Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

ARV Kian Langka, Epidemiologi Khawatir Ada Lonjakan Kasus HIV

Selama pandemi virus corona, epidemiologo memprediksikan adanya peningkatan ODHA karena pencegahan dan pengobatan terganggu.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 25 Agustus 2020  |  04:04 WIB
Hari AIDS Sedunia - timeandate
Hari AIDS Sedunia - timeandate

Bisnis.com, JAKARTA - Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) kesulitan mendapatkan akses obat antiretroviral (ARV) di tengah pandemi virus corona atau Covid-19.

Menurut survei kilat kebutuhan ODHA dalam treatment ARV pada 23-30 April 2020, 8,3 persen dari 660 responden melaporkan jumlah ARV yang diterima berkurang, sedangkan sekitar 50 persen melaporkan perubahan dalam layanan HIV.

Salah satu peneliti, Anindita Gabriella Sudewi mengatakan ada ODHA yang harus pulang ke kota asal karena kehabisan ARV di kota tempat tinggal dan kesulitan pindah klinik atau puskesmas untuk mengakses obat tersebut.

Ya, menurut survei dengan responden berusia 30-40 tahun, rata-rata atau 47,7 persen ODHA mendapatkan ARV dari rumah sakit pemerintah, 35,7 persen dari puskesmas, 10,6 persen dari RS swasta, 2,4 persen dari klinik swasta, 2 persen dari balai paru, dan 1,4 persen dari klinik atau melalui lembaga swadaya (LSM). Dari semua itu, 93 persen responden mendapatkan ARV secara gratis.  

Namun dari hasil survei ini, didapati bahwa ada ODHA pemegang JKN harus membayar untuk mengakses ARV. Selain itu, perubahan operasional klinik/puskesmas menyebabkan ODHA harus mengantri lebih lama dengan waktu konsultasi yang semakin pendek. Padahal ODHA termasuk kelompok rentan tertular virus corona.

Dikatakan Gabi, memang saat ini pemerintah fokus untuk menanggulangi pandemi Covid-19. Namun perlu juga diperhatikan penderita penyakit berisiko tinggi seperti ODHA, untuk mengakses obat serta layanan kesehatan.

"Sistem kesehatan Indonesia perlu mengantisipasi ketimpangan atau ketidaksetaraan kesehatan pada kelompok rentan," tuturnya.

Kendati demikian kata Gabi masih ada ruang untuk perubahan dalam memberikan akses ARV bagi ODHA. Misalnya pemberian lebih banyak persediaan ARV dan penggunaan layanan kurir untuk mengantarkannya.

"Perubahan semacam ini membawa harapan untuk adanya layanan HIV beyond clinics, termasuk model layanan kesehatan berbasis komunitas, yang melibatkan sumber daya di luar struktur layanan berbasis pemerintah," tukas Gabi.

Senada, Epidemiologi dari Universitas Indonesia dr. Pandu Riono setuju perlu adanya inovasi dalam mengatasi layanan kesehatan bagi kelompok-kelompok rentan di tengah pandemi Covid-19.

"Nggak bisa cara-cara sebelum pandemi. Kita harus punya inovasi baru mengatasi layanan di tengah pandemi," tuturnya.

Ditambahkan Pandu, selama pandemi ini kemungkinan adanya peningkatan ODHA karena pencegahan dan pengobatan terganggu. "Karena ada PSBB dimana-mana sehingga putus rantai logistik untuk obat. Karena kalau ada interupsi, bisa meningkatkan resistensi. Ini menjadi pelik," sebutnya.

Adapun kata Pandu, hingga Mei 2020, estimasi ODHA di Indonesia sebanyak 640.443 orang. Sejumlah 394.769 positif HIV, 202.919 diantaranya mulai mengonsumsi ARV, sementara 134.032 orang masih dalam terapi ARV.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

obat hiv/aids
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top