Ilustrasi stres. Stres dapat meningkatkan jumlah udara yang tertelan, yang meningkatkan sendawa, kembung dan kentut. /Reuters-Paul Hackett
Health

Kenapa Perut Terasa Kembung Saat Stres? Ini Kata Ahli

Janlika Putri Indah Sari
Jumat, 16 April 2021 - 18:12
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Saluran pencernaan ternyata peka terhadap emosi setiap manusia. Kemarahan, kecemasan, kesedihan, kegembiraan adalah perasaan yang memiliki hubungan yang erat dengan usus.

Stres dikaitkan dengan perubahan bakteri usus, yang dapat memengaruhi suasana hati. Dengan demikian, emosi dapat mempengaruhi fungsi usus.

Konsultan Senior-Gastroenterologi dari Rumah Sakit Fortis di Mulund, Dr Nutan Desai, mengatakan otak dan saluran pencernaan terhubung erat satu sama lain.

"Usus memiliki ratusan juta neuron atau sel saraf yang dapat berfungsi secara mandiri dan terus berkomunikasi dengan otak," kata Desai seperti dilansir dari femina.in, Jumat (16/4/2021).

Oleh karena itu, stres dapat memengaruhi komunikasi antara otak dan usus sehingga dapat memicu rasa sakit, kembung, dan ketidaknyamanan usus. Stres jangka panjang dapat menyebabkan sembelit, diare, atau sakit perut.

Berdasarkan pemaparan dari Dr Nutan Desai, berikut bisnis rangkum fakta mengenai hubungan yang erat antara usus dan otak :

1. Mempengaruhi Sistem Saraf

Stres dapat pengaruhi perkembangan sistem saraf bagaimana tubuh bereaksi. Perubahan ini dapat meningkatkan risiko penyakit usus atau disfungsi di kemudian hari. Misalnya merasa mual sebelum memberikan presentasi atau merasakan sakit usus saat stres.

Meningkatkan gangguan usus karena stres dapat membuat diare atau dorongan berulang kali untuk buang air kecil selama atau setelah peristiwa yang membuat tertekan.

2. Masalah Sistem Pencernaan

Stres dapat menunda pengosongan isi perut dengan mempercepat perjalanan materi melalui usus. Kombinasi aktivitas ini menyebabkan sakit perut dan kebiasaan buang air besar yang berubah. Selain itu, stres psikologis akut menurunkan ambang nyeri seseorang.

Orang sehat biasanya melaporkan mengalami ketidaknyamanan perut atau perubahan fungsi usus saat mereka kesal atau tertekan. Ekspresi yang digunakan untuk mengamankan situasi tersebut dikenal kupu-kupu di perut.

3. Mengacaukan Nafsu Makan

Ketika stres, individu mungkin makan lebih banyak atau lebih sedikit dari biasanya. Makan lebih banyak, atau peningkatan penggunaan alkohol atau tembakau dapat menyebabkan mulas atau refluks asam. Diet yang tidak sehat dapat merusak mood seseorang.

4. Kejang

Kasus kejang jarang terjadi, namun tatap ada yang mengalaminya. Kejang dapat dipicu oleh stres yang intens dan dengan mudah disalahartikan sebagai serangan jantung.

5. Masalah Serius di Perut

Stres dapat meningkatkan jumlah udara yang tertelan, yang meningkatkan sendawa, kembung dan kentut. Bahkan, banyak penelitian menunjukkan bahwa peristiwa kehidupan yang penuh tekanan dikaitkan dengan timbulnya gejala dalam beberapa kondisi pencernaan seperti Penyakit Radang Usus, Sindrom Usus Radang, Penyakit Refluks Gastroesofageal, dan Ulkus Peptikum.

Kesimpulannya, gangguan pencernaan fungsional atau FGID yang membentuk 40 persen kasus gastrointestinal diperburuk oleh stres. Singkatnya, stres dapat menyebabkan banyak gejala gastrointestinal seperti nafsu makan menurun, mual, muntah, bersendawa, kembung, sembelit, diare, sakit perut, dan makan berlebihan.

Hal tersebut menunjukkan bahwa otak dan saluran pencernaan saling berkomunikasi dan hubungan miliki hubungan yang akrab.

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro