Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mantan Menkes Siti Fadilah Supari Imbau Vaksinasi Covid-19 Dimulai Bottom-up

Menurut Siti Fadillah Supari, jika menggunakan data KPU atau berbasis nomor induk kependudukan (NIK) itu tidak akan efektif. Sebab bisa saja ketika orang yang terdaftar di KPU, khususnya penduduk usia 17 tahun ke atas, ketika didatangi justru tidak termasuk dalam kategori orang yang tidak bisa disuntik vaksin.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 28 Januari 2021  |  10:24 WIB
Seorang calon penerima vaksin dicek kesiapannya sebelum mengikuti vaksinasi Covid-19, di Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Jumat (22/1/2021). - Antara\\r\\n
Seorang calon penerima vaksin dicek kesiapannya sebelum mengikuti vaksinasi Covid-19, di Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Jumat (22/1/2021). - Antara\\r\\n

Bisnis.com, JAKARTA - Mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari menilai penggunaan data Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai basis data program vaksinasi Covid-19, kurang tepat.

Kata dia, jika menggunakan data KPU atau berbasis nomor induk kependudukan (NIK) itu tidak akan efektif. Sebab bisa saja ketika orang yang terdaftar di KPU, khususnya penduduk usia 17 tahun ke atas, ketika didatangi justru tidak termasuk dalam kategori orang yang tidak bisa disuntik vaksin.

"Pak Menteri sekarang pakai KPU. Pakai KPU nanti catatannya, ketemu orangnya sakit," ujar Siti dikutip Bisnis dari channel YouTube pribadinya, Jumat (28/1/2021).

Oleh karena itu, Siti menyarankan lebih baik vaksinasi di mulai dari tingkat pelayanan masyarakat paling dasar yakni Puskesmas. Dia yakin data Puskesmas, dibantu dengan RT/RW setempat tidak akan salah dalam menyasar orang yang akan divaksin.

"Mestinya bottom-up. Melalui puskesmas," sebutnya.

Nanti setiap Puskesmas diberi jatah. Petugas Puskesmas kemudian memilih siapa saja orang yang tepat divaksin, tentu dengan dokter yang akan memeriksa langsung kesehatan warga setempat untuk menentukan apakah orang tersebut bisa menerima vaksin Covid-19 atau tidak.

"Jadi bukan dari Depkes pakai NIK. Nanti nomornya sudah ketangkep, begitu ketemu orangnya sudah sakit keras, nanti hitungnya jadi kacau. Tolong dari bawah, bottom-up," tutur Siti.

Sejauh ini, ada sejumlah kategori yang belum atau tidak bisa menerima vaksin Covid-19. Beberapa diantaranya mereka yang sudah pernah terinfeksi Covid-19 dalam 1-2 Minggu terakhir. Orang dengan penyakit gula dan penyakit autoimun. "Untuk sakit jantung lebih baik hubungi dokter," tambah Siti.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

vaksinasi Virus Corona Vaksin Covid-19
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top