Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Inhaler untuk Asma Tekan Tingkat Keparahan Covid-19

Ilmuwan dan profesional medis sedang mencari cara dan sarana berbeda untuk mengatasi situasi ini, sementara pihak berwenang menekankan perlunya mengikuti semua tindakan COVID
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 14 April 2021  |  08:49 WIB
Ilustrasi asma - istimewa
Ilustrasi asma - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Dengan lonjakan kasus COVID-19 dan ancaman virus mutan ganda terhadap populasi umum, tidak mungkin untuk mengabaikan krisis saat ini.

Ilmuwan dan profesional medis sedang mencari cara dan sarana berbeda untuk mengatasi situasi ini, sementara pihak berwenang menekankan perlunya mengikuti semua tindakan COVID. Konon, selama kurun waktu tersebut, sebuah penelitian mengungkapkan bahwa inhaler medis yang digunakan oleh pasien asma dapat mengurangi replikasi SARS-CoV-2 di sel paru-paru dan membatasi risiko rawat inap pada pasien COVID.

Menurut studi yang dilakukan oleh University of Oxford, obat yang biasa digunakan untuk mengobati asma, dapat membantu mempercepat proses pemulihan pada pasien COVID-19. Studi yang diterbitkan dalam jurnal Lancet menemukan bahwa glukokortikoid inhalasi dapat mengurangi risiko COVID parah dan rawat inap di antara orang yang terinfeksi infeksi SARs-COV-2.

Demikian pula, penelitian sebelumnya dari China, Italia, dan negara lain menunjukkan bahwa pasien dengan asma dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) yang sama cenderung tidak dirawat di rumah sakit.

Dapatkah budesonide yang dihirup memastikan periode pemulihan yang lebih singkat?

Studi Lancet melibatkan 146 peserta dari Inggris, setengah di antaranya diminta menggunakan inhaler dengan budesonide dan menerima perawatan COVID.

Tim peneliti menemukan bahwa budesonide yang dihirup, ketika diberikan dalam dosis yang diatur dan untuk waktu yang singkat, dapat efektif dalam mengobati COVID yang parah dan juga dapat memastikan periode pemulihan yang lebih singkat.

Selain itu, ditemukan bahwa durasi demam pada pasien COVID jauh lebih rendah pada kelompok yang menerima budesonide dibandingkan dengan mereka yang hanya terbatas pada kelompok perawatan biasa.

Pasien yang menerima budesonide inhalasi melaporkan lebih sedikit tanda-tanda gejala Covid-19 yang persisten setelah 14 hari.

Laporan konklusif menunjukkan bahwa budesonide yang dihirup mengurangi kemungkinan rawat inap dan juga mengurangi risiko infeksi parah pada pasien COVID-19.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

asma Covid-19
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

To top