Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Detak Jantung Tidak Beraturan, Hati-hati Aritmia!

Gangguan organ jantung seperti tidak memiliki irama yang tidak beraturan bisa saja menyerang orang yang sehat.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 20 Mei 2020  |  12:34 WIB
Gejala penyakit jantung
Gejala penyakit jantung

Bisnis.com, JAKARTA - Aritmia, gangguan yang terjadi pada irama jantung bisa menyerang siapa saja, sekalipun mereka yang terlihat sehat.

Hal tersebut disampaikan Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, dr. Vito Anggarino Damay. "Aritmia bukan hanya soal pola hidup tidak sehat. Orang yang terkesan sehat pun bisa punya aritmia," ujarnya kepada Bisnis, Rabu (20/5/2020).

Sebenarnya aritmia normal terjadi pada kondisi jantung yang sehat. Namun bila terjadi terus menerus atau berulang, aritmia bisa menandakan adanya masalah pada organ jantung.

Vito menyebut aritmia bisa dikatakan bahwa jantung sedang korslet. Hal tersebut bisa disebabkan karena faktor genetik, atau penyakit jantung lain seperti serangan jantung atau jantung yang membesar.

"Jadi misalnya ada penebalan dinding jantung akibat tekanan darah tinggi atau jantung membengkak akibat kehamilan. Namanya hypertensive heart disease atau peripartum cardiomyopathy," tuturnya.

Gejala aritmia bisa dikenali mulai dark jantung berdebar, pusing, pingsan, bahkan sampai meninggal mendadak. Gejala bisa terjadi pada malam hari dimana tiba-tiba jantung berdebar, berdetak tidak beraturan.

Vito menerangkan, aritmia ada skalanya. Mulai dari aritmia ringan yang bisa diabaikan, aritmia karena gangguan nutrisi namun bisa diobati, aritmia yang bisa dikontrol dengan obat, dan aritmia berat yang tidak bisa diobati atau disembuhkan.

Untuk aritmia ringan atau berat kata Vito bisa ketahui dari pemeriksaan Elektrokardiografi (EKG). Artimia karena gangguan nutrisi terjadi apabila garam dalam tubuh seperti kalium kurang atau berlebih.

Sementara Aritmia yang tidak bisa diobati misalnya atrial fibrilasi yang menyebabkan denyut jantung tidak beraturan dan cepat. Aritmia jenis ini bisa menyebabkan stroke.

"Obat biasanya tidak bisa membuat dia kembali normal, hanya terkontrol saja detaknya agar tidak terlalu cepat tapi tetap saja tidak beraturan," sebut Vito.

Oleh karena itu, untuk mengantisipasi ada masalah seperti aritmia, Vito menyarankan agar masyarakat, mengecek kantuk sejak dini, atau sejak usia 20 tahun menurut American Heart Association. "Apalagi yang mau olahraga rutin atau maraton atau bahkan atlet," tukasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jantung penyakit jantung
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top