Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Anak Tertular Tuberkulosis Lebih Bahaya Dibanding Orang Dewasa

Menekan laju penularan TBC bisa dilakukan bersamaan dengan penanggulangan wabah Virus Corona.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 23 Juli 2020  |  17:50 WIB
Foto rontgen sinar-X menunjukkan paru-paru yang terinfeksi tuberkulosis. - Reuters/Luke MacGregor
Foto rontgen sinar-X menunjukkan paru-paru yang terinfeksi tuberkulosis. - Reuters/Luke MacGregor

Bisnis.com, JAKARTA - Presiden Joko Widodo atau Jokowi minta agar Indonesia bisa menekan kasus penularan tuberkulosis (TB) atau TBC, dan bisa bebas TBC pada 2030.

Wiendra Waworuntu, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan RI, mengatakan bahwa menekan laju penularan TBC bisa dilakukan bersamaan dengan penanggulangan wabah Virus Corona.

Wiendra menyebut kalau situasi TBC di Indonesia lebih mengerikan daripada Covid-19. Setiap tahun ada 845.000 orang terinfeksi kuman Mycobacterium tuberculosis, dibandingkan Covid-19 yang yang 6 bulan memiliki kasus sekitar 90.000-an

Sementara itu, dari 845.000 orang terinfeksi TBC, 4 persen di antaranya adalah anak-anak, dan 1 persen di antaranya meninggal dunia.

“Ini yang mungkin perlu kita lihat sama-sama, angka kematian maupun jumlah kasus TB sangat tinggi, kita ketiga di dunia. Ini bukan prestasi,” tegas Wiendra, Kamis (23/7/2020).

Adapun, pada anak, penularan TBC lebih berbahaya, karena sistem imun tubuhnya yang belum kuat, sehingga TBC yang diidap anak bisa memberikan serangan lebih kuat seperti ke otak yang menyebabkan penyakit meningitis, atau TB tulang.

Kuman TB menular seperti Covid-19, yaitu lewat droplet, aturan-aturan pemerintah untuk menegakkan protokol kesehatan saat ini, dengan jaga jarak, cuci tangan, dan pakai masker, cukup membantu ikut menekan jumlah orang terpapar TBC.

Wiendra menegaskan, perlu peran stakeholder, kementerian lain dan masyarakat untuk membantu menakan laju tambahan kasus TBC di Indonesia.

“Kementerian Kesehatan tidak bisa bergerak sendiri. Pihak lain harus ikut bergerak mulai dari pemerintah kabupaten kota, dan masyarakat, untuk mendukung upaya kita yang belum optimal,” ungkapnya. 

Seperti bantuan dari Kementerian Dalam Negeri untuk pengadaan obat di daerah. Kementerian PUPR untuk memberikan syarat agar rumah harus ada ventilasi, terutama untuk pasien TBC.

“Kemenkes sudah cukup memberikan obat berkualitas, tapi kalau tidak ada bantuan dari sektor lain sulit,” tegasnya.

Selain itu, bantuan dari penyintas TBC juga diharapkan bisa dilibatkan untuk membantu sosialisasi kepada masyarkat untuk memberikan motivasi ke penderita lainnya, supaya rutin berobat dan tidak putus.

Dari pendidikan, kurikulum pendidikan juga harus diberikan pengantar mulai dari kedokteran bahkans ampai ke pendidikan dasar.

“Diharapkan masyakarat lebih sadar akan bahayanya TBC yang lebih besar dibandingkan dengan Covid-19. Dengan demikian, masyarakat mau melakukan pencegahan dan bagi yang sudah terpapar mau minum obat secara rutin selama enam bulan,” ungkap Wiendra.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona tuberkulosis covid-19
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top