Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Urusan Pekerjaan dan Pribadi Seimbang, Lebih Sehat Secara Mental

Hana menyatakan, keterbukaan sosial dan keseimbangan hidup menjadi langkah preventif mencegah gangguan kesehatan mental lebih lanjut.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 28 April 2020  |  06:20 WIB
Ilustrasi - Thefiscaltime
Ilustrasi - Thefiscaltime

Bisnis.com, JAKARTA – Keterbukaan pada kondisi diri sendiri baik secara fisik maupun psikis menurut seniman Hana Alfikih atau dikenal dengan nama Hanna Madness adalah langkah penting menyeimbangkan kehidupan diri sendiri dan pekerja.

Hana menyatakan, keterbukaan sosial dan keseimbangan hidup menjadi langkah preventif mencegah gangguan kesehatan mental lebih lanjut.

“Aku pribadi memang concern pada masalah kesehatan jiwa karena aku pun mengalami disabilitas mental. Maka menjadi penting sekali untuk membuka diri pada keluarga, teman-teman, dan lingkungan pekerjaan tentang kebutuhan kita,” kata Hana saat dihubungi Bisnis, beberapa waktu yang lalu.

Seniman doodle arts yang pernah menjadi delegasi dari British Council Indonesia untuk mengikuti Unlimited Festival di London pada 2016 lalu menjelaskan pentingnya keterbukaan pada sesama untuk menjadi support system atau care giver.

Dia mengatakan, saat dia menyadari mengalami disabilitas mental dalam mengatur emosi, dia pun membutuhkan support system untuk membantu dia mengelola proyek-proyek seni. Hal ini menjadi penting, apalagi jika seniman tersebut sudah profesional dan klien tahu ritme kerja seniman tersebut.

“Kalau kesulitannya banyak, tak bisa mengontrol keadaan emosional, itu malah jadi sulit. Berantakan deadline yang harus dikirim, emosi tak stabil. Kalau ada support system, relasi sosial yang baik, kondisi seperti itu bisa diminimalisir,” sambungnya.

Dia pun menjelaskan, kiat sukses menyeimbangkan kehidupan pribadi dan pekerjaan atau work life balance perlu ada keterbukaan antara pekerja apapun termasuk pekerja seni dengan kolega ataupun atasan. Beberapa contoh, jika Anda hendak mengambil cuti untuk pergi ke psikolog dan psikiater, Hana menilai Anda harus jujur kepada atasan Anda.

“Seharusnya saat mengatakan itu pun tidak ada stigma dan rasa malu untuk terbuka. Hal itu bisa menunjang produktivitas juga ke depannya,” kata Hana.

Dia melanjutkan, selain peduli pada kesehatan mental seorang pekerja juga harus peduli pada kesehatan fisik. Misalnya, jika dirasa bobot tubuh tak sehat dan kurang ideal, tak perlu malu untuk pergi berkonsultasi ke ahli gizi. Tujuannya, dengan menjaga berta badan ideal yang sehat bisa menunjang produktivitas.

“Lalu juga misalnya bagaimana menyeimbangkan olahraga, meditasi, itu semua bisa didatangkan dari ahlinya. Kantor pun bisa didorong menciptakan lingkungan yang sehat, bukan saling menindas,” tukasnya.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

karir Revolusi Mental Tips Karir
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top