Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Waspada, Chat Online Berisiko Tingkatkan Pelecehan Seksual Pada Remaja

Remaja cenderung mengunjungi ruang obrolan (chat di dunia maya) yang berisiko memicu pelecehan seksual.
Krizia Putri Kinanti
Krizia Putri Kinanti - Bisnis.com 29 Juni 2020  |  10:05 WIB
Ilustrasi chat online
Ilustrasi chat online

Bisnis.com, JAKARTA -- Sebagai orang tua, kita sangat khawatir tentang anak remaja saat mereka bermain dengan Internet.

Dengan banyaknya waktu yang mereka habiskan untuk online, orangtua khawatir apa yang anak-anak remaja mereka lakukan ketika mereka berseluncur di internet, atau chat online dengan orang lain.

Pertanyaannya adalah, siapa yang mereka ajak chat, dan apa yang mereka bicarakan?

Dunia virtual memberi pengguna kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lain dari seluruh penjuru dunia, dari semua latar belakang demografis, dan dari segala usia.

Hal ini dapat membenarkan kekhawatiran para orang tua yang anak-anaknya menghabiskan banyak waktu online.

Tetapi apakah anak muda berisiko lebih besar tergantung pada jenis platform virtual apa yang mereka gunakan. Demikian menurut penelitian.

Dikutip dari Psychology Today, Senin (29/6/2020), Janis Wolak et al. (2010) dalam sebuah artikel berjudul "Online‘ Predator ’dan Korbannya" meneliti masalah ini.

Mereka mencatat penelitian sebelumnya menemukan bahwa remaja cenderung mengunjungi ruang obrolan (chat di dunia maya) yang berisiko memicu pelecehan seksual.

Mereka mencatat bahwa ruang obrolan, memungkinkan komunikasi langsung, antara pengguna, dan seringkali membahas "seksual eksplisit, sindiran seksual, dan bahasa cabul."

Dia mengatakan bahwa jenis atmosfer seksual ini dapat menarik predator anak di Internet. Jenis remaja tertentu mungkin berisiko lebih tinggi di ruang obrolan karena lebih rentan dari yang lainnya.

Dia menjelaskan anak remaja yang menghabiskan waktu di ruang obrolan, lebih cenderung memiliki riwayat pelecehan seksual,  terlibat dalam perilaku berisiko, memiliki masalah dengan orang tua, dan mengalami emosi negatif seperti depresi, kesedihan, atau kesepian.

Mereka mengakui bahwa ruang obrolan dapat menyediakan tempat bagi anak remaja yang tidak memiliki keterampilan sosial, atau sebaliknya pemalu atau kesepian, untuk membentuk hubungan online, yang sulit untuk dibentuk secara offline.

Meskipun platform virtual interaktif menarik bagi remaja dari berbagai usia, tapi mereka memiliki kemampuan berbeda dalam menavigasi interaksi sosial di ruang obrolan.

Wolak et al. mencatat remaja kurang diawasi perilaku aktivitas online nya oleh orang tua, yang membuat mereka lebih mudah disasar bagi pemangsa untuk berkorespondensi.

Wolak et al. memperhatikan bahwa dalam salah satu studi yang mereka ulas, sebagian besar pemangsa daring bertemu korbannya di ruang obrolan. Oleh karena itu, mereka menyarankan agar perilaku interaktif anak remaja dikurangi, dan tidak memposting informasi pribadi yang membuat mudah ditelusuri.

Bagi orang tua, juga sangat penting untuk memastikan anak remajanya terlindungi secara online. Caranya dengan komunikasi dan hubungan yang baik meningkatkan kemampuan keluarga dan teman-teman.

Selain itu, memantau aktivitas online remaja, yang menghabiskan banyak waktu bersosialisasi baik secara online maupun offline.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

chat Pelecehan Seksual
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top