Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Cek Fakta: Vaksin MMR Sebabkan Autisme?

Imunisasi MMR sangat tidak mungkin menjadi penyebab autistic-spectrum disorders (ASD).
Krizia Putri Kinanti
Krizia Putri Kinanti - Bisnis.com 27 Juli 2020  |  14:24 WIB
Tenaga medis dari Suku Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta memberikan vaksin Polio kepada balita korban vaksin palsu saat pelaksanaan vaksinasi ulang di Puskesmas Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, Senin (18/7). - Antara
Tenaga medis dari Suku Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta memberikan vaksin Polio kepada balita korban vaksin palsu saat pelaksanaan vaksinasi ulang di Puskesmas Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, Senin (18/7). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Di tengah pandemi seperti saat ini, banyak ibu yang ketakutan untuk membawa anaknya vaksinasi, ditambah dengan adanya kontroversi seputar vaksin MMR  yaitu dianggap dapat membuat anak mengalami autisme.

Apakah benar vaksin yang diberikan dengan tujuan agar tubuh terlindung dari penyakit gondong, campak, dan rubella (MMR) ini dapat membuat anak menjadi autis?

Dr. Hartono Gunardi, Perwakilan dari PrimaKu mengatakan bahwa apabila ditelisik lebih dalam lagi, imunisasi MMR sangat tidak mungkin menjadi penyebab autistic-spectrum disorders (ASD).

“Imunisasi MMR di Yokohama menurun drastis mulai 1988 sampai 1992. Pada 1993, imunisasi MMR dihentikan sama sekali. Kejadian kumulatif ASD pada anak SD umur 7 tahun pada kelompok anak yang lahir antara tahun 1988-1996, tetapi peningkatan amat drastis terjadi pada anak yang lahir setelah 1993 yang tidak mendapatkan imunisasi MMR,” ujarnya pada Konferensi Pers Virtual Peluncuran Gerakan #LengkapiVaksinasiAnak, Senin (27/7/2020).

Dia menambahkan, adapun penelitian di Denmark yang meliputi bayi yang lahir antara Januari 1991 - Desember 1999, dari 537.303 yang diteliti, 440.655 di antaranya tidak mendapatkan vaksin MMR, 96.648 mendapat vaksin MMR. Kejadian autisme atau ASD pada kedua kelompok tidak berbeda atau sama.

“Kesimpulan lainnya, penghentian imunisasi MMR tidak akan menurunkan angka kejadian autism,” katanya.

Menurut WHO, sekitar 1,5 juta anak mengalami kematian tiap tahunnya karena penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan imunisasi seperti campak, gondongan, rubela dan Varisela.

Bahkan, berdasarkan data dari WHO, secara global, kasus campak pada 2019 meningkat tiga kali lebih tinggi dari 2018. Sementara itu, data program imunisasi nasional menunjukkan penurunan cakupan vaksinasi; seperti vaksin MR yang menurun 13 persen antara Januari sampai Maret 2020 jika dibandingkan dengan tahun lalu.

Disebabkan oleh situasi ini, terdapat ribuan anak berisiko mengalami kenaikan angka kejadian, komplikasi berat, hingga kematian akibat infeksi penyakit menular yang dapat dicegah melalui imunisasi seperti Campak, Gondongan, Rubela, dan Varisela.

Campak, Gondongan, Rubela, dan Varisela merupakan penyakit yang disebabkan oleh berbagai virus yang umumnya menyerang anak-anak di usia sekolah dasar dan dapat memicu penyakit lain yang berbahaya.

Varisela misalnya, memiliki kemungkinan penularan sebesar 90 persen pada individu yang rentan.Penyakit tersebut dapat mengenai seluruh kelompok umur termasuk bayi yang baru lahir, dan hampir 90 pasien dengan Varisela adalah anak usia di bawah 15 tahun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

vaksin imunisasi vaksinasi autisme anak
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top