Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bolehkah Pasien Covid-19 Minum Obat Herbal? Begini Kata Dokter

Dokter mengingatkan bahwa obat herbal pun sama dengan obat-obatan lainnya yang harus melalui berbagai pengujian dan penelitian.
Ika Fatma Ramadhansari
Ika Fatma Ramadhansari - Bisnis.com 25 Januari 2021  |  17:03 WIB
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan uji lab obat herbal dari daun ketepeng dan benalu bermarga dendroptoe untuk penyembuhan Covid-19. ANTARA - Muhammad Iqbal
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan uji lab obat herbal dari daun ketepeng dan benalu bermarga dendroptoe untuk penyembuhan Covid-19. ANTARA - Muhammad Iqbal

Bisnis.com, JAKARTA - Dokter spesialis penyakit dalam RA Adaninggar menjelaskan obat Covid-19 itu artinya obat yang terbukti bisa membunuh virus SARS-CoV-2.
 
Sepanjang tidak ada yang memenuhi kriteria tersebut, maka artinya Covid-19 belum ada obatnya. Hal itu dia ungkapkan dalam podcast yang disiarkan melalui Instagram Pandemic Talks (@pandemictalks) berjudul "Bagaimana Pengobatan Untuk Covid-19?" yang diunggah Minggu (24/1/2021).
 
"Sampai sekarang belum ada obat yang terbukti efektif mengobati Covid-19, baik dari suplemen, obat antivirus atau obat-obat yang lain," kata Adaninggar, dikutip Senin (25/1/2021).
 
Hal tersebut bukan hanya untuk obat-obatan kimia, tetapi juga termasuk untuk obat-obatan herbal.
 
Walaupun demikian, Adaninggar pun mengaku tidak keberatan jika ada orang yang memang ingin mengonsumsi obat herbal. Dia mengingatkan bahwa obat herbal pun sama dengan obat-obatan lainnya yang harus melalui berbagai pengujian dan penelitian.
 
Di Indonesia, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) yang berwenang memberikan izin mengklasifikasikan obat herbal dalam beberapa jenis.
 
Dilansir laman Asrot BPOM yang merupakan website pendaftaran obat pada Senin (25/1/2021), ada beberapa jenis obat herbal. Satu di antarnaya berjenis jamu yang keamanan dan kemanfaatannya dibuktikan secara empiris.
 
Jenis lainnya adalah obat herbal terstandar (OHT) di mana keamanan dan kemanfaatan dibuktikan secara ilmiah melalui uji pra klinik. Kemudian juga ada fitofarmaka yaitu keamanan dan kemanfaatan dibuktikan secara uji klinik.
 
Adaninggar kemudian mengungkapkan bahwa karena obat herbal berjenis fitofarmaka telah melalui uji klinik, maka dokter pun boleh untuk meresepkan obat ini.
 
"Fitofarmaka ini sudah seperti obat, jadi boleh diresepkan oleh dokter," jelasnya.
 
Namun Adaninggar mengingatkan bahwa yang bisa dijadikan obat utama dari obat herbal ini adalah yang berjenis fitofarmaka. Sementara itu untuk jenis obat herbal lainnya ini dinamakan sebagai obat pendamping.
 
Dokter penyakit dalam ini menjelaskan jenis obat herbal lainnya itu sifatnya seperti suplemen. Dia pun mengingatkan untuk tidak berlebihan mengonsumsi suplemen ini, sama halnya dengan mengonsumsi vitamin.
 
Seperti diketahui, sejak dilanda pandemi banyak dari masyarakat yang mengonsumsi suplemen untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Namun jika dikonsumsi terlalu banyak justru akan berdampak buruk bagi tubuh.
 
Oleh karena itu sebelum membeli, Adaninggar mengingatkan untuk cek obat tersebut sudah mendapatkan izin edar BPOM atau belum. Apabial memiliki izin edar, maka konsumsilah suplemen sesuai dengan instruksi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona Covid-19 Obat Covid-19
Editor : Muhammad Khadafi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top