Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Deteksi Virus Corona, Ini Beda Rapid Test dan PCR

Tes PCR bisa mendeteksi molekul dari virus, sehingga lebih sensitif dan langsung terdeteksi apabila terdapat virus di tubuh manusia.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 27 Juli 2020  |  11:26 WIB
nDokter patologi klinik menunjukkan cara kerja alat Polymerase Chain Reaction (PCR) di Ruang Ektraksi DNA dan RNA Laboratorium Mikrobiologi RSUD Sidoarjo, Jawa Timur, Sabtu (20/6/2020). Pengoperasian alat PCR yang dapat memeriksa 1.000 sampel tersebut, diharapkan bisa mempercepat waktu untuk mengetahui hasil pemeriksaan pasien yang diduga terinfeksi virus corona atau Covid-19 di Sidoarjo. ANTARA FOTO - Umarul Faruq\\n
nDokter patologi klinik menunjukkan cara kerja alat Polymerase Chain Reaction (PCR) di Ruang Ektraksi DNA dan RNA Laboratorium Mikrobiologi RSUD Sidoarjo, Jawa Timur, Sabtu (20/6/2020). Pengoperasian alat PCR yang dapat memeriksa 1.000 sampel tersebut, diharapkan bisa mempercepat waktu untuk mengetahui hasil pemeriksaan pasien yang diduga terinfeksi virus corona atau Covid-19 di Sidoarjo. ANTARA FOTO - Umarul Faruq\\n

Bisnis.com, JAKARTA – Mendeteksi Virus Corona bisa dilakukan dengan metode rapid test atau tes cepat dan tes Polymerase Chain Reaction atau dikenal dengan tes PCR.

Lalu, apa ya bedanya?

Dokter Spesialis Patologi Klinik dari Rumah Sakit Cicendo Shinta Stri Ayuda menjelaskan, bahwa rapid tes mendeteksi antibodi yang terbentuk setelah pasien terpapar virus. Adapun PCR mendeteksi keberadaan virusnya langsung.

“Rapi test ini untuk mendeteksi 7-14 hari ke belakang. Kalau baru hari ini terpapar, kemudian melakukan rapid test, bisa jadi juga hasilnya nonreaktif, karena antibodi belum terbentuk,” ungkap Shinta, Senin (27/7/2020).

Sementara itu, tes PCR bisa mendeteksi molekul dari virus, sehingga lebih sensitif dan langsung terdeteksi apabila terdapat virus di tubuh manusia.

Seperti kasus yang terjadi di Surabaya beberapa waktu lalu, ketika Virus Corona merenggut satu keluarga, di mana salah satu pasien konfirmasi Corona tak terdeteksi positif melalui rapid test, padahal sudah mengalami gejala demam dan batuk.

“Ini karena mungkin begitu tertular dia langsung drop, tapi antibodi belum terbentuk, sehingga tidak terdeteksi. Atau juga bisa sedang berada pada masa ada antibodi sudah terbentuk, tapi beralih IgM sudah hilang mau berganti ke IgG. Mungkin lagi proses konversi, di sini PCR bisa positif, tapi rapid test tidak terdeteksi,” ungkapnya.

Selain itu, kondisi darah pasien dan kualitas rapid test kit juga berpengaruh pada hasil tes.

Shinta mengimbau masyarakat yang ingin rapid test lebih baik di laboratorium, sehingga hasilnya bisa lebih akurat atau sensitif.

Dia mengimbau masyarakat lebih berhati-hati, terutama bagi yang sudah harus kembali bekerja di kantor. Perhatikan apakah di rumah ada orangtua, anak-anak, atau orang dengan penyakit penyerta yang memungkinkan imunitas tubuhnya rendah.

“Jadi kalau ternyata ada riwayat kontak erat di kantor, tetap bisa mencegah penularan ke orang lain di rumah, dengan tetap menjaga kebersihan. Langsung cuci pakaian setelah bepergian, jangan pakai alat makan dan kamar mandi yang sama, rajin cuci tangan, dan pakai masker,” imbuhnya.

Kalau sudah sakit, Shinta menambahkan, pasien agar langsung tes PCR, jangan lagi menggunakan rapid test, karena hasilnya bisa jadi sudah tidak akurat dan virus sudah menyebar lebih cepat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona covid-19 rapid test
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top