Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Temuan Baru! Ragi Bisa Obati Infeksi Usus

Pendekatan baru melibatkan perancangan antibodi untuk dua racun yang diproduksi oleh C. difficile dan kemudian rekayasa saccharomyces boulardii (ragi umum yang ditemukan di banyak suplemen probiotik) untuk memproduksinya.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 31 Oktober 2020  |  08:16 WIB
Sakit perut - boldsky.com
Sakit perut - boldsky.com

Bisnis.com, JAKARTA - Tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Maryland dan FZata Inc berhasil memodifikasi jenis ragi  untuk pengobatan infeksi usus yang disebabkan bakteri clostridiosis difficile.

Melansir Medical Xpress, Jumat (30/10/2020), dalam makalah mereka yang diterbitkan dalam jurnal Science Translational Medicine, kelompok peneliti tersebut menjelaskan bagaimana mereka memodifikasi saccharomyces boulardii untuk menghasilkan antibodi yang menetralkan racun yang dihasilkan oleh infeksi C. difficile dan seberapa baik kerjanya saat diuji.

Infeksi C. difficile biasanya melibatkan orang tua yang telah diberi resep antibiotik untuk mengobati infeksi bakteri. Ketika antibiotik membunuh bakteri baik di usus, usus rentan terhadap infeksi C. difficile. Infeksi semacam itu sangat umum terjadi di panti jompo dan beberapa rumah sakit. Infeksi tersebut menyebabkan sekitar 30.000 kematian di AS setiap tahun. Perawatan umumnya melibatkan lebih banyak antibiotik.

Sementara antibiotik efektif melawan C. difficile, para ilmuwan medis khawatir bahwa penggunaan antibiotik dalam kasus seperti itu menyebabkan resistensi. Dalam upaya baru ini, para peneliti telah menemukan cara untuk memerangi bakteri tersebut tanpa menggunakan antibiotik.

Pendekatan baru melibatkan perancangan antibodi untuk dua racun yang diproduksi oleh C. difficile dan kemudian rekayasa saccharomyces boulardii (ragi umum yang ditemukan di banyak suplemen probiotik) untuk memproduksinya.

Tim kemudian memberikan produk yang dihasilkan kepada tikus setelah membunuh bioma usus mereka menggunakan antibiotik. Tikus tersebut kemudian terinfeksi C. difficile.

Para peneliti menemukan bahwa hal ini mengakibatkan berkurangnya peradangan di usus, yang pada gilirannya membuat tikus tidak mati karena infeksi. Para peneliti juga memberikan perlakuan dengan menguji tikus terlebih dahulu dan kemudian menginfeksi mereka dengan C. difficile.

Mereka menemukan bahwa hal itu mengurangi gejala dan sekali lagi mencegah tikus mati. Pengujian jaringan usus besar pada kedua kasus menunjukkan tidak hanya peradangan yang berkurang, tetapi juga tidak adanya kerusakan jaringan yang umumnya terkait dengan infeksi C. difficile.

Para peneliti menyarankan lebih banyak pengujian diperlukan sebelum uji klinis dapat dimulai dan juga mencatat bahwa mereka membutuhkan dana untuk melanjutkan penelitian. Mereka memperkirakan bahwa upaya ini akan menghasilkan terapi untuk pengobatan dan pencegahan infeksi C. difficile hanya dalam beberapa tahun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

antibodi sakit
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top