Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ilmuwan Sebut Strain Virus Corona dari Babi Bisa Menyebar ke Manusia

Manusia belum memperoleh kekebalan kawanan (herd immunity) untuk melindungi diri dari tertular virus corona babi.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 15 Oktober 2020  |  09:14 WIB
Ilmuwan Sebut Strain Virus Corona dari Babi Bisa Menyebar ke Manusia - Istimewa
Ilmuwan Sebut Strain Virus Corona dari Babi Bisa Menyebar ke Manusia - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Sebuah penelitian anyar menyatakan bahwa strain virus corona yang menyebabkan diare parah dan muntah pada hewan babi dapat menyebar ke manusia.

Strain tersebut telah menginfeksi babi di China sejak 2016 dan dikenal dengan nama swine acute diarrhoea syndrome coronavirus atau SADS-CoV. Diperkirakan awalnya berasal dari kelelawar yang menularkan virus ke babi.

Strain virus ini disebut-sebut paling berbahaya bagi anak babi. Wabah penyakit besar dapat menyebabkan kerusakan ekonomi yang besar pada negara-negara yang mengandalkan produksi dan penjualan daging babi.

DIlansir dari Express UK, Kamis (15/10/2020) para peneliti dari North Carolina menemukan bahwa SADS-CoV dapat menyebar ke manusia. Mereka mengungkap bahwa virus dapat menginfeksi dan mereplikasi dirinya sendiri dalam sel-sel saluran napas, hati, dan usus manusia.

Sebagaimana diketahui, virus corona adalah jenis virus yang dapat menyebabkan penyakit. SADS-CoV dan SARS-CoV-2 merupakan bagian dari keluarga virus yang sama. Akan tetapi, SADS-CoV berada dalam genus yang berbeda dari strain Covid-19.

Ralph Baric, profesor dari University of North Carolina mengatakan bahwa banyak penelitian fokus pada potensi munculnya betacoronavirus seperti SARS dan MERS. Sebenarnya, alphacoronavirus mungkin terbukti sama-sama dapat menyebabkan masalah kesehatan manusia.

Baric dan rekannya meneliti risiko limpahan jenis virus, apakah dapat berpindah dari babi ke populasi manusia. Para peneliti menemukan bahwa virus corona baru mampu bereplikasi lebih cepat di sel usus, daripada di paru-paru.

Temuan ini juga menunjukkan bahwa manusia belum memperoleh kekebalan kawanan (herd immunity) untuk melindungi diri dari tertular virus corona babi ini. Caitlin Edwards, pakar kesehatan masyarakat mengatakan SADS-CoV berasal dari virus corona kelelawar yang disebut HKU2 yang merupakan kelompok virus heterogen dengan penyebaran di seluruh dunia.

Dia menambahkan bahwa tidak mungkin bagi para peneliti untuk memprediksi apakah virus SADS-CoV atau strain kelelawar HKU2 yang terkait erat dengan penyakit yang ditimbulkannya dan potensi menginfeksi populasi manusia.

“Namun, berbagai inang  SADS-CoV, ditambah dengan kemampuan untuk bereplikasi di paru-paru dan sel enterik manusia primer, menunjukkan potensi risiko untuk peristiwa kemunculan wabah penyakit di masa depan pada populasi hewan dan manusia, tandasnya.

Kelompok peneliti juga menguji potensi penggunaan remdesivir untuk melawan virus corona babi. Obat antivirus ini disebut-sebut sebagai pengobatan yang ampuh untuk membantu pasien pulih dari infeksi Covid-19.

Hasilnya, para peneliti menyarankan bahwa remdesivir dapat menjadi pengobatan potensial melawan SADS-CoV. Edwards mengatakan data yang menjanjikan dengan remdesivir memberikan pilihan pengobatan potensial dalam kasus kejadian limpahan pada manusia.

 “Kami merekomendasikan agar pekerja babi dan populasi babi terus dipantau untuk indikasi infeksi SADS-CoV untuk mencegah wabah dan kerugian ekonomi besar-besaran,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

babi Virus Corona Covid-19
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top