Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Covid-19 Memicu Gaya Hidup Hipster yang Lebih Sederhana

Selain para pegiat DIY, keadaan yang memaksa sebagian besar masyarakat untuk berbelanja ke toko ritel membuat mereka beralih ke barang daur ulang dan bisnis kecil untuk kebutuhan mereka.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 09 September 2020  |  12:34 WIB
Berkebun. - Istimewa
Berkebun. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Ketika Covid-19 telah menghancurkan sebagian besar ekonomi global, ada sektor lain yang terpacu, seperti konferensi video dan bisnis peralatan rumah tangga.

Berbagai jenis kegiatan do-it-yourself, seperti membuat roti, berkebun dan membuat kerajinan, telah berkembang pesat dan tampak prima untuk bertahan setelah pandemi.

Layaknya para petani yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan pangan dan meningkatkan moral pasca perang, para pegiat DIY di tengah momentum pandemi dihadapi oleh lockdown dan keterbatasan sumber daya. Namun mereka mengatasi hal tersebut dengan berkarya.

Selain para pegiat DIY, keadaan yang memaksa sebagian besar masyarakat untuk berbelanja ke toko ritel membuat mereka beralih ke barang daur ulang dan bisnis kecil untuk kebutuhan mereka.

Orang-orang yang sudah memiliki hobi DIY mengembangkan keterampilan mereka.

Tynika-Ann Carter, mantan model berusia 24 tahun di Western Cape, Afrika Selatan, beralih ke pertanian dan berkebun untuk memenuhi kebutuhan pangannya dan dalam upaya untuk menggantikan materialisme dengan sesuatu yang lebih sehat.

Karena pandemi, sekarang dia menambahkan hobinya dengan membuat keranjang, menenun dan merenda.

"Covid-19 telah memberi saya lebih banyak waktu untuk menggali potensi dan membuat diri saya sepenuhnya fokus pada hal-hal yang saya sukai," katanya, seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (9/9).

Di Washington, Chase Beathard sangat khawatir dengan risiko kekurangan pasokan daging sehingga dia memanfaatkan iklan Craigslist yang menawarkan babi hutan gratis. Sekarang pria 34 tahun itu beternak babi.

Beathar dan Carter mencontohkan sikap baru tentang apa yang keren, dan menunjukkan bagaimana pandemi mempercepat perkembangannya.

Seperti para hipster, mereka menetapkan tren baru dan memamerkannya di Instagram. Tapi mereka juga melakukan banyak pekerjaan keras yang berfokus pada kelangsungan hidup.

Beberapa orang menjuluki mereka para hipsteader.

“[Lockdown] membuat kita belajar untuk berbuat lebih banyak untuk diri kita sendiri, untuk menjadi lebih mandiri,” ujar Mary Osirim, seorang profesor sosiologi di Bryn Mawr College.

Etos do-it-yourself ini tidak hanya didorong oleh lebih banyak waktu luang karena lebih sedikit kegiatan di luar rumah, tetapi juga karena kebutuhan.

Hipsteading mengakar lebih dalam sepanjang enam bulan terakhir.

Sekitar tahun 2008 di jalanan Brooklyn, gaya hidup retro hipsters membuka jalan pada tren yang mendunia. Orang-orang membuat sabun, parfum bahkan selai dan acar secara mandiri. Pada masa itu, pasar hasil tani berkembang pesat.

Kemudian datanglah Covid-19 dan resesi global. Kekurangan bahan baku dan kebutuhan untuk berhemat menciptakan lebih banyak pegiat DIY dari sebelumnya.

“Saat Anda khawatir pasar tidak akan berfungsi, Anda terlibat dalam lebih banyak aktivitas yang diperlukan untuk menghasilkan makanan Anda sendiri atau apa pun yang paling Anda khawatirkan,” kata Beth Redbird, sosiolog di Northwestern University.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona gaya hidup
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top