Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tuberkulosis, ‘Preman Lama’ yang Masih Bercokol hingga Kini

Dokter Wahyuni Indawati SpA(K), anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), mengatakan sering kali orang tidak menyangka kalau anak-anak bisa sakit TBC.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 23 Juli 2020  |  18:11 WIB
TBC adalah penyakit menular yang bisa menyerang siapa saja, tua, muda maupun anak-anak. JIBI - Bisnis/Nancy Junita
TBC adalah penyakit menular yang bisa menyerang siapa saja, tua, muda maupun anak-anak. JIBI - Bisnis/Nancy Junita

Bisnis.com, JAKARTA – Anak sering kali tak mendapat perhatian penuh ketika dikaitkan dengan penyakit serius seperti tuberkulosis (TBC) atau TB. Padahal, penyakit ini bisa lebih berbahaya, jika diderita oleh anak.

Dokter Wahyuni Indawati SpA(K), anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), mengatakan sering kali orang tidak menyangka kalau anak-anak bisa sakit TBC.

Anak merupakan kelompok yang paling rentan terhadap penularan kuman Mycobacterium tuberculosis.

Wahyuni menyebut melihat data global pada 2017 ada 1 juta anak sakit TB di dunia, 52 persennya berusia kurang dari 5 tahun.

Selain itu, dari 1 juta penderita TBC tersebut, 25 persen di antaranya meninggal dunia, dan lebih dari 80 persen dari yang meninggal usianya kurang dari 5 tahun.

“Ini menunjukkan betapa besar dampak TB pada anak. Sebagian besar anak yang kena TB adalah anak yang kontak serumah dengan penderita TB dewasa yang aktif. Sebetulnya hal ini bisa dicegah. Masalahnya sering kali anak-anak yang kontak erat ini tidak mendapat pencegahan,” ungkap Wahyuni, Kamis (23/7/2020).

Mengenai masalah TBC pada anak, Wahyuni menyebutnya sebagai ‘preman lama’ yang sampai sekarang masih tetap bercokol.

TBC adalah penyakit menular yang disebabkan bakteri, kalau seseorang terpapar atau tereskpos, ada tiga kemungkinan. Pertama, penderitanya tetap sehat kalau kekebalan tubuhnya optimal.

Kedua, bakterinya sudah masuk ke tubuh orang itu, tapi kekebalan tubuhnya cukup kuat, sehingga tidak merasakan sakit, atau disebut infeksi TB laten.

Ketiga, bakteri sudah masuk, berkembang biak, dan menyebabkan sakit.

“Anak itu sistem kekebalan tubuhnya belum sempurna. Semakin muda usia anak, makin tinggi risiko untuk sakit TB,” katanya.

Misalnya, anak terkena TB pada susunan saraf pusat (meningitis), TB tulang, atau TB pada perut yang akan merusak organ yang dihinggapi kuman tersebut.

“Bayangkan kalau anak Indonesia banyak yang terkena TB berat, yang setelah sembuh sisa penyakitnya masih ada, hidup mereka tidak bisa kembali normal, akhirnya tidak bisa memajukan Indonesia,” kata dia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tuberkulosis bakteri
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top