Vaksin Oxford dan AstraZeneca
Health

Penting! Vaksin Corona Oxford Hanya Efektif pada Kelompok Muda

Syaiful Millah
Jumat, 27 November 2020 - 13:23
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Seorang pejabat kesehatan Amerika Serikat mengklaim bahwa dosis vaksin virus corona (Covid-19) dari Oxford yang terbukti 90 persen efektif, hanya diuji pada kelompok orang  berusia 55 tahun ke bawah atau masuk kelompok muda.

Dilansir dari Metro UK, Jumat (27/11/2020) Moncef Slaoui, kepala ilmiah Operation Warp Speed – program vaksin dari pemerintah Amerika Serikat -  mengatakan bahwa regimen setengah dosis yang ditemukan secara tidak sengaja, hanya diberikan kepada kelompok usia yang lebih muda.

Dia mengatakan bahwa sebagian besar orang dalam uji coba awal menerima plasebo atau dia dosis penuh dan efektivitasnya 62 persen. Kelompok itu termasuk orang yang lebih tua dari 55 tahun, tidak seperti kelompok efektif 90 persen yang hanya diberi setengah dosis sebelum dosis penuh.

Para ilmuwan di seluruh dunia berharap dapat menemukan vaksin yang bekerja pada orang tua, yang merupakan kelompok berisiko tinggi terkena Covid-19. Kemanjuran keseluruhan vaksin Oxford dari dua regimen dosis yang berbeda diumumkan dengan angka gabungan yakni sekitar 70 persen.

Setengah dosis yang diikuti dengan dosis penuh ditemukan 90 persen efektif menurut subset data, tetapi kemanjurannya adalah 62 persen untuk orang yang diberi dua dosis penuh. Adapun, hasil dari studi fase dua menunjukkan vaksin menghasilkan respons yang kuat di semua kelompok umur.

Profesor Andrew Pollard, direktur Oxford Vaccine Group, mengatakan pekan lalu bahwa 90 persen temuan efektivitas telah memenuhi bukti statistik yang diperlukan, seperti yang dipersyaratkan oleh regulator untuk digunakan.

Dia mengatakan bukti lebih lanjut mungkin akan tersedia bulan depan tetapi ini merupakan hasil yang sangat signifikan bahkan. Kemanjuran 90 persen didasarkan pada regimen dosis yang diberikan kepada 2.741 orang.

Baik AstraZeneca maupun Oxford pada awalnya tidak mengungkapkan bahwa angka 90 tersebut tersebut didasarkan pada orang dewasa berusia 55 tahun ke bawah. Itu terjadi ketika beberapa ilmuwan AS mempertanyakan kurangnya detail dalam hasil yang dikeluarkan oleh kedua lembaga tersebut.

The New York Times melaporkan bahwa Menelas Pangalos dari AstraZeneca membela penanganan pengujian dan pengungkapan publiknya oleh perusahaan. Menurutnya, cara terbaik untuk mencerminkan hasil adalah dalam jurnal ilmiah bukan di surat kabar.

Beberapa ahli juga mengajukan pertanyaan tentang penggunaan dua uji klinis yang dirancang berbeda di Inggris dan Brasil, dan analisis penggabungan dari keduanya. Selain itu, masih ada ketidakjelasan berapa kasus virus corona yang ditemukan di setiap kelompok uji coba.

John Moore, seorang profesor mikrobiologi dan imunologi di Weill Cornell Medical College mengatakan bahwa siaran pers perusahaan dan universitas menimbulkan lebih banyak pertanyaan daripada jawabannya.

Dalam wawancara dengan New York Times, Pangalos mengatakan temuan setengah dosis bisa menjadi kesalahan yang cukup berguna. Menurutnya, itu tidak membahayakan siapa pun, “Itu adalah kesalahan dosis. Semua orang bergerak sangat cepat,” katanya.

Dalam briefing di Downing Street kepala petugas medis Inggris Chris Whitty mengatakan Badan Pengatur Obat dan Produk Kesehatan (MHRA) akan menilai semua data sebelum potensi peluncurannya ke Inggris dan menambahkan bahwa selalu ada perdebatan ilmiah tentang segalanya.

Sementara itu, Pangalos mengatakan perusahaan sedang merencanakan uji coba global dengan ribuan orang untuk membandingkan dua regimen dosis tersebut, guna mendapatkan gambaran yang lebih jelas dari vaksin mereka.

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro