Para Dokter di Italia Khawatir Penggunaan Chloroquine dan hydroxychloroquine untuk Covid 19

Dilansir dari express.co.uk, para dokter tersebut juga mempertanyakan langkah mengambil risiko penggunaan obat tersebut jika terjadi pandemi
Yudi Supriyanto
Yudi Supriyanto - Bisnis.com 03 April 2020  |  12:55 WIB
Para Dokter di Italia Khawatir Penggunaan Chloroquine dan hydroxychloroquine untuk Covid 19
Obat-obatan - boldsky.com

Bisnis.com, JAKARTA - Para dokter dari Universitas Sapienza, Roma, Italia mengkhawatirkan penggunaan chloroquine (CQ) and hydroxychloroquine (HCQ) untuk mencegah penyebaran virus Corona baru (COVID-19), karena belum adanya data pengobatan yang membuktikan hal tersebut sampai ketersediaan pasokannya.

Dilansir dari express.co.uk, para dokter tersebut juga mempertanyakan langkah mengambil risiko penggunaan obat tersebut jika terjadi pandemi.

"Dalam kasus seperti itu, apakah masuk akal untuk mempertimbangkan antimalaria sebagai profilaksis utama pada subyek sehat yang tinggal di daerah berisiko tinggi atau setidaknya, untuk menggunakannya pada mereka yang dites positif Covid-19 tetapi masih tanpa gejala?" kata para dokter dilansir dari express.co.uk pada Jumat (3/4/2020).

Saat ini, komunitas ilmiah bergerak pada penggunaan antimalaria yang bersifat pre-emptive sembari menunggu data yang mendukung dari uji klinis.

Kekhawatiran penggunaan antimalaria untuk COVID-19 juga terkait dengan pasokan obat-obatan tersebut jika "profilaksis masal" yang didekati disetujui karena pasokan yang ada kemungkinan tidak akan mencukupi.

The European League Against Rheumatism (EULAR), yang bekerja sama dengan Annals of the Rheumatic Diseases with the British Medical Journal (BMJ) menyuarakan keprihatinan mereka terkait penggunaan masal obat-obatan tersebut untuk mengobati pasien COVID-19.

Menurutnya, penggunaan masal obat-obatan tersebut dapat berimplikasi terhadap orang yang menderita rematik, sehingga perlu dipikirkan mengenai pasokannya.

Profesor Iain Mclnnes, Presiden EULAR, memperingatkan kebutuhan setelah menggunakan obat-obatan juga harus dipertimbangkan.

"EULAR prihatin, bahwa pengalihan pasokan obat jauh dari orang dengan penyakit rematik dan muskuloskeletal dapat membahayakan kesehatan kelompok pasien yang penting dan cukup besar ini di Eropa dan di luarnya," katanya.

Jadi, dia menuturkan perlu pendekatan seimbang yang dapat memenuhi kebutuhan antara untuk pasien pandemi COVID-19 dan pasien lain yang sudah menggunakan obat-obatan ini.

Saat ini, kelompok keanggotaan pasien EULAR (PARE) telah meminta agar pabrik obat bersiap untuk meningkatkan produksi untuk memenuhi potensi peningkatan permintaan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
malaria, Virus Corona

Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top