Petugas menyemprotkan cairan disinfektan di area Museum Fauna Indonesia Komodo dan Taman Reptilia di kawasan wisata Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Selasa (18/3/2020). Pengelola TMII secara bertahap melakukan rangkaian tindakan disinfeksi di setiap lokasi wisata dan anjungan sebagai antisipasi terhadap penyebaran virus Corona (Covid-19). Bisnis/Arief Hermawan P
Health

Viral Bilik Disinfeksi Penyebab Kanker, Begini Penjelasan Pakar

JIBI
Senin, 30 Maret 2020 - 07:55
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Sebuah artikel viral di media sosial mengatakan penggunaan bilik disinfeksi malah membahayakan kesehatan.

Artikel itu menyoroti maraknya pendirian bilik-bilik disinfeksi yang menyemprotkan disinfektan ke tubuh mereka yang berada di dalamnya untuk perlindungan di masa wabah virus corona Covid-19 sekarang ini.

Artikel itu diketahui berasal dari sebuah situs media kesehatan health.grid.id. Satu contoh bilik disinfeksi yang diterangkannya adalah yang dibuat Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

“Menurut WHO, bilik yang berisikan cairan desinfektan seperti alkohol, clorin, H2O2 justru membahayakan manusia hingga dua tahun ke depan (karsinogenik), dan sampai saat ini tidak ada cairan apapun yang direkomendasikan,” tulis artikel itu.

Chandra Risdian, peneliti biokimia dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) membenarkan bahwa tidak ada rekomendasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk penggunaan disinfektan ke tubuh manusia.

Dalam literatur tentang bahan-bahan aktif dan produk rumah tangga untuk disinfeksi virus corona penyebab Covid-19 yang dibuatnya--dan kemudian dibagikan LIPI--pun, Chandra telah memperingatkan agar tidak ada kontak dengan mata dan kulit.

 “Disinfektan yang saya tulis bukan untuk digunakan langsung ke manusia tapi ke benda,” katanya saat dihubungi, Minggu  (29/3/2020).

Dalam literatur dia menyertakan beberapa bahan aktif disinfektan, di antaranya sodium hipoklorit seperti yang ada di produk pembersih Bayclin, hidrogen peroksida, dan sejumlah turunan alkohol yang biasa ada di produk seperti Dettol dan Wipol.

Chandra meminta masyarakat pengguna bahan-bahan disinfektan agar selalu memeriksa label dan instruksi penggunaan yang disertakan. Waspadai potensi bahaya dari setiap produk meski pada kadar tertentu ada zat yang aman untuk kulit. Dia mencontohkan sodium hipoklorit yang bisa sampai 0,05 persen untuk batas minimal kadar efektif. Tapi alkohol (ethanol) batas minimalnya 62 persen.

Dia memberi ilustrasi penggunaan alkohol 60 persen akan memberi rasa perih jika kena mata. Sedang pencampuran antar bahan aktif tersebut, menurut Chandra, sangat mungkin menciptakan efek karsinogenik.

“Pesan saya untuk masyarakat yang membuat bilik-bilik desinfektan: tanyakan ke penyedia, apa isi disinfektan yang digunakan, berapa kadarnya, dan tunjukkan bukti kalau itu aman buat kulit. Kalau tidak, jangan lakukan,” kata peneliti yang masih berada di Jerman untuk kepentingan risetnya itu.

Penulis : JIBI
Editor : Nancy Junita
Sumber : Tempo.Co
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro