Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Awas! Sering Berpikiran Negatif Berpotensi Terkena Demensia

Dilansir dari Insider, Selasa (9/6/2020), hal tersebut diketahui berdasarkan studi yang melibatkan pemindaian otak dan pemantauan perilaku terhadap 360 orang, berusia di atas 55 tahun.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 09 Juni 2020  |  12:09 WIB
Ilustrasi demesia - usdoj.gov
Ilustrasi demesia - usdoj.gov

Bisnis.com, JAKARTA – Para peneliti dari University College London menemukan keterkaitan antara berpikiran negatif dengan penurunan daya ingat atau berpikir yang biasa disebut demensia.

Dilansir dari Insider, Selasa (9/6/2020), hal tersebut diketahui berdasarkan studi yang melibatkan pemindaian otak dan pemantauan perilaku terhadap 360 orang, berusia di atas 55 tahun. Mayoritas dari mereka berkulit putih, dan 73% diantaranya perempuan. Partisipan yang terlibat hidup dengan seorang kerabat yang pernah mengalami demensia dan sebagian besar sering berpikiran negatif.

Perilaku berpikir negatif itu termasuk terus mengkhawatirkan masa depan dan terus berpikir tentang masalah atau emosi mereka. Peserta mengisi survei tentang gejala depresi dan kecemasan, serta menilai fungsi kognitif mereka. Fungsi-fungsi itu termasuk memori, bahasa, dan rentang perhatian.

Lebih dari sepertiga (113) partisipan menjalani pemindaian otak PET, yang mengungkapkan endapan protein tau dan beta amiloid, tanda-tanda peringatan yang dicari dokter untuk mendeteksi Alzheimer pada tahap awal.

Mereka menemukan bahwa orang-orang dengan pola pikir negatif dan berulang lebih cenderung memiliki penumpukan protein di otak mereka. Orang-orang yang sama juga memiliki tingkat penurunan kognitif yang lebih tinggi.

"Temuan dari penelitian ini memberikan dukungan lebih lanjut pentingnya kesehatan mental untuk dipertimbangkan dalam skrining demensia," kata penulis studi Natalie Marchant, seorang psikiater dan peneliti senior di departemen kesehatan mental di University College London.

Depresi dan kecemasan memang dikenal sebagai faktor risiko Alzheimer, tetapi penelitian ini berupaya menjelaskan alasan yang mendasarinya. Alzheimer adalah bentuk paling umum dari demensia, penyakit yang menyebabkan sel-sel otak terbuang, dan ditandai oleh penurunan keterampilan kognitif dan sosial, serta hilangnya fungsi ketahanan diri.

Para peneliti, mengamati cara berpikir negatif orang dengan depresi dan kecemasan berpikir, dan efek jangka panjang yang mungkin terjadi. Hal ini mungkin bisa menjelaskan mengapa depresi dan kecemasan tetap menjadi faktor risiko.
Dr. Gael Chételat, dari Université de Caen-Normandie, mengemukakan bahwa praktik pelatihan mental seperti meditasi dapat membantu untuk mengatasi potensi demensia ini. Dengan melakukan meditasi, aura positif tubuh dan pikiran pun akan lebih tenang sehingga menurunkan pemikiran negatif.

Sementara itu, Fiona Carragher, Direktur Penelitian dan Pengaruh di Alzheimer's Society menilai perlu penelitian lebih lanjut. Pasalnya penelitian yang dilakukan peneliti dari University College London tidak berlaku secara umum karena partisipan berkulit putih dan sebagian besar perempuan. Partisipan yang terlibat pun sudah dideteksi berpotensi terhadap penyakit ini.

"Sebagian besar orang dalam penelitian ini sudah diidentifikasi memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit Alzheimer. Jadi kita perlu melihat apakah hasil ini berlaku dalam populasi umum dan jika pemikiran negatif yang berulang meningkatkan risiko Alzheimer penyakit itu sendiri,” singgung Carragher.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

negatif Demensia
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top