya sebagai obat Covid-19. Penggunaannya harus dengan resep dokter, karena memiliki beberapa efek samping," ujarnya ketika dihubungi Bisnis, Selasa (24/3/2020).

Sementara, obat Avigan adalah obat Influenza yang dibuat di Jepang, dan sampai sekarang masih fase penelitian klinis untuk pengobatan Covid-19. Sama seperti Chloroquine, belum ditetapkan juga oleh WHO sebagai obat Covid-19. Penggunaannya juga harus hati-hati karena beresiko bagi ibu hamil.

"Jadi keduanya masih dalam tahap penelitian, sehingga bila digunakan di Indonesia mesti ada studi klinisnya, dilaporkan dan dalam pengawasan ketat. Oleh karena keduanya adalah obat keras yang memiliki efek samping, penggunaannya harus dengan resep dan anjuran dokter," ujarnya.

Beberapa kasus meninggal akibat mengkonsumsi obat chloroquine sudah diberitakan media, seperti yang dilansir dari www.axios.com, pasangan suami istri berumur 60 tahun, warga Amerika Serikat dilaporkan telah mengkonsumsi obat chloroquine tanpa resep dokter sehingga menyebabkan sang suami meninggal dunia dan istrinya dirawat intensif. Tidak hanya itu, dua orang warga Nigeria juga dilaporkan mengalami keracunan obat chloroquine karena tidak diminum berdasarkan anjuran dokter.

Itu mengapa, lembaga-lembaga kesehatan menghimbau agar warga tidak melakukan self-medicate atau mengobati diri sendiri tanpa anjuran dokter karena rentan terkena efek samping yang ditimbulkan obat itu, mengingat chloroquine dan hydroxychloroquine belum ditetapkan sebagai obat untuk mencegah atau mengobati virus corona.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Virus Corona

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top