Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pandemi Corona Bisa Ganggu Kesehatan Pencernaan

Kasus-kasus yang ditangani selama pandemi virus corona dengan endoskopi saluran cerna dan pendarahan mengalami peningkatan.
Novita Sari Simamora
Novita Sari Simamora - Bisnis.com 25 Juli 2020  |  12:33 WIB
Saluran pencernaan - Istimewa
Saluran pencernaan - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Virus Corona (Covid-19) yang  menyerang paru, kini mulai menyerang organ lain termasuk sistem pencernaan.

Cara menular virus corona dari satu orang ke orang lain yang tadinya diketahui melalui droplet dan kontak ternyata bisa menular secara aerosol dan airborne. Adapun penularan secara aerosol maka tindakan endoskopi saluran cerna merupakan tindakan yang beresiko tinggi untuk terjadinya penularan.

Oleh karena itu, penelitian tentang dampak pandemi global dilakukan. Perhimpunan Endoskopi Gastrointestinal Indonesia (PEGI) telah meluncurkan Pedoman Klinis dan Prosedur untuk Unit Endoskopi Saluran Cerna pada Masa Pandemi Covid-19, tetapi implementasi pedoman tersebut masih dipertanyakan.

Untuk menjawab hal tersebut telah dilakukan penelitian pada Mei dan Juni 2020 melalui kuesioner mengenai praktik gastroenterologi klinis dan endoskopi gastrointestinal selama pandemi Covid-19 di Indonesia.

Penelitian yang dilakukan meliputi tata cara praktik Gastroenterologi dan Endoskopi Gastrointestinal di era Covid-19. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan metode survei dengan target responden yaitu dokter anggota Perhimpunan Endoskopi Gastrointestinal Indonesia (PEGI) di seluruh Indonesia.

Survei online berskala nasional ini terdiri dari 32 pertanyaan terkait karakteristik responden, modifikasi praktik gastroenterologi, modifikasi praktik endoskopi gastrointestinal, identifikasi risiko pada dokter, manajemen Covid-19 yang dilakukan responden, dan dampak terjadinya pandemi pada praktik profesional responden. Data yang diperoleh dari survei tersebut kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif.

Hasil analisis survei menunjukkan bahwa responden penelitian ini sejumlah 200 dokter dengan range usia 34 sampai 76 tahun, dengan rata-rata usia 50 tahun.

Praktik modifikasi gastroenterologi telah dilaksanakan pada lingkup rawat jalan (95,5 persen) dan rawat inap (100 persen). Pada 70 persen responden menyatakan telah mengurangi jam praktek, 63,5 persen responden menyatakan mengalami penurunan jumlah pasien.

Untuk pasien poliklinik, 40 persen responden melakukan dengan telekonsultasi. Sebagian besar responden (70,5 persen) melaporkan kesulitan untuk melakukan penelitian klinik.

Dalam praktek endoskopi saluran cerna, penelitian ini juga menemukan bahwa 13 persen responden mengurangi jam kerja di ruang endoskopi, 35,5 persen responden membatasi jumlah pasien, 56,6 persen menghentikan pelayanan endoskopi saluran cerna.

Kasus-kasus yang ditangani selama pandemi dengan endoskopi saluran cerna atas dengan indikasi gejala saluran cerna atas dengan tanda alarm sebanyak 60,5 persen, perdarahan baik atas maupun bawah dikerjakan oleh 73,5 persen.

Selama melakukan tindakan endoskopi saluran cerna atas ternyata responden melaporkan penggunaan coverall pada 56 persen responden dan 70 persen responden menyebutkan menggunakan masker N-95. Sedang untuk endoskopi saluran cerna bawah, 33 ersen responden yang menggunakan coverall dan hanya 52 persen yang menggunakan masker N-95. Padahal resiko penularan sama antara saluran cerna atas dan bawah.

Pada penelitian ini juga menemukan bahwa 15 dari 200 responden, menjadi suspek atau terkonfirmasi positif covid-19. Sebagian besar dari responden 86% bekerja di tempat yang berdampak bencana dan 34 persen dari respoden merasa bahwa APDnya tidak kuat.

Sebagian besar responden berpartisipasi dalam penanganan Covid-19 (68,5 persen) dan hampir keseluruhan responden yang berpartisipasi ini terlibat dalam gugus tugas Covid-19 (98 persen).

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dokter yang melakukan praktik gastroenterologi klinis dan endoskopi gastrointestinal berada pada lingkup kerja yang berisiko tinggi.

Modifikasi praktik kerja wajib diimplementasikan demi keselamatan pada layanan kesehatan. Sebagian besar dokter berperan langsung dalam manajemen Covid-19 dan terlibat dalam gugus tugas Covid-19 di berbagai tingkatan. Perlu perhatian agar para dokter yang bekerja di poli dan ruang endoskopi ini juga dilengkapi APD yang sesuai.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona kesehatan
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top