Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tembus Sejuta Kasus Virus Corona, Dekan UI: Kuncinya di Hulu, Bukan Hilir

Masyarakat harus tetap waspada saat pandemi virus corona. Protokol kesehatan, terutama dengan menggunakan masker harus dijadikan budaya.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 29 Januari 2021  |  13:41 WIB
Petugas medis sebelum penyuntikan vaksin virus corona CoronaVac di Puskesmas Cilincing, Jakarta, Kamis (14/1/2021). - Antara
Petugas medis sebelum penyuntikan vaksin virus corona CoronaVac di Puskesmas Cilincing, Jakarta, Kamis (14/1/2021). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Menambah kapasitas rumah sakit, ventilator, ICU, dokter hingga perawat, dinilai bukan solusi yang baik untuk menekan jumlah kasus Covid-19 di Indonesia. Hal ini disampaikan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Ari Fahrial Syam.

"Kita hanya otak atik di hilir. Hulunya tidak dikunci," tegasnya dalam webinar bertajuk 'Tembus 1 Juta Kasus Covid-19, Apa yang Harus Kita Lakukan Kemudian', Jumat (29/1/2021).

Dia mengatakan kapasitas tersebut pasti ada batasnya. Apalagi nyatanya fasilitas kesehatan sudah mulai kedodoran. "Perawat sudah mulai kewalahan," singgung ahli penyakit dalam ini.

Oleh karena itu, yang perlu diperhatikan adalah meningkatkan kembali kepatuhan masyarakat untuk menetapkan protokol kesehatan. Perbaikan di hulu memang menjadi kunci.

Masyarakat harus tetap waspada dalam setiap kondisi. Protokol kesehatan, terutama dengan menggunakan masker harus dijadikan budaya. Sebab bisa saja orang di dekat kita ternyata positif Covid-19 namun tidak menunjukkan gejala. "Kita semua saling ingatkan. Kadang kita tidak konsisten," tegasnya.

Perlu diingatkan kembali bagi mereka yang masih bepergian keluar rumah terutama yang menggunakan kendaraan umum. Sebaiknya segera mandi dan mengganti baju karena bisa saja pakaian yang sudah digunakan sebelumnya terkontaminasi Covid-19 dan akhirnya bisa menularkan diri dan keluarga.

"Jangan bosen cuci tangan. Kita tidak tahu tangan kita kemana saja. Rumah pun tidak aman, karena bisa tertular," tuturnya.

Ari juga menyarankan untuk menghindari ke supermarket atau pasar yang tidak menerapkan protokol kesehatan. Atau, datang ketika situasi tidak terlalu ramai.

Sementara itu dari sisi pemerintah, diakuinya trashing saat ini menjadi masalah karena pemerintah daerah mengakui terkendala pembiayaan. "Terus terang saja Pemda kewalahan pembiayaan tersebut. Sejauh ini di Jakarta komitmennya masih tinggi untuk trashing dan tes," beber Ari.

Masalah trashing ini bisa mengakibatkan banyaknya orang yang positif lolos dari pengawasan, terutama bagi mereka yang tidak menunjukkan gejala. Bahaya, sebab tanpa sadar mereka terus menularkan Covid-19 ke orang lain.

Ari menjabarkan data FKUI, menunjukkan sekitar 60 persen orang tua tertular dari orang tanpa gejala. Ketika trashing tidak dilakukan dengan tepat, yang terjadi kita tidak tau dimana awal tertular orang yang dinyatakan positif.

Semakin banyak yang tertular, rumah sakit semakin penuh. "Kondisi terkahir, ini yang harus perhatikan. Kasus aktif cukup tinggi, bisa menularkan orang sekitar baik asimptomatik, ringan, sedang, berat," tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dokter Virus Corona Covid-19
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top