Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Riset Global Health: Virus Corona Lebih Banyak Membunuh Pria, Mengapa?

Risiko kematian yang disebabkan oleh virus Corona (Covid-19) lebih tinggi dibandingkankan dengan perempuan.
Asteria Desi Kartika Sari
Asteria Desi Kartika Sari - Bisnis.com 13 April 2020  |  18:40 WIB
Tenaga medis memegang termometer di kawasan rumah sakit di Brescia, Italia, Jumat (13/3/2020). Penyebaran wabah virus corona (Covid-19) di Italia cukup signifikan dengan pertumbuhan jumlah kematian pasien yang mencapai 14 persen. Bloomberg - Francesca Volpi\\n
Tenaga medis memegang termometer di kawasan rumah sakit di Brescia, Italia, Jumat (13/3/2020). Penyebaran wabah virus corona (Covid-19) di Italia cukup signifikan dengan pertumbuhan jumlah kematian pasien yang mencapai 14 persen. Bloomberg - Francesca Volpi\\n

Bisnis.com, JAKARTA - Riset akademik Global Health 50/50 menunjukkan bahwa pria lebih berisiko menghadapi kematian saat pandemi virus Corona (Covid-19).

Sebanyak 20 negara, termasuk daerah dengan beberapa wabah paling parah seperti Italia, China, Jerman, dan Spanyol menganalisis bahwa pria 50 persen hingga 80 persen lebih mungkin meninggal akibat virus Corona setelah didiagnosis daripada wanita.

Italia telah melaporkan salah satu perbedaan paling mencolok antara kematian pria dan wanita. Pria yang meninggal sebanyak 68% pasien dari total orang yang meninggal dunia.

Sementara itu, di China, Spanyol, dan Jerman, laki-laki mewakili kurang dari 65% dari total kematian akibat virus korona. Pola ini juga berlaku untuk negara-negara dengan wabah yang lebih kecil.

Australia, misalnya, telah melaporkan sekitar 6.000 kasus - dibandingkan dengan ratusan ribu di Jerman, Spanyol, dan Italia - tetapi laki-laki masih mewakili sekitar 60% dari kematian akibat virus Corona.

Tidak ada negara dalam analisis yang melaporkan bagian perempuan yang meninggal akibat virus lebih tinggi daripada laki-laki. Bahkan di Korea Selatan, di mana wanita mewakili sekitar 60% dari total kasus, lebih banyak pria meninggal karena Covid-19 daripada wanita.

Pria lebih cenderung mempraktikkan kebiasaan yang tidak sehat, termasuk merokok. Beberapa ilmuwan percaya bahwa faktor perilaku dapat membuat pria lebih rentan terhadap kasus Covid-19 yang parah.

Pria rata-rata merokok lebih banyak daripada wanita, dan merokok meningkatkan risiko berbagai masalah pernapasan. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Cina, lebih dari 50 persen pria China merokok, sementara kurang dari 3 persen wanita China merokok. 

Di Italia, sekitar 7 juta pria perokok dan 4,5 juta wanita perokok. Peluang perokok membutuhkan perawatan intensif dan ventilasi mekanik lebih dari dua kali lipat risiko untuk bukan perokok, menurut Institut Kesehatan Nasional Italia.

Survei juga menunjukkan bahwa laki-laki AS lebih kecil kemungkinannya untuk mencuci tangan dan lebih sedikit menggunakan sabun.

Pria juga bisa lebih rentan terhadap masalah kesehatan yang mendasarinya. Faktor biologis juga bisa berperan dalam perbedaan antara kematian pria dan wanita.

Sebuah studi pada tikus yang dilakukan di University of Iowa, misalnya, menemukan bahwa gen pada kromosom X dan hormon-hormon seperti estrogen dapat membuat tikus betina kurang rentan terhadap SARS, sejenis coronavirus lainnya. (Coronavirus baru berbagi 79,5 persen dari kode genetiknya dengan SARS.)

Penelitian juga menunjukkan bahwa orang dengan kondisi kesehatan yang sudah ada sebelumnya seperti tekanan darah tinggi lebih sering mengembangkan gejala coronavirus parah. Dan di banyak negara, pria memiliki tingkat masalah kesehatan yang mendasarinya lebih tinggi.

Selain itu, pria di Italia dan China memiliki tingkat tekanan darah tinggi yang lebih tinggi daripada wanita di kedua negara. Pria China juga lebih cenderung memiliki diabetes tipe 2 daripada wanita Cina.

Komorbiditas ini, atau risiko bersamaan, tampaknya meningkatkan kemungkinan bahwa pasien coronavirus akan mengembangkan kondisi seperti sindrom gangguan pernapasan akut, cedera paru yang mengancam jiwa yang kadang-kadang membutuhkan intubasi.

"Kami melihat secara umum bahwa hanya ada tingkat penyakit parah yang lebih tinggi diantara pria," Megan Coffee, dokter penyakit menular di New York City, seperti dikutip Business Insider.

Dia menambahkan perempuan tentu saja dapat mengembangkan sindrom gangguan pernapasan akut, tetapi ada kecenderungan terhadap pria untuk mengembangkan hasil yang parah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kematian pria Virus Corona covid-19
Editor : Novita Sari Simamora

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Banner E-paper
To top