Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Virus Corona di Makanan, Ini Cara Memasak Produk yang Terkontaminasi

Kekhawatiran terkait virus corona dan keamanan makanan lebih bergantung pada kebersihan umum daripada makanan yang terkontaminasi.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 21 Desember 2020  |  13:00 WIB
Memasak makanan dengan benar bisa menghindari virus corona - Thecookingacademy
Memasak makanan dengan benar bisa menghindari virus corona - Thecookingacademy

Bisnis.com, JAKARTA – Pandemi virus corona (Covid-19) masih berlangsung dengan sejumlah kekhawatiran yang masih menghantui, termasuk terkait penularan virus melalui makanan dan apakah proses memasak dapat membunuh virus corona baru ini.

Dilansir dari Health.com, Senin (21/12/2020) berikut ini adalah hal penting yang perlu Anda ketahui tentang penyebaran virus melalui produk makanan dan cara terbaik memastikan produk makanan dimasak dengan benar.

Apakah virus corona baru ada pada makanan?

Menurut Center for Disease Control and Prevention (CDC) hingga saat ini tidak ada bukti yang mendukung penularan Covid-19 yang terkait pada makanan. Hal ini terutama karena virus corona baru menyebabkan penyakit pernapasan – tidak seperti virus lain yang menyebabkan penyakit gastrointestinal.

CDC menyatakan virus corona baru umumnya dianggap menyebar dari orang ke orang melalui tetesan pernapasan. Selain itu, seseorang bisa tertular dengan menyentuh permukaan atau benda yang terkontaminasi virus kemudian menyentuh bagian mulut, hidung, atau mata.

Kekhawatiran terbesar terkait virus corona dan keamanan makanan lebih bergantung pada kebersihan umum daripada makanan yang terkontaminasi. Lembaga kesehatan merekomendasikan untuk mencuci tangan dengan sabun sebelum menyiapkan atau menyantap makanan.

“Secara umum, karena daya tahan yang buruk dari virus corona ini di permukaan, kemungkinan ada risiko penyebaran yang sangat rendah dari produk makanan atau kemasan, didinginkan, atau beku,” kata CDC dalam sebuah pernyataan.

Kendati begitu, organisasi tersebut masih merekomendasikan penerapan langkah keamanan pangan yang harus selalu diikuti seperti memisahkan daging mentah dari barang lain, selalu mendinginkan barang yang mudah rusak, dan memasak daging dengan suhu yang tepat.

Apakah memasak makanan dapat membunuh virus corona?

Kendati virus corona bukan patogen bawaan makanan, Sheldon Campbell, ahli patologi dari Yale Medicine mengatakan memasak makanan dengan suhu yang tepat merupakan langkah yang tetap baik. Hal ini juga kemungkinan akan  mengurangi jumlah virus pada makanan.

Sementara itu, Urvish Patel, penasehat medis eMediHealth menjelaskan banyak virus pada umumnya sensitif terhadap suhu panas dan virus corona cenderung bertahan untuk periode waktu yang lebih singkat pada suhu yang lebih tinggi.

Namun, karena virus SARS-CoV-2 masih sangat baru, tidak ada data atau studi terkini untuk menetapkan pemutusan berbasis suhu guna inaktivasi virus, tetapi kemungkinan ini akan bertindak sangat mirip dengan virus corona lainnya.

Patel menambahkan semua tindakan harus dilakukan dengan mempertimbangkan pedoman standar untuk memasak makanan menurut CDC. Pedoman suhu yang tepat untuk memasak yang dapat mencegah pertumbuhan virus dan bakteri pada beberapa jenis makanan adalah sebagai berikut:

    145 ° F atau 65 ° C untuk seluruh potongan daging sapi, babi, daging sapi muda, dan domba

    160 ° F atau 70 ° C untuk daging giling, seperti daging sapi dan babi

    165 ° F atau 75 ° C untuk semua unggas, termasuk ayam giling dan kalkun

    165 ° F atau 75 ° C untuk sisa makanan dan casserole

    145 ° F atau 65 ° C untuk ham segar (mentah)

    145 ° F atau 65 ° C untuk ikan bersirip atau masak sampai daging buram

Namun, hanya karena sudah memasak dengan suhu tetap bukan berarti masyarakat bisa berhenti mengkhawatirkan keamanan makanan yang tepat, patel mengingatkan penting untuk mendinginkan makanan dalam waktu 2 jam setelah persiapan.

Selain itu, secara keseluruhan ingatlah kisaran suhu 40 derajat Fahrenheit hingga 140 derajat Fahrenheit yang dianggap sebagai zona berbahaya di mana makanan berada pada suhu yang tidak aman dan mendorong pertumbuhan organisme tertentu.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

makanan Virus Corona memasak
Editor : Novita Sari Simamora

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top